Personal and Lifestyle Blog by Rahma

Cantik tak Perlu Diumbar: sebuah ringkasan kajian

Tuesday, November 7, 2017

Seharusnya saat ini aku sedang mengetik tugas laporan penelitian. Entah lah. Tidak ada semangat sama sekali. Bahkan memikirkannya pun sudah membuat perut mual dan malah mulai membuatku benci menulis. Oh no, I won't let it happen. Menulis adalah nafas literasi. Tidak boleh ada kata benci baginya. Maka, mau tidak mau aku harus menulis. Walaupun bukan menulis tugas.


Bulan kemarin, aku mengikuti sebuah kajian dari himpunan mahasiswa pascasarjana di kampus. Aku sendiri tidak mengerti, kenapa senang sekali mengikuti kegiatan-kegiatan macam ini. Berbau-bau mesjid. Padahal sebenarnya waktu kecil aku anti mesjid. Di kampung pun aku ke mesjid kalau Ramadhan dan Hari Raya saja. Parah? Pokoknya masalah agama aku ini agak... mmmm ntahlah seperti...ya peduli gak peduli, tapi mau peduli hehe

Kajiannya bertemakan "Beauty under cover" yang dibimbing oleh Teh Eti M.Yeti (semoga tidak salah menuliskan namanya) dari Aceh. Sepertinya aku tertarik ikut kajian ini karena ada kata "beauty"-nya. Dipikiranku, kata itu bermakna "make up" 😅 Berharap dapat make-up kit sebagai suvenir 😆 *canda.

Di sini tentu saja yang dibahas adalah seputar menutup aurat. Di simak saja ya summary berikut.

Di tengah fenomena sosial media, ramai para muslimah membagikan foto-foto cantiknya. Bahkan ada yang sampai memperlihatkan auratnya untuk mendapatkan "like" dan pujian, lantas kemudia menjadi viral. *GUE BANGET uhuk tapi gak mau viral...* Namun, tentu saja kegiatan itu tidak ada pahalanya. Mengumbar aurat tidak ada pahalanya, malah sebaliknya bertambahlah dosa karena seorang muslim diwajibkan untuk menutup aurat bukan mengumbar.

Permasalahan aurat ini disebutkan di surah al ahzab ayat 59. Dimana di sana Tuhan memerintahkan para wanita muslim untuk mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh. 
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Kemudian di surah An-Nur ayat 31 perintah mengulurkan kerudung sampai ke dada. Jilbab sama kerudung sama gak sih? Nanti ya, disimak saja dulu...
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
Intinya, seorang muslim wajib menutup aurat. Bagi muslimah auratnya adalah seluruh tubuh terkecuali muka dan telapak tangan. Dan ini merupakan tantangan berat. Iya lah semuanya tertutup terkecuali muka. Padahal kita semua punya yang namanya nafsu. Ingin terlihat indah nan cantik. Ingin ini dan itu. Ingin pamer dll.

Hingga muncul sebuah statement untuk menghidari perintah Tuhan itu, "jilbabin dulu hatinya..." which I consider impossible to achieve. Apalah artinya berjilbab dan berhijab kalau kelakuannya busuk kaya Rahma 😅 Ngapain pakai kerudung tapi sering ngomongin orang, pacaran lagi ihh. Mending perbaiki diri dulu. Bersihin hati. Ntar kalau kelakuan udah bener baru pakai jilbab. #Ngaco

"menjilbabkan hati" atau mungkin dengan kata lain membersihkan hati dari perbuatan-perbuatan terlarang adalah tujuan seumur hidup, long-term goal, yang mungkin tidak akan pernah tercapai tetapi harus tetap diusahakan. Itu disebabkan oleh sifat manusia yang memiliki nafsu. Tidak akan pernah seorang manusia memiliki kepribadian yang terus lurus dan selalu suci. Ada kalanya iman seseorang itu naik dan turun kembali. 

Maka jika terus mengejar "ngejilbabin hati dulu sebelum pakai jilbab" maka artinya ia tidak akan pernah bisa menutup auratnya. Hendaknya sambil "ngejilbabin hati...", kita juga pakai jilbab fisik. Biar saling beriringan, begitu! Lagi pula, jilbab itu kaitannya dengan aurat fisik bukan dengan perilaku. Sehingga, tidak bisa disangkutpautkan.

"Jilbab panjang kan kampungan, enggak stylish, ntar aku gak cantik lagi..." *GUE BANGET...* ada yah yang bikin pernyataan kaya gitu. Akibatnya, jilbab dirubah menjadi fashionable biar orang-orang mau berjilbab. Efek negatifnya. Ya, namanya juga fashion kalau gak indah gak kan laku. Bertaburanlah pakaian "muslim" yang tipis dan membentuk lekuk tubuh. Menjauhi fungsi utama dari jilbab itu sendiri. Sedangkan jilbab adalah bagian dari syariat, maka seharusnya jilbab disesuaikan dengan syar'i bukan aturan fashion.

"Jilbab panjang membuatku tidak menarik, nanti susah dapat jodoh..." *GUE BANGET JUGA...* 😜 Cerita pribadi, pernah suatu hari ibuku bilang begini "jangan pakai kerudung yang panjang-panjang lah... pendekin sedikit." uhuk mungkin ibu mulai gundah, anaknya yang sudah mulai menua ini tak kunjung bawa calon. Adek-adek dan keponakannya sudah hilir mudik gandengan sama pacar. hahahaha 😅 Nyatanya, perempuan berjilbab panjang gampang mendapat jodoh dan long-lasting dengan jalan taa'ruf.

