Personal and Lifestyle Blog by Rahma

Guru Bahasa di Era Digital

Sunday, September 17, 2017
Kemampuan seorang guru bahasa

Kuliahnya sudah mulai terasa menyibukan. Padahal baru menginjak pertemuan kedua, tapi tugas di setiap mata kuliah pasti ada. Tugas presentasi selalu saja menjadi yang paling menyebalkan. Sayangnya, kegiatan itu akan terus ada mulai dari sekolahan hingga kuliah karena prinsip pembelajaran menurut pearturan pemerintah adalah student learning centered. Murid yang mencari tahu dan dia pun yang akan mendiskusikannya bersama teman di kelas.

Presentasi kelompok yang sudah diatur, aku masih baik-baik saja. Namun, apa jadinya jika presentasi ini individu dan ditentukan dengan "siapa cepat dia dapat". Sebagai seorang yang semi-introvert jujur aja, pola belajar seperti ini tidak menyenangkan. Walaupun memang betul, itu bisa memaksa seseorang untuk tidak takut membuat kesalahan ketika presentasi. "mau gak mau harus tampil", tapi buatku pola belajar seperti ini tidak menyenangkan. Sedangkan selama ini aku belajar karena subject menyenangkan. Mungkin pada akhirnya, orang yang gak suka tampil di depan kayak aku ini akan tereleminasi di kemudian hari atau mungkin sikap "tidak suka tampil" ini yang akan tereleminasi. Well, who knows, I prefer the second option.



Nah, karena dipertemuan kemarin aku belum bisa tampil ke depan, aku mempublikasikan hasil belajar dan opiniku di blog ini saja. Ada tiga pertanyaan yang diskusikan:
  1. Mengapa guru bahasa berpotensi menempati maqom tertinggi di antara guru-guru?
  2. Apa yang perlu dipersiapkan oleh guru di era digital?
  3. Bagaimana cara untuk mengusung permendikbud nomor 65 tahun 2013?
Semua pertanyaannya masih dalam bahasa Indonesia saat pertama diberikan. Aku kira ketika presentasi pun akan diminta dalam bahasa Indonesia. Eh, he asked us to deliver the presentation in English. Tambah gak mau ke depan, language anxiety. Aku tipe orang yang harus selalu mempersiapkan. Satu saja terlewatkan, ohhh paniknya minta ampun. Dengan kelas-kelas seperti ini mudah-mudahan aku lebih bisa mengendalikan rasa panik dan gugup serta lebih leluasa untuk belajar. 

Baik. berikut pendapatku untuk ketiga pertanyaan di atas. Masih dalam bahasa Indonesia, but it's okay, yang penting kalian paham. Your opinions are welcomed.

Guru Bahasa Berpotensi Menduduki Maqom Tertinggi di antara Guru-Guru
Sangat tidak mungkin melepaskan bahasa dari perkembangan peradaban manusia. Segala hal dalam kehidupan ini sangat erat kaitannya dengan bahasa. Bahasa bukan hanya digunakan sebagai alat berkomunikasi saja melainkan juga media untuk berfilsafat atau berfikir. Ketika seseorang berfikir, hendak mengindentifikasi masalah, pertama-tama ia akan bertanya. Proses bertanya itu sendiri menggunakan bahasa, “apa penyebabnya? Apa manfaatnya? Bagaimana proses ini terjadi?”. Manusia mulai berdialog dengan dirinya sendiri untuk mengidentifikasi dan memahami masalah, kemudian memecahkannya. Proses inilah yang kemudian melahirkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, bahasa digunakan lebih jauh oleh manusia untuk memahami. Di sini kemampuan bahasa tidak lagi diartikan kemampuan merangkai kata dan simbol saja, melainkan juga kemampuan berfikir, memahami dan menarik kesimpulan. Ketiga proses itu tentu sangat berpengaruh pada performa seseorang dalam belajar, bekerja dan berkehidupan. Maka tidak heran dengan kemampuan berbahasa yang sangat baik seseorang akan memiliki kualitas hidup yang baik dan mampu mencapai kesuksesan lebih baik dalam proses belajar dan bekerja. 

Penjabaran di atas membuat bahasa dianggap sebagai langkah awal untuk mendapatkan pengetahuan. Maka seorang guru bahasa yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik memiliki tempat paling tinggi dalam pendidikan. Ia akan menuntun siswa untuk meningkatkan kemampuan berbahasa sebagai langkah pertama dalam mendapatkan ilmu-ilmu lainnya. Tanpa kemampuan bahasa yang baik, siswa tidak akan mampu memahami ilmu lain dengan baik pula. 

