Personal and Lifestyle Blog by Rahma

Hal-hal yang Membuatku Bertahan Belajar di Kelas

Sunday, October 8, 2017
yang membuat murid datang ke sekolah

Tulisan kali ini membahas seputar faktor yang mempengaruhi belajar di kelas. Ide ini muncul setelah kemarin memberikan presentasi berkenaan dengan M.O.T.I.V.A.S.I siswa. Si motivasi ini secara sederhannya adalah suatu alasan atau dorongan untuk memutuskan sesuatu dan mengambil tindakan guna mencapai suatu tujuan. Dalam perjalanku sebagai seorang siswa *uhuk* ada beberapa faktor kuat yang bisa meningkatkan motivasi untuk belajar di kelas. Menurut para ahli, faktor pengaruhnya sih banyak banget. Namun, berhubung blog ini punyaku, biarlah aku sajikan dari pengalamanku saja. Sekalian curhat. hehe :D

Guru kocak
Tipe guru seperti ini adalah guru favorite anak-anak sepanjang masa. Ada dua kategori sih, guru kocak dan bikin ngerti. Ada juga kocak tapi gak ngerti sama sekali sama mata pelajarannya 😁 Buatku gak masalah mata pelajarannya gak ngerti, yang penting kelas seru hahaha. . . #parah

Waktu kuliah S1 dulu ada satu dosen yang selalu saja membuat aku menangis di kelas gara-gara candaanya. Kalau bisa aku mau guling-guling di lantai aja deh. Di awal mata kuliah itu gak terlalu asik sih. Namun, karena si ibunya menyenangkan, mengajar dengan hati, apalagi wajahnya sangat ekspresif, kelas menjadi menyenangkan dan aku selalu semangat untuk mengikuti. Well, kebanyakan dosen/guru perempuanku itu killer. Makanya dia dosen spesial buatku.

Later, aku bertemu lagi dengan ibu dosen itu di sebuah seminar. Well, mungkin dia tidak ingat namaku, tapi dia masih mengakuiku sebagai muridnya kok hehehe and she is still the same, raut dan ekspresi wajahnya bahkan kelakuannya yang terbuka and super friendly serta centilnya makin meningkat hahahaha πŸ˜‚. Dia hadir dengan anak perempuannya, as I expected anaknya secerdas ibunya. Beruntung punya ibu yang bisa dijadikan teman seperti dia.

Teman kocak
Teman sebagai bagian dari orang-orang dekat alias significant others (kata Harmer, 2007 dalam the Practice of English Language Teaching) tentu saja memiliki peranan penting di kelas. Tapi teman seperti apa yang aku punya? Teman dekat baru aku dapatkan waktu SMA kelas dua mungkin. Satu teman perempuan paling absurd di kelas dan di kehidupan aslinya dia gak tahu malu. Punya suara gede dan ketawanya khas. Pokoknya berkebalikan denganku, tapi anehnya kita klop.

Satu teman lelakiku orangnya kuper dan kutu buku. Walaupun agak serius, dia baik sama semua orang dan sangat peduli dengan bidang akademis. Sudah pasti orang macam ini akan selalu klop denganku, sama-sama senang belajar. Dia punya perawakan yang luar biasa tinggi. Kalau jalan denganku, aku kelihatan kaya hewan peliharaannya. Kan aku pendek bingits... 😭

Lanjut ke masa kuliah. Ternyata teman-temanku gak jauh-jauh dari kata absurd dan buku. Di kuliah S1 ini teman dekatku tambah banyak, ya kira-kira 3-4. Lumayan kan? ehehehe buatku segitu udah banyak loh. Dibanding SD sama SMP haha paling juga 1-2. Kebanyakan dari mereka senang baca novel dan ada satu teman yang kadang sudut pandangnya beda dari yang lain dan senang dengan hal ganjil, semacam yaoi anime. Do you know 'yaoi'? googling gih,,,

Kalau sudah bertemu mereka, pasti selalu saja ada hal yang menjadi bahan tertawa. Dan aku baru sadar, ketika di kelilingi makhluk-makhluk astral seperti mereka that's when I feel comfortable and I can speak freely about something I could not talk πŸ˜‚. Bahkan aku mulai membuat candaan. Bersosialisasi terasa lebih mudah. Belajar menjadi menyenangkan. Tugas menjadi lebih ringan.

Sebelum bertemu dengan mereka aku lebih sering mendengarkan cerita teman. Diam saja, kecuali kalau ada yang nanya aku ngomong. Aku tahu lah. Dengan sikapku yang serius ini, dulu mereka agak segan dan cenderung mengurangi frekuensi penggunaan kata-kata kasar. Duh... kenapa masa mudaku 'kelam' ya? Tapi untunglah teman-temanku orangnya baik-baik dan kocak 😊 Apalagi kalau sudah saling lempar ejekan (joke) di kelas. Semua ketawa-ketawa hingga aku pun mengeluarkan air mata. Ya Tuhan, that's the best feeling I ever had. πŸ˜‚ Rindu... kapan bisa ketawa seperti itu lagi.

"Cie.. cie" efek
Gak ada cinta, hidup terasa mati kan ya? πŸ˜‚ apa lagi kita dulu, sekumpulan anak-anak remaja yang tiap hari berinteraksi di kelas sudah pasti memiliki ikatan tertentu baik itu friendship or relationship, atau bisa juga joke relationship hahaha. . . selalu aja ada dua orang yang suka di"cie-cie"in di kelas. Mau mereka saling suka atau enggak, aku mah senang banget lihat orang digituin πŸ˜„. KECUALI kalau aku yang digituin, aku gak suka *eh curang ya... Ujungnya sih ada yang jadian ada juga yang cuma jadi bahan bullyan. Aku lebih suka yang jadi bahan bullyan, biar bisa ngetawain orang wkwkwk #rahmajahat 😝 Aku gak suka dijodoh-jodohin karena????

Pernah, waktu SD aku dijodoh-jodoh-in sama satu anak, dari kelas 3 atau 4 sampai kelas 6. Efek ini rada nyebelin sih, aku sama dia dari temenan malah jadi berjauhan. Puncaknya di kelas 5 dan 6, udah bisa dikatakan kita hampir tidak pernah mengobrol lagi. Takut di-cie-cie-in T__T Makanya gak mau aku digituin. Bukan menambah dekat tapi menjauhkan.

Apa pacar menjadi salah satu faktor yang membuat rahma bertahan belajar di kelas?
Rada males euy punya pacar. Dulu punya pacar sekelas, ihhhh awkwardnya. Cepet-cepet minta putus >__< mumpung masih sebatas penasaran wkwkwk 😁 entah lah, dulu gak suka banget kalau udah dideketin sama teman laki-laki yang punya perasaan khusus. Entah takut atau terlalu senang, pokoknya tidak nyaman.

Parah nih waktu SMA kelas 1, ada satu anak yang terang-terangan banget ngedeketin. Sekelas lagi. Cara ngedeketinnya emang gak lebay, to the point euy, serius. Jadi teman di sekitarku juga gak 'berisik cie-cie', karena mereka tahu it's seious matter. Responku kaget lah, 'apaan sih ini anak?' Kan aku udah ngasih sinyal dan jawaban 'hanya sebatas teman', tapi kok masih aja datang lagi, datang lagi. Nanya lagi dan lagi. Terlihat annoying, tapi untungnya dia gak jahat. Sudah aku tolak, dia tetap baik dan berperilaku normal 😊. Bertahun-tahun berlalu, baru sekarang aku punya rasa salut sama dia. Begitu berani mengungkapkan perasaan pada orang yang dia suka. Sedangkan aku? dipendam saja lah. . . silent way πŸ˜‚ biar gak ada kata "cie.. cie.."

Kalau teman di atas mengungkapkan secara langsung dan gamblang, ada juga yang mengungkapkan lewat sms dan telepon. Lewat nada sms yang aku terima, udah bisa ditebak ini arahnya kemana. Sebelum itu terjadi, langsung aku potong aja, 'udah ya aku mau tidur dulu...'. Kalau dia mau telepon, aku bilang 'aduh, maaf ya Kang, aku gak bisa angkat telepon, lagi sibuk'. Apa lah alasannya agar aku gak dengar kata-kata penembakan. . . duuuuuaarrr #rahmajahat !!! iya euy, dipikir-pikir aku jahat juga.

Apa salahnya sih mendengarkan isi hati laki-laki? 😟mungkin karena aku gak sanggup harus mengeluarkan kata-kata penolakan πŸ˜‚ lagian ada satu temen di atas yang emang ngasih sms bernada penembakan ke banyak perempuan, temen-temenku pula. Di situ lah aku merasa beruntung gak masuk jebakan sms maut πŸ˜‚

Udah lah ya, ngomongin masalah yang gini mah gak akan ada habis-habisnya. Intinya cie-cie efek ini aku nikmati di kala temanku mendapatkan 'penderitaan' dari efek itu wkwkwk πŸ˜‚ Mari kita lanjut ke faktor berikutnya saja lah. . .

Pelajaran bahasa selalu dapat nilai gede 
Iya, ketertarikan terhadap bahasa merupakan motivator intrinsik. Kalau sudah tertarik, mau gurunya seperti apa pun aku gak masalah, dan bahasa adalah mata pelajaran yang paling aku sukai karena gak harus berhitung dan menghafal. Menghafal kata-kata? enggak, ketika aku belajar bahasa, aku tidak menghafal tapi menggunakannya dalam sebuah kalimat bermakna πŸ˜‰

Bahasa apa aja yang aku suka? belajar bahasa apapun, lebih senang dengan bahasa asing sih. Pernah belajar bahasa Jerman, Inggris, Jepang. Alas... cuma bahasa inggris aja yang bertahan dan digunakan hingga sekarang. Yang lainnya terkubur hidup-hidup 😒

Ada juga sih bahasa asing yang kurang aku suka dan gak tertarik untuk dipelajari, yaitu bahasaaaaa Arab πŸ˜‚ ya Tuhan, maafkan diriku ini yang seorang muslim lagi. Arab Qur'an no problem, aku masih bisa membaca dan mendengarkan. Tapi kalau orang Arab ngobrol dan bernyanyi . . . no thank you. Gak benci sih, cuma prefer not. Padahal dulu aku disuruh-suruh belajar bahasa Arab sama bapak. Ah,, udah ahh pusing aku. Apalagi lihat tulisan Arab gundul,, aduh, itu bacanya kayak gimana. . . 😟 Waktu kecil pun cuma aku satu-satunya anak bapak yang gak lulus sekolah madrasah wkwkwkwk P.A.R.A.H. Baru masuk satu hari udah minta berhenti. 'Gak kuat aku pak, kebanyakan istilah Arabnya..'

Berbeda dengan pelajaran lain di sekolah, rasanya belum pernah aku remedial atau pun mendapatkan nilai di bawah 8, jarang lah. Dengan nilai bagus itu, aku semangat sekali kalau ada ujian bahasa 😁 satu-satunya ujian yang aku yakini akan lulus!

Orang tua
Orang tua adalah satu dari dua faktor, selain Tuhan, yang menyebabkan aku turun ke bumi. hehe Maka tidak heran mereka juga yang menjadi faktor utama aku sekolah. Terlepas dari baik-buruknya efek yang didapat. Here is the story. . .

