Personal and Lifestyle Blog by Rahma

Bullying Ancaman Kebinekaan

Wednesday, July 19, 2017
efek buruk tontonan tak berkualitas

Teman-teman sering melihat perkembangan berita lewat medsos? kalau aku termasuk orang yang lumayan sering membaca dan menemukan berita menghebohkan di medsos. Bukan karena aku orangnya kepo, tapi di beranda banyak sekali yang berbagi tautan tentang berita panas. Berita yang membuat hati kesal.

Isu paling menyebalkan saat ini adalah kasus bullying atau kasus merisak di dunia nyata. Baru saja aku melihat video yang entah berapa lama durasinya, aku hanya mampu menonton sekitar 10 detikan (gak kuat, sebal). Isinya sekumpulan anak SMP (sekitar 7 orang) menjambak dan memukul seorang siswi SMP lain secara bergantian dan itu sengaja direkam. Kalau aku sih lebih senang memanggil kelakuan bocah seperti itu "premanisme". Kata bullying yang asalnya dari bahasa inggris terasa lebih keren di tempat kita untuk menunjukkan aksi sampah seperti itu.

Merisak adalah suatu kegiatan premanisme, menindas, yang bisa mengganggu kehidupan bermasyarakat. Sedikit-sedikit main pukul. Sedikit-sedikit main intimidasi. Sepertinya selalu saja ingin mencela kelemahan dan kekurangan seseorang. Ingin menindas dan menguasai suatu daerah.

Parahnya kelakuan itu sudah muncul pada generasi muda Indonesia, para remaja. Mereka adalah orang-orang yang kita harapkan dapat membawa bangsa ini lebih baik di masa mendatang, tapi malah memunculkan aksi sampah seperti itu. Bila kasus merisak ini tidak ditanggapi serius, tidak diberikan solusi dan pengawasan ketat dari pemerintah dan masyarakat, suatu hari nanti "bineka tunggal ika" tinggal lah slogan saja.

Bagaimana tidak? Mental merisak pasti tidak akan senang dengan perbedaan dan cenderung berpikir singkat. Beda sedikit senggol. Senggol dikit bacok! Orang lain tidak diberikan ruang untuk berkembang dan tidak ada rasa tolong menolong sama sekali. Lebih parahnya lagi ternyata masyarakat Indonesia senang dengan kegiatan itu. Buktinya sinetron dan FTV serta tayangan remaja kebanyakan memiliki karakteristik mental merisak dan anti-kebinekaan.

Aku gak mau menyebutkan judul filmnya karena memang tidak ingat, hanya melihat sepintas. Namun, aku masih ingat adegan-adegannya. Adegan yang tidak logis. Adegan yang tidak memunculkan budaya bangsa Indonesia yang ramah dan santun.

Suatu hari seorang anak yang gemar bersepeda melintas di sebuah jalan. Didapatinya sebuah sepeda mahal dan berkelas terparkir. Ia sangat takjub dengan desain sepeda itu. Kemudian ia mendekat dan mengamati dengan kagum tiap bagian sepeda itu. Dandanan dan gerak-gerik anak itu sama sekali tidak terlihat seperti orang kriminal dan jelas diraut mukanya bahwa ia sangat kagum. Tiba-tiba datang pemilik sepeda itu. Tanpa basa-basi ia langsung naik pitam, "ngapain lo deket-deket sepeda gw?" kira-kira seperti itu lah kata-katanya. Sang anak menjelaskan kekagumannya terhadap sepeda sang pemilik. Namun, pemilik itu malah marah dan suudzon. Hingga akhirnya mereka cekcok dan dipisahkan oleh seorang perempuan. Gak ada angin gak ada hujan, si perempuan kira-kira bilang," sudah deh dari pada kalian berantem mending kalian battle. Siapa yang menang dia jadi cowok gw!". Pemilik sepeda keren kalah di battle, eh malah ngajak teman-temannya untuk melawan si anak tadi.

WHERE IS THE LOGIC HERE?

Seperti itukah kaum muda Indonesia? dipuji malah marah-marah. Normalnya sih, kalau ada orang asing yang memuji atau kagum dengan benda yang kita miliki, setidaknya kita basa-basi, "Oh, iya mas ini sepeda saya ada yang bisa saya bantu?" dan berbincang santai. Selepas itu jika obrolan sudah selesai, kita mengucapkan terima kasih dan pergi. Mudah, gampang dan sederhana. Gak perlu lah cekcok, berantem, apalagi sampai merebutkan perempuan.

Dia kan orang kaya jadi begitu deh. Orang kaya itu duitnya memang banyak tapi bukan berarti mereka gak punya otak dan gak punya sopan santun seperti itu. Dulu waktu sekolah, teman-temanku banyak yang berasal dari kalangan mampu. Gak sampai sok jagoan begitu di sekolah.

Cerita serta adegan tidak berlogika dan tidak mencerminkan masyarakat Indonesia seperti di atas bukan satu atau pun dua film, tapi banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak sekali. Belum lagi acara pacaran-pacaran yang alaynya, naudzubillah kebangetan. Memang tidak terasa dampaknya ketika menonton. Yang ada memang asyik menonton orang-orang cantik dan ganteng saling rebutan pacar. Lihatlah sekarang! Hasilnya banyak anak sekolahan yang senang pamer. Senang jadi jagoan dan berkuasa.

Bahasa dan nada bicara untuk sesama dan orang yang lebih tua disamakan. Coba deh, teman-teman perhatikan dialog-dialog serta bahasa tubuh yang diperlihatkan oleh para aktor di sinetron. Rata-rata begitu-begitu saja. Ketika setting di sekolah, murid berbicara pada guru dengan intonasi dan gerak tubuh yang datar, tidak mencerminkan rasa sopan dan hormat. Gurunya juga gak ada wibawanya sama sekali. Tegas disamakan dengan kekerasan dan melotot. Marah disamakan dengan teriakan. Religius disamakan dengan solat. Namun, orang-orang masa bodoh dan tidak memperhatikan itu semua. Yang penting motornya bagus, aktornya ganteng dan cantik.

Kenapa sih yang disalahkan acara TV? Remaja dan anak-anak hanya lah penonton. Apa yang ia lihat akan memberikan inisiasi pada dirinya untuk melakukan suatu tindakan. Kasus risakan di SMP daerah Thmarin itu misalnya, mereka tidak akan melakukan aksi seperti itu jika tidak "diajarkan" atau "ditunjukkan".

Sering sekali aku mendapati adegan dalam tayangan tv remaja, satu remaja dikonfrontasi oleh lawannya beramai-ramai. Mirip dengan video SMP itu. Pada adegan yang aku lihat, satu orang dihakimi oleh tiga orang dan ditonton oleh orang banyak. DITONTON. . .! Itu di ceritanya karena apa coba? karena rebutan cowok/cewek. Karena berpapasan di gang. Karena saling bertatapan. Karena lebih populer. Karena lebih cantik. Karena persaingan dagang. Karena kalah dalam kompetisi. Mental lemah.

Tontonan seperti itu cenderung memberikan contoh kepada penonton untuk berpikir singkat dan tidak berlogika sehat juga. Lebih memunculkan amarah. Ya, contohnya aktivitas merisak juga tidak memiliki logika sehat. Orang yang berbeda pendapat harusnya dihargai dan dihormati. Oranyg yang memiliki kekurangan harusnya kan ditolong. Orang yang mencela dan meledek kita lebih enaknya kan dijauhi, kalau tidak kuat silahkan lapor orang tua, guru, polisi. Bukan main hakim sendiri, dipukul beramai-ramai. Kita gak suka sama seseorang, acuhkan saja. Beres. Simple. Gak usah sok jagoan. Mending pikirin masa depan.

Mereka, remaja, menjadi lebih senang menyelesaikan masalah dengan cara sendiri tanpa bimbingan orang dewasa (orang tua/keluarga) atau orang yang berwenang (polisi/guru dll). Senang menghakimi dan membalaskan ketidaksukaan secara beramai-ramai. Ketika sudah ditangani oleh pihak berwajib, baru lah mereka mewek dan minta tolong orang tua.

Nah, dari karakteristik di atas, sangat mengkhawatirkan jika cikal bakal mental preman ini tidak ditangani serius. Indonesia memiliki kebudayaan berbeda-beda di setiap daerah. Bayangkan jika karakter main hakim sendiri dan intimidasi terpupuk dan dipertontonkan terus menerus. Bagaimana kiranya masa depan bangsa kita nanti jika masyarakat kita senang merendahkan dan mengintimidasi satu identitas berbeda?

Aku sangat peduli dengan apa-apa yang terjadi pada perilaku remaja dan anak sekolah saat ini. Bukan hanya karena tugasku seorang pengajar, tapi juga karena aku punya dua keponakan yang bisa dibilang memiliki masalah remaja. Tayangan yang mereka senangi adalah sinetron-sinetron dan FTV remaja itu loh. Hingga akhirnya salah satu dari mereka beralih ke Youtube. Acara apa yang ia tonton di Youtube? video seseorang yang main game yang isinya "what the flip, what the fk, co*eg, kamf**ret dll". Waduh kita krisis tontonan anak-anak nih.

Aku tidak mau lebih banyak lagi remaja yang bertingkah seperti itu. Dua keponakanku itu saja sudah bikin pusing dua isi rumah dan satu sekolah. Apalagi seluruh remaja Indonesia. Satu negara haruslah bergerak, dari lapisan atas hingga bawah.

Aku kira pemerintah juga harus berbagi perhatian tentang masalah kebinekaan. Bukan hanya ideologi yang ingin menggantikan Pancasila yang perlu ditangani, masalah remaja seperti kasus kekerasan, bullying atau merisak mohon diberi perhatian lebih karena itu juga ancaman untuk kebinekaan. Kejadian itu adalah indikasi bahwa ada masalah besar di pendidikan dan aktivitas bermasyarakat kita. 

Baik. Masalah ini adalah masalah kita bersama, utamanya orang dewasa sebagai contoh dan rumah sebagai pendidikan dasar. Rumah utamanya haruslah memiliki fondasi yang kuat dalam mendidik setiap anak sebelum ia terjun ke zona masyarakat. Dimulai dari membersihkan tontonan tak berkualitas yang tidak mencerminkan budaya Indonesia yang ramah, sopan dan pancasilais, serta segala tontonan yang mencerminkan perilaku SOK jagoan, tak berlogika sehat. Kemudian tunjukkan tontonan kegiatan sehari-hari yang berperilaku teladan baik, berlogika sehat dan menggunakan bahasa pada tempatnya.

Mereka, remaja, adalah tunas bangsa. Jika mental generasi muda Indonesia rapuh seperti itu, saatnya mengucapkan perpisahan pada kebinekaan dan jangan pula heran jika tiap pemilu masyarakat ribut melulu. Beda dikit bully, bacok!

Boleh berbagi pendapatnya, teman-teman? santun. No. esmosi.

Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkomentar. Tidak ada link hidup di dalam kolom, ya. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel. Keep blogging, keep writing! :D