Persiapan Seorang Guru Bahasa di Era Digital
  1. Setidaknya seorang guru perlu memiliki empat dasar kompetensi yang tertuang di PP 19 tahun 2005: kompetensi pedagogi, kepribadian, sosial dan profesional. Dengan empat dasar kompetensi itu diharapkan guru mampu mempersiapkan murid menghadapi kebutuhan sesuai zamannya. Di abad ke-21 ini, siswa diharapkan memiliki wawasan luas, kemampuan bekerja dan softskills, kemampuan belajar dan berinovasi, kemampuan mengoperasikan media dan teknologi. 
  2. Guru perlu merubah prinsip pembelajaran dari murid diberitahu menjadi murid mencari tahu. Mengembangkan model pengajaran pembelajaran aktif yang menuntut siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran. Siswa menjadi pelaku utama dalam proses pembelajaran dan aktif mencari tahu agar siswa berfikir kritis, mampu berkolaborasi dan berkomunikasi dengan sesama teman serta bisa mengembangkan kreatifitasnya. Guru hanya sebagai pendamping atau pengawas. 
  3. Tuntutan era digital mengharuskan materi pembelajaran relevan dengan dunia yang akan ditempuh siswa di dunia nyata. Bahasa, terutama bahasa inggris, memiliki banyak peran di berbagai sektor seperti bisnis dan pendidikan. Maka dari itu, guru harus mampu membuat konten atau materi pembelajaran yang memandu siswa mendapatkan kemampuan berbahasa yang diperlukan. Dimulai dari bahasa inggris sebagai percakapan umum, siswa mampu menggunakan bahasa inggris untuk kegiatan sehari-hari. Kemudian menggunakan bahasa untuk kepentingan akademik, membaca jurnal dan menulis essay. Selanjutnya siswa dipersiapkan untuk menggunakan bahasa pada konteks profesoional seperti presentasi, membuat laporan, dan mengikuti seminar. 
  4. Kecakapan dalam menggunakan teknologi mutlak diperlukan. Bukan hanya sekedar mampu mengoperasikan tetapi juga bisa menggunakannya dengan bijak untuk kepentingan proses belajar mengajar. 
Mengusung Permendikbud no. 65 tahun 2013
Untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang diusung oleh permendikbud nomor 65 tahun 2013, seorang guru harus memiliki empat kompetensi yang tertuang dalam PP 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, pasal 28 poin tiga (3): Kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Hal tersebut berlaku bagi semua tenaga pendidik di semua tingkat pendidikan, dimulai dari pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Sehingga seorang pendidik atau guru dituntut untuk memiliki keempat kompetensi tersebut. 

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas. Kompetensi ini meliputi kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan, menguji, mengembangkan kegiatan refleksi dan tindak lanjut secara efektif. Seorang guru dengan kompetensi pedagogik yang baik adalah seorang tentara yang menguasai medan tempur. Ia mampu mengenali siapa siswanya dan mengenali kebutuhan kelas untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran tidak hanya sekedar menulis dan menghafal, tetapi jauh lebih itu tercipta pembelajaran yang bermakna karena guru memiliki kemampuan merencanakan dan mengorganisir pembelajaran: apa yang diajarkan, sumber, metode dan teknik pembelajaran serta alat uji seperti apa yang akan dipakai telah dipilah dan dipersiapkan. Secara singkatnya kompetensi pedagogik menjawab masalah ‘bagaimana mengajar dan belajar’. 

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan memunculkan karakter unggul. Tentu sebagai manusia kita tahu gambaran karakter unggul itu seperti apa, karakter yang tidak bertentangan dengan nilai moral: jujur, sabar, disiplin, bertanggung jawab dll. Berkepribadian unggul adalah hal yang paling mendasar dari seorang guru karena mereka menjadi teladan dan dilihat oleh siswa secara langsung. Bukan berarti guru harus menjadi seorang manusia sempurna. Namun, guru haruslah pandai bertindak. Karena karkater merupakan sesuatu yang relatif stabil dan permanen, maka seseorang yang berkarakter unggul akan mampu memunculkan karakter tersebut bukan hanya di lingkungan tempat ia mengajar tetapi juga di kehidupan sehari-harinya. Dengan karakter unggul ini diharapkan pendidikan menghasilkan siswa berkarakter, tidak hanya pandai secara intelektualitas saja tapi juga moral. 

Kompetensi sosial adalah kemampuan berkomunikasi dan menjalin hubungan harmonis dengan orang lain. Bagi seorang guru sangat penting untuk menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat sekolah (siswa, guru lain, pegawai sekolah beserta orang tua murid) agar terhindar dari kesalahpahaman, apalagi kekerasan dalam pendidikan. Hal kecil yang mampu mengembangkan kompetensi sosial ini adalah dengan memberikan apresiasi terhadap usaha/kebaikan sederhana yang dilakukan orang lain. Komunikasi buruk antara guru dan siswa di kelas akan membunuh ‘nyawa’ kegiatan pembelajaran. Proses pembelajaran tidak hidup dan penuh dengan paksaan. 

Kompetensi profesional adalah kemampuan yang menunjukkan pemahaman guru atas mata pelajaran yang dibina. Sebagai guru bahasa inggris, maka guru itu harus mampu berkomunikasi dan mengetahui ilmu dalam bahasa inggris, begitu pun dengan guru mata pelajaran lain. Setidaknya seorang guru harus mampu menguasai cakupan ilmu bahasa inggris dalam permendiknas no. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi Mata Pelajaran Bahasa Inggris. 


Reference
Suherdi, Didi. 2013. Buku Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Profesi Guru Bahasa Inggris: Bahan Ajar Pemantapan Kompetensi Akademik. Bandung: Celtics Press

Suherdi, Didi. 2012. Rekonstruksi Pendidikan Bahasa: Sebuah Keniscayaan bagi Keunggulan Bangsa. Bandung: Celtics Press

Suherdi, Didi. Towards the 21st Century English Teacher Education: An Alternative Model.

Di minggu-minggu seterusnya, aku berencana untuk mempublikasikan hasil perkuliahan di blog ini sebagai salah satu arsip digital. Selain itu, jika ada yang membaca, aku juga mengharapkan opini lain untuk menambah pengetahuan dan pemahamanku. 

Semoga bisa bermanfaat. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya. 

Baca juga:

1 comment on "Guru Bahasa di Era Digital"
  1. Iya terlepas dari apapun profesi kita, bahasa asing, minimal bahasa Inggris baiknya dikuasai. Kalau untuk seorang guru, siapa tau nantinya ada tawaran beasiswa ke luar negeri, sayang kan kalau gagal cuma kendala bahasa.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkomentar. Tidak ada link hidup di dalam kolom, ya. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel. Keep blogging, keep writing! :D