Ada juga orang-orang yang mempertanyakan perempuan bercadar, "itu gimana dapat jodohnya ya, kan mukanya ditutup, siapa yang mau. Kaya beli kucing dalam karung..." but that's the point, beauty under cover. You do not judge someone from the cover. Love is pure. sebegimana jeleknya orang, ketika mereka mengutamakan cinta kepada Yang Maha Kuasa, jelek itu cantik. Menerima paras apa adanya, sehingga mereka tidak gundah dengan segala kekurangan fisik.

Nah, sekarang pas sudah mengerti bahwa aurat itu harus ditutup, para pemula agaknya bingung dengan beberapa istilah. Ada hijab, jilbab, kerudung. Itu semua istilah-istilah untuk menutup aurat. Kita mulai dari yang memiliki definisi paling umum, yaitu hijab. Hijab artinya pembatas. Ya, bisa apa aja asal dia bisa membatasi. Biasanya kalau anak DKM rapat suka pakai hijab. Ada kain pembatas antara grup laki-laki dan perempuan. Di mesjid pun demikian. Ada hijab untuk barisan-barisan laki-laki dan perempuan.

Jilbab disebut di surah al ahzab ayat 59 dan diperintahkan untuk mengulurkannya ke seluruh tubuh. Dari ayat tersebut, jilbab memiliki sifat seperti pakaian. Sekarang mungkin disebutnya khimar dan gamis ya? gabungan dari keduanya. Ada atasannya disebut khimar (menutupi kepala hingga dada/badan) dan bawahan disebut gamis (menutupi badan). Mereka berdua kalau disatukan namanya jilbab. Kemudian, aturan dari jilbab ini adalah pakaian longgar dan tidak menerawang.

Kerudung disebut di surah An Nur 31 dan diperintahkan untuk mengulurkannya hingga ke dada. Ya, ini yang biasa orang bilang jilbab dan hijab. Sampai-sampai ada komunitasnya jilbabers dan hijabers. katanya sih kalau kerudungnya panjang disebut jilbabers kalau pendek dan fashionable disebutnya hijabers LOL 😅 padahal namanya kerudung. Fungsinya tentu untuk menutupi aurat dari kepala hingga dada. Jadi, kalau memakai kerudung poninya masih kelihatan, itu belum betul hehehe ya pokoknya si kerudung ini perlu menutupi aurat ya!

Bersyukurlah bagi yang sudah konsisten menggunakan jilbab dan kerudung. Menutup aurat dimana pun, kapan pun. Hal ini tidak lah mudah. Kadang ada godaan seperti, hal-hal di atas. Terlihat tidak cantik, sulit dapat jodoh atau gerah lah dll. Sesungguhnya itu adalah ujian. Ingat, seseorang tidak akan dikatakan beriman jika belum diuji. Hadapi setiap ujian agar keimanan kita semakin meningkat.

========================================================================

Kira-kira itu lah summary dari kajian "Beauty under cover". Bagaimana pengalaman kalian dalam menutup aurat? Adakah godaan berat? Nanti tulis di kolom komentar ya, itu pun kalau mau bercerita. Nah, sekarang baca aja dulu curhatan aku masalah kerudung.

Aku mulai berkerudung sejak masuk SMP karena deep inside my heart aku ingin mengikuti Teteh (kakak perempuan). Mereka bilang, "kalau pakai kerudung, gak boleh main-main. Sekali berkerudung gak boleh dilepas." Waktu itu aku bilang iya iya aja tanpa ditelaah dulu kesiapaan mentalnya gimana. 

Seminggu pakai kerudung ke sekolah, aku sudah ingin melambaikan tangan. MENYERAH. "Susah sekali pakai kerudung ini, tak mau rapih 😭" 30 menit di pagi hari dipakai untuk berkerudung. Paginya berangkat dengan kerudung rapih, pas pulang ke rumah acak-acakan. Tapi tidak pernah sampai membuka kerudung di tengah jalan.

Memakai kerudung ini pun dituntut di berbagai situasi yang berkenaan dengan "keberadaan non-muhrim". Di dalam dan luar rumah, sekolah apalagi. Capek dan merepotkan. Tiap ada tamu laki-laki lari2 mencari kerudung. "ahhh aku lelah, ribet" jadinya aku buka lepas gitu. Kecuali di sekolah, aku selalu pakai. Masuk ke SMA kerudungku sudah mulai konsisten dan ada rasa aneh sekali tanpa kerudung. Tak suka pakaian ketat dll. *Ceritanya keimanan sedang naik :p

Ujian berat adalah di tahun 2011 saat memutuskan untuk hengkang dari bangku kuliah. diih jangan ditiru ya. Singkat cerita, aku teh labil gimana gitu. Mungkin terlalu kecewa dengan diri sendiri dan keluarga. Merasa tidak ada teman atau pun orang yang paham dengan keinginan diri. Aku merasa Tuhan itu tidak ada. Mulai muncul pertanyaan, "apa sih manfaatnya baca qur'an? ngapain solat? gak asik! have fun dong... dugem kek (aku dititah dugem sama setan. tau meureun aku mah anak rumahan xD), kabur kek (baru juga kabur sampai rumah Teteh *ketutup empat rumah tetangga dari rumah* begitu lapar balik lagi ke rumah), hangout (kagak ada temen, mau hangout sama siapa?) atau apa lah (setannya mulai kebingungan), buka aja kerudungnya biar kita bebas!" Dan aku menuruti sebagian perintah itu. #Ngaco

Lepas kerudungnya! horeeey. Kebanyakan teman tidak tahu karena aku gak posting foto selfie tanpa kerudