Personal and Lifestyle Blog by Rahma

#Opini Rahma: Menyesal Mengenal Afi

Wednesday, July 12, 2017
Menyesal Mengenal Afi Nihaya Faradisa

Dunia media sosial sedang gempar dengan kemunculan video sesosok anak SMA bernama Afi Nihaya Faradisa, biasa dikenal dengan nama Afi. Awal kemunculanya, kalian sudah pasti tahu lah. Dia menulis status tentang. . .  apa ya? aku lupa euy hahaha yang jelas "You are what you eat". Itu saja yang aku ingat dari tulisanya. Habis dari tulisan itu, cuma kalimat bijak itu saja yang ngena di kehidupanku. Aku pun ngangguk-angguk, setuju. "Bagus ini anak, mau mikir. Gak hanya asal update status."

Sampai sekarang Afi ini masih eksis di berita dunia maya dan masih menghebohkan. Aku iri banget sama dia. Iriiii banget. Walaupun masih belia, dia mampu menulis dengan cantik. Dia mampu menjadi seorang pembicara. Dia sudah diundang ke istana. Dia sudah berfoto dengan orang ternama. Dia pun sudah banyak yang memuja.

Iya, benar. Aku iri dengan Afi. Setiap dia menuliskan status atau pun tulisan ringan. Orang-orang membaca dan memperhatikan. Namun, tidak sedikit pula yang iri sepertiku atau sinis seraya melontarkan komentar-komentar buruk. Entah itu semua membuat dia tinggi hati, takut atau nervous, lama-lama tulisannya agak ngawur. Terlalu bebas dan tidak indah lagi. Terakhir aku membaca tulisannya tentang "Warisan" itu loh. Kata-katanya gak inget HAHAHA dasar Rahma. Yang aku inget perasaan ketika membacanya.

Dari awal hingga akhir, hatiku menggeleng-geleng saja, "No, seharusnya tidak seperti itu. Maksudnya tidak seperti itu." Kata-katanya masih indah, tapi pesan yang aku tangkap tidak seindah kata-katanya. Mungkin, perasaan seperti itu juga muncul kepada pembaca lain, hingga postingan statusnya berubah menjadi kontroversi. Ada yang tambah memuja ada juga yang sepertiku, "kok anak ini jadi begini?"

Banyak orang yang kemudian menghujat dan membully dia lewat dunia maya. Bahkan hingga berniat membunuh. Wah, wah kelewatan. Terlepas dari masalah karya plagiatnya, aku hanya kurang suka nada pesan yang tertuang dari tulisan "Warisan" itu, tapi kalau harus menghujat dan membully-nya, itu bukan jalan yang benar. Alangkah baiknya jika ia diingatkan dan dinasehati secara halus tanpa mengeluarkan kata-kata "mutiara" yang keras apalagi menghinakan. Lebih jauh lagi disemangati untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Nanti ketika ia sudah mengerti, dia pasti akan mengkaji tulisannya sendiri.

Sejauh itu, aku masih melihat Afi sebagai anak yang pandai, sederhana dan berbeda dari yang lain. Seorang anak muda yang hanya ingin mengungkapkan kegelisahan dan kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar, tanpa menginginkan suasana viral. Sejauh itu, aku menganggap Afi adalah anak yang berhati-hati dan tidak alay.

Kemudian, berubah lah itu semua ketika tersebar video live Facebook Afi yang sedang curhat dalam bahasa inggris. Beberapa kali aku cek Google, bertanya. Apakah ini Afi yang viral itu? Atau mungkin ini orang yang mirip Afi saja yang sedang parodi? Perasaan berubah seketika Google menjawab, "itu AFI 'Warisan'."

Dulu aku hanya mengenal Afi lewat foto dan tulisan. Sekarang aku mengenal Afi lewat video juga. Aku bisa melihat ekspresi wajah lebih dinamis. Mendengar suara dan nadanya. Ekspresinya, kata-katanya, cara bicaranya. Aku menyesal melihat video Afi. Mungkin orang-orang sudah melihat Afi lewat video di Tv atau talkshow sehingga gak terlalu kaget. Lah, aku yang malas menonton ini itu dan pertama kali melihat Afi lewat video, merasa menyesal menontonnya. "Ini anak lagi mabok?"

Kata-kata itu secara spontan melintas di kepalaku, tanpa terucap. Cepat-cepat aku istighfar. Lantas, ku perlihatkan juga video curhat Afi itu kepada kakakku. Baru juga jalan beberapa detik. Dia langsung mengembalikan handphoneku dengan muka "video apaan ini?". Fix. Kami berdua berpendapat video itu GJ alias gak jelas.

Kemudian aku coba menerka apa yang terjadi terhadap Afi. Kenapa seseorang yang awalnya terlihat dewasa dalam berpikir berubah menjadi seseorang yang tidak jelas dalam berbicara seperti itu. Pertama, tentu saja aku mencari tahu kata-kata yang terlontar di video.

Banyak netizen yang membandingkannya dengan video Amanda Todd, seorang remaja yang bunuh diri karena tidak kuat menanggung bullying. Kata-katanya sama percis, namun di video Afi ada beberapa kalimat yang dilewat. Lagi-lagi orang-orang menganggap Afi plagiat. Namun, aku belum mau mempermasalahkan perilaku plagiarisme, tapi lebih fokus pada "apa tujuan dia mereka-ulang video Amanda Todd?"
How you can bash someone, i have one question for you people, one question. How can you bash someone so much and so hard and so constantly, that someone wants to fvckin die, how can you do that ?
Orang-orang malah ramai memberitakan plagiarisme tanpa membahas sedikit pun tentang maksud Afi membuat video itu. Memang video-nya membuatku ilfeel. "Ekspresinya enggak banget, alay, lebay." Tapi yang paling penting adalah apa sih maksudnya?

Mungkin Afi ingin menyampaikan pesan, "Kalian yang selalu mengkritik dengan hinaan dan kata-kata kasar telah membuat hidupku tidak nyaman. Seorang Amanda Todd yang dibully terus-terusan pun akhirnya lebih memilih meninggalkan kehidupan. Aku pun bisa saja mengambil keputusan seperti yang ia lakukan. Berucap baiklah sebelum aku berubah menjadi lebih buruk lagi."

Dan setelah aku melihat akun facebooknya, di postingan terakhir, Afi sedang membahas suatu kasus cyberbullying dan mencontohkan kasus Amanda Todd. Mungkin oleh karena itu, dia mereka ulang video Amanda Todd lengkap dengan transkrip yang sama. Di akhir postingannya ia menuliskan "Afi Nihaya Faradisa, The Survivor of Cyberbullying." Dia bukan korban bullying tapi seseorang yang menentang bullying. Mengajak orang-orang untuk mengenal Afi secara nyata bukan hanya di dunia maya.

Jika hanya mengenal seseorang lewat sepenggal cerita dan komentar-komentar negatif. Sudah dipastikan kita hanya akan menyesal telah mengenalnya. Sama sepertiku yang menyesal mengenal Afi lewat tulisan "Warisan" dan video Facebook live-nya. Mungkin beberapa orang yang sangat sinis dan terlanjur tidak menyukai, perlu sedikit berbincang bersama secara langsung dengan Afi dibarengi teh dan kopi :)

Hati-hati. Bagi kita semua sebagai masyarakat tentu jangan terlalu memberikan dia pujian dan kritikan berlebihan. Itu akan menjadi beban bagi seseorang, apalagi bagi seorang remaja. Sekuat apa pun mental Afi, sekarang ia adalah orang yang dikenal masyarakat banyak. Segala ucapan dan perilaku bahkan komentar serta berita tentang dirinya bukan hanya akan berimbas pada Afi tetapi juga pada banyak orang. Terutama kalangan remaja yang mentalnya labil.

Pernah lah kita semua menjadi seorang remaja. Dimana pada masa-masa itu kita menemukan hal yang dianggap "keren" atau bagus. Tunggu lah beberapa tahun kemudian dan buka kembali hal-hal dan perilaku yang dulu kita anggap keren itu. Pasti berubah jadi "ilfeel", "ihh gw dulu alay banget ya."

Begitu pun dengan komentar terhadap kasus Afi ini. Bisa jadi sekarang kamu menghujatnya atau pun memujinya habis-habisan. Tunggu lah beberapa waktu kemudian, setelah banyak membaca dan berpikir. Semua tingkah laku, jejak sosial media akan terlihat "usang". Kita pun akan meminta waktu untuk diputar kembali. Mencoba untuk memperbaiki.

Jangan berikan tugas "panutan" hanya kepada Afi seorang. Mari kita berbagi beban dengan Afi dalam mengemban tugas sebagai "panutan". Bukan Afi saja, tapi kita semua seharusnya memberikan contoh yang baik terhadap generasi bangsa. Dimulai dengan memberikan kritikan yang membangun. Jangan mau minta waktu untuk diulang kembali hanya untuk meratapi dan memperbaiki.

Aku memang menyesal telah mengorek dan membaca semua berita tentang tulisan serta kehidupan pribadi Afi lewat berita dan komentar negatif tentang anak itu. Dari awalnya aku suka, berubah menjadi tidak suka. Namun, tidak pantas jika aku harus ikut menjelek-jelekan dia. Sedangkan, aku sendiri belum mampu berkelakuan dan berkarya lebih baik dari Afi.

Sekiranya dengan "mengenal" Afi hidup dipenuhi rasa iri, rasa tidak suka dan rasa bangga berlebihan, lebih baik berhenti "mengenal"-nya.




Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkomentar. Tidak ada link hidup di dalam kolom, ya. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel. Keep blogging, keep writing! :D