Personal and Lifestyle Blog by Rahma

Opini Rahma: Ironi Dibalik Baju Lebaran

Wednesday, June 21, 2017
lebaran

Tinggal beberapa hari lagi kita akan berpisah dengan Ramadhan dan merayakan Idul Fitri, yang biasa kita sebut lebaran. Hari besar umat muslim terbesar, bukan hanya memberikan suka cita atas keberhasilan kita beribadah puasa selama satu bulan, tetapi juga kadang menyimpan ujian besar di dalamnya.

Lebaran adalah ujian. Bagaimana hasil dan kualitas ibadah kita di bulan Ramadhan akan nampak pada hari pertama saat berpisah degannya, di hari lebaran.

Bukan berarti kualitas ibadah aku bagus. Malah mungkin jauh menurun daripada saat aku kecil dulu. Dulu, jika Ramadhan tiba aku selalu khatam Qur'an, ya minimal sekali lah, atau rata-rata dua kali. Sekarang, boro-boro. Malas sekali buka Qur'an. Baca dua halaman sehari saja sudah untung. Ibadah sunah, seperti shalat dhuha dan tarawih jarang terlewatkan. Sekarang? ah sudah jangan ditanya.

Bagaimana saat lebarannya? Justru di sinilah aku berpikir. Saat kecil dulu aku rajin ibadah, namun mana kala lebaran tiba semua sirna. Malah saat menjelang lebaran, aku selalu sibuk berbelanja baju dan makanan bersama ibu. Sering berantem juga karena hal itu. Lebaran tiba, aku rewel. Entah kenapa, pasti saja ada hal yang membuat aku marah dan kesal, sehingga malas bertemu orang.

Padahal bukankah pada hari itu kita harus menyambung silaturahmi, harus lebih sabar dan harus saling memaafkan agar kembali suci, kembali pada fitrah manusia, bersih seperti baju baru?

Sekitar tiga tahun belakangan, di Ramadhan ini memang ibadahku tidak serajin saat kecil dulu. Namun, ada lebihnya saat lebaran tiba. Tidak memikirkan baju baru, kue, angpao. Ada atau pun tidak ada, aku tidak merasa kecewa apalagi marah. Sekarang lebih memikirkan bagaimana menyambung silaturahmi yang terputus, melanjutkan ibadah yang mampu dijalani secara konsisten pasca Ramadhan dan meminta maaf dengan tulus pada orang-orang, terutama Ibu.

Bukan bermaksud memberikan kesan "ah gak apa-apa ibadah dikit yang penting amalan baiknya banyak". Justru itu menjadi motivasi lagi supaya bertambah kualitas ibadahnya. Sudah bagus tidak terlalu berat kepada dunia. Sekarang aku tinggal meningkatkan kualitas ibadah yang sudah mampu aku lakukan dan sekali lagi meningkatkan konsistensi membaca al-Qur'an.

Pada saat tarawih minggu-minggu kemarin, tausyiah-nya membahas tentang hadits perumpamaan bagi orang yang suka membaca al-Qur'an dan yang tidak suka membaca al-Qur'an. Jleb banget. Kira-kira aku masuk ke golongan mana ya?
“Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang mukmin yang suka membaca al-Qur’an seperti buah utrujjah. Baunya harum dan rasanya lezat. Dan orang mukmin yang tidak suka membaca al-Qur’an seperti buah kurma, baunya tidak ada dan rasanya manis. Dan perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Qur’an seperti buah raihanah, baunya lumayan dan rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Qur’an seperti buah hanzholah, tidak memiliki bau dan rasanya pahit.” Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (hadis no. 4632) dan Muslim (hadis no. 1328)
Mari kita lihat sekitar kita. Saat lebaran tiba, berapa banyak orang yang memikirkan amalannya dibandingkan memikirkan lebarannya? Berapa banyak orang yang memikirkan kualitas ibadahnya dibandingkan memikirkan baju barunya? Di antara perumpamaan di atas buah manakah yang lebih banyak bertebaran di muka bumi ini?

Alhamdulillah, ada pengingat seperti ini. Mengingat-ingat masa dulu. Rajin baca Qur'an, amalanya kurang. Harum dari luar pahit dari dalam. Sekarang baca Qur'anya menurun, amalan agak lebih mending. Bau dari luar, agak manis dari dalam.

Menurutku, gak ada mendingnya sih. Namun aku menjadi lebih sadar bahwa membaca al-Qur'an saja tidak cukup. Berbuat baik tanpa baca Qur'an pun tidak cukup. Keduanya harus dijalankan bersamaan. Begitu juga dengan ibadah di bulan Ramadhan. Puasa dan banyak ibadah di bulan Ramadhan saja tidak cukup. Harus diteruskan dan diamalkan di bulan-bulan selanjutnya pula agar terbukti bahwa ibadah di bulan Ramadhan itu sukses. 

Ramadhan adalah latihan untuk umat muslim menjadi seorang mukmin yang ideal, agar harum dari luar dan manis dari dalam. Sudah sepatutnya saat lebaran, seorang muslim bersih dan suci tidak sekedar dari luar saja. Bukan sekedar bersih pakaiannya saja dan tidak hanya di Ramadhan saja. Lahir dan batin, tidak terpisahkan. Di bulan suci dan di bulan lain.

Semoga Allah menerima ibadah puasa kita semua
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkomentar. Tidak ada link hidup di dalam kolom, ya. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel. Keep blogging, keep writing! :D