Personal and Lifestyle Blog by Rahma

Peran Teknologi dalam Membantu Mempelajari Bahasa

Thursday, October 26, 2017
faktor yang mempengaruhi belajar anak

Tulisan ini adalah rangkuman sebuah seminar yang aku hadiri pada tanggal 7 Oktober 2017 di Garut. Pembicara pertama yaitu Dr. Willy A. Renandya memberikan presentasi mengenai "How can technology help L2 learning and teaching?". Dr. Willy A. Renandya adalah seorang guru bahasa di Asia. Beliau saat ini mengajar linguistik terapan di National Institute of Education, Nanyang Technological University, Singapore. 

He is very friendly. Before presenting his topic, he talked to and discuss with the participants personally. I was surprised he spoke Javanese. Later, he said he studied in Central Java. My impression of him is "a very good teacher". LoL 😂 What should I say? I've been studying English education for like 4 years and still have no clue how to be a friendly person like him or to be a good teacher. Okay, enough the chit-chat.

Rangkuman seminarnya aku tulis dalam bahasa Indonesia dengan campur bahasa Inggris karena menurutku ada beberapa hal yang agak sulit ditulis dalam bahasa Indonesia.

Presentasi dari Dr. Willy ini dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana, "apakah teknologi meningkatkan kemampuan berbahasa?" Kebanyakan dari peserta menjawab iya. Padahal TIDAK. Teknologi tidak meningkatkan kemampuan berbahasa. Bayanganku, coba saja berikan anak handphone, komputer, buku atau apa pun yang dianggap 'tekonologi'. Namun, si anak tidak berlatih atau tidak berkeinginan untuk belajar bahasa. Akankah kemampuan bahasanya meningkat? you know the answer. 

Pertanyaan selanjutnya "Apakah teknologi mampu menggantikan peran guru?" a big No for that 😂 but... he said. . .
"Teachers who don't use technology will be replaced by those who use technology."
Kadang kita terbuai dengan kata teknologi. Barang-barang yang dianggap sangat modern dan 'kekinian', itulah teknologi. Sudah tidak asing lagi, dengan dalih mengikuti perkembangan jaman dan teknologi, kita bisa melihat proyektor dan laptop di setiap ruang kelas. Sangat terlihat modern dan berkelas. Ekspektasi pencapaian belajar pun meningkat. Dengan teknologi tinggi akan meningkatkan kesuksesaan belajar pula. Namun, sesungguhnya mengartikan teknologi dalam bentuk barang elektronik itu terlalu sempit. 

Coba kalian search di google arti dari teknologi!
...keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia
Teknologi itu adalah sebuah sarana atau media. Teknologi dalam pembelajaran berarti sebuah sarana atau media yang mampu menunjang pembelajaran. Maka, buku pun sebenarnya adalah teknologi dalam bentuk sederhana. Sesuatu yang sering sekali terabaikan dan disepelekan baik itu oleh guru dan murid.

Lantas bagaimana teknologi bisa membantu mempelajari bahasa? Beliau memberikan cerita tentang "Toshi" Well, I thought this was a real story, but it is just a story 😂 Dia adalah seorang warga Jepang yang ingin mempelajari bahasa Inggris. Bersama teman-temannya, dia pergi ke Inggris untuk mengikuti kelas khusus. Sayangnya, ia mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit. Sementar teman-temannya mulai belajar bahasa Inggris di kelas.

Selama di RS itu Toshi menghabiskan waktu untuk menonton berita, film dan segala macam acara yang disiarkan dalam bahasa Inggris. Ia harus berkomunikasi dengan perawat dan orang-orang sekitar dengan bahasa inggris pula karena mereka adalah orang asing. Sepanjang hari. Setiap hari. Hingga akhirnya ia sembuh dan mulai masuk kelas khusus bersama temannya di pertemuan terakhir. Bisa dikatakan, ia menghabiskan +/- 98% waktunya di RS. Sedangkan teman-temannya menghabiskan 100% di kelas bahasa Inggris. Ujian pun datang. Toshi dan teman-temannya mengerjakan soal-soal berbahasa Inggris sebagai pertemuan terakhir kelas khusus.

Kira-kira siapa yang mendapatkan nilai paling besar? Para peserta seminar menjawab "Toshi" 😂 berhubung ia tokoh utamanya, ya jadi kami menjawab Toshi hehe. Bukan itu juga sih. Pemikiran utama Toshi mampu mendapatkan nilai paling besar dalam ujian adalah karena ia ter-expose dengan bahasa Inggris lebih intense dibandingkan teman-temannya. Ia mempelajari bahasa dengan konteks. Lewat film, podcast bahkan komunikasi sehari-hari, Toshi mampu mendapatkan "rasa" terhadap bahasa yang ia gunakan.

Coba kita tanya penutur bahasa asing, mengapa mereka milih kata "I went to Indonesia last year" bukan "I go to Indonesia last year". Bagi orang yang mempelajari "tenses" ataupun "grammar" secara keseluruhan, ia akan mampu menjawab. Namun, bagaimana dengan penutur asli yang tidak mempelajarinya? tentu ia tidak akan mampu menjawab. 

Pengalaman pribadi ketika mengajar dulu, kami mendatangkan dua mahasiswa berasal dari Inggris untuk belajar bahasa Inggris bersama. Salah seorang muridku bertanya, "kenapa kata berakhir -ed ada yang dibaca -et dan ada yang dibaca -id dan bagaimana cara membedakannya?" contohnya seperti kata "cooked" dibaca "cookt"  dan "landed" dibaca "lendid'. Well, tentu saja kedua mahasiswa penutur asli itu kebingungan karena mereka tidak belajar linguistik bahasa inggris. 

Mereka menggunakan 'rasa'  saat menjawab pertanyaan itu. Begitu juga saat mengoreksi beberapa kalimat yang dibuat oleh murid-murid. Lagi-lagi mereka menggunakan 'rasa'. Sama saja bagi kita penutur bahasa Indonesia. Ada beberapa hal kebahasaan yang kadang sulit untuk dijelaskan kepada penutur asing, dimana kita hanya bisa menjawab ''ya, yang enaknya pakai kata ini..''.

Mari kembali memaknai cerita Toshi yang telah mendapatkan 'rasa' bahasa Inggris. Cerita Toshi  mendapatkan nilai besar adalah salah satu bantuan dari teknologi, berupa tv, radio atau mungkin majalah yang ia baca. Ingat buku juga teknologi ya! Dr. Willy juga memberikan contoh lain tentang kemampuan berbahasa dari seorang anak temannya. 

Anak ini sangat senang membaca buku berbahasa Inggris. Sudah banyak sekali buku yang ia baca dan dibaca kembali! Di sekolah tentu ia sangat pandai dalam pelajaran bahasa Inggris. Ketika ditanya mengapa bisa pandai dalam mapel inggris, kira-kira ia menjawab "I don't know... I just did it. The teacher is boring". Well, dalam perpektifnya kemampuan sang guru kurang baik dalam berbahasa Inggris. Jadi, dia belajar dengan siapa? Orang tuanya sendiri tidak secara khusus mengajarkan bahasa Inggris. Dia hanya senang membaca dan membaca.

Dari dua cerita di atas, bisa dicermati hal-hal penting yang bisa mempengaruhi pembelajaran bahasa:
1. (simple) technology, ada suatu sarana yang menghantarkan bahasa kepada siswa. Baik itu buku, video, rekaman suara dll.
2. Meaningful learning, suatu hal yang memiliki arti akan sangat mudah diingat dan bertahan lebih lama. *baper... Toshi atau si anak yang rajin membaca mendapatkan bahasa bersama konteks dan mendapatkan arti menyeluruh! Konteks ini berkaitan dengan apa yang dibicarakan, siapa yang diajak bicara, apa tujuan dari penggunaan bahasa itu.
3. Frequency, seberapa sering siswa terexpose pada bahasa target (dalam hal ini bahasa Inggris) akan sangat mempengaruhi kemampuan berbahasanya. Setiap hari kah? atau seminggu sekali?
4. Intensity, intensitas belajar. Jika frekuensi bertemu dengan bahasa inggris itu setiap hari, berapa jamkah ia menggunakan bahasa itu? apakah dilakukan secara terus menerus atau terpotong-potong?

Di sesi terakhir, pembicara memberikan penjelasan tentang prinsip SLA (second language acquisition), prinsip-prinsip pemerolehan bahasa kedua. Dengan memperhatikan prinsip tersebut kita akan lebih paham bagaimana proses mendapatkan kemampuan bahasa kedua/asing terjadi. Tidak serta-merta menyekolahkan atau mengirim anak ke tempat les, maka anak akan langsung lancar 100% berbahasa Inggris. Dengan memahami prinsip ini pun diharapkan masyarakat sadar, kesuksesaan belajar anak bukan 100% berada pada tangan guru. Alright, kalian serching aja dulu  😂 akan terlalu panjang jika ditulis di sini. 

Mari kita ambil kesimpulan dari pembahasan di atas. Bagiku, mempelajari bahasa itu bisa dilakukan dimana saja dengan berbagai macam teknologi. Apalagi di zaman yang serba modern ini, sangat mudah sekali mendapatkan materi pembelajaran bahasa Inggris. Namun, sekali lagi. Guru tidak dipaksa untuk menggunakan teknologi maju untuk mengajar. 


Alasan aktifitas belajar mengajar tidak bisa dilaksanakan karena tidak ada proyektor atau listrik mati, tidak dapat diterima. Pengalaman aku dulu, ketika akan mengajar, si proyektor tidak bisa digunakan, guruku malah terlihat tidak semangat mengajar, dan efek itu menular ke murid. Mungkin dia malas nulis-nulis di papan 😂 Lihat bahkan dalam kasusku semangat lebih dahsyat pengaruhnya dibandingkan teknologi itu sendiri. Tanpa teknologi tinggi pun, jika semangat masih tinggi, maka pembelajaran akan menyenangkan! Last, teachers are expected to be creative. . .  I can't deny 😓 that's difficult.


Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkomentar. Tidak ada link hidup di dalam kolom, ya. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel. Keep blogging, keep writing! :D