Waktu kelas 3 menjelang UN, aku berada di ujung tebing dan siap untuk jatuh. Ada sedikit masalah dengan guru. Sedikit sekali. Cuma aku merasa sakit hati dengan bahasa dan cara menangani komplain oleh guru itu. Ahh lagi-lagi si aku gampangan banget nangis. Besoknya aku tidak sekolah. Tidak kuat kalau harus melihat muka guru itu lagi. Ingin banget aku bunuh. Hussh, just thought. Jadi, pagi-pagi aku diam saja di kamar. Ibu tanya, "Dede sakit?" aku jawab saja iya. Trus aku nangis karena aku tahu itu bohong.

Melihat itu, ibu bertanya lagi "Dede kenapa?". Aku jawab "ingin pindah sekolah, aku gak betah...". Ibuku kaget lah, udah mau UN juga tiba-tiba mau pindah sekolah. Entah bagaimana kejadianya, pagi itu tiba-tiba bapak pulang lagi ke rumah. Mungkin ibu menelepon. Trus mereka ngobrol bla bla bla... yang ku dengar hanya samar dan hantaman keras. "dor.." bukan suara tembakan. Bapak baru saja memukul lemari. Terdengar suaranya meninggi. Belum pernah bapak marah seperti itu. Mungkin dia tak habis pikir, "kenapa ini anak! sudah masuk sekolah favorit minta pindah? Sedikit lagi mau lulus, malah mau menyerah? sudah diantar jemput sama bapaknya, masih aja mau bolos?"

Aku kaget dengan reaksi bapak. Menakutkan. Pertama kali aku melihatnya. Diam di rumah dengan suasana mencekam juga tidak ada enaknya. Sejak saat itu aku paksakan pergi ke sekolah hanya untuk lulus UN saja. Selebihnya aku tidak tertarik belajar, tidak tertarik dapat nilai besar, yang penting lulus. Apalagi lanjut kuliah, huft. Tapi ya begitu lah... semuanya berakhir pada pengharapan orang tua. Hingga sekarang aku lanjut ke S2. Entah sampai kapan aku bisa bertahan...Hanya agar tidak melihat orang tua marah I'll do my best. Is it bad? hmmm. . . Perhaps I also enjoy studying because I cannot do something better than that.
------------------------------------------------------------ || ----------------------------------------------------------



Udah segitu aja. Dikit banget kan ya? Malah dua diantaranya cuma kocak dan kocak. Itu karena aku tipe orangnya terlalu penakut, pesimis dan kaku. Kalau diberi tanggung jawab seperti tugas dan PR,  sebelum mengerjakan, pasti akan banyak mikir dulu, "ini tugas digimanain ya? dijawab ini dulu apa itu dulu? jawabannya ada di halaman berapa? OMG, gak ada di buku, aku harus nyari kemana? takut salah, takut guru. Kayaknya aku gak bisa deh... apa aku bolos sekolah aja ya ntar?"

Belum juga dikerjakan, sudah menyerah dalam pikiran. Makanya, aku nyaman banget kalau dekat-dekat orang yang bisa bikin ketawa. Siapa sih yang enggak suka? Semua masalah terasa ringan kalau ada manusia-manusia kocak di sekitar kita. Hiburan gratis dan menyehatkan. Terima kasih teman-teman dan para guru yang sudah membuat aku tertawa di kelas :D You're the best. . . 


4 comments on "Hal-hal yang Membuatku Bertahan Belajar di Kelas"
  1. Senyum senyum sendiri membaca ciecie efek...semua itu aku bisa relate. Memang masa-masa yang paling indah ya...kalau sudah selesai hahaha...tulisan bagus mba.

    ReplyDelete
  2. .... aku disebutin dong di wacana wkwkw, di bandung nemu lagi yang kek aku gak bay?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak ada chan, serius-serius di sini. . . xD ahh belum tahu juga sih baru juga masuk.

      Delete
  3. Ini pengalaman yg sepertinya gue banget juga...
    Penuturan tulisannya membuat saya terkenang masa lalu, duh

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkomentar. Tidak ada link hidup di dalam kolom, ya. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel. Keep blogging, keep writing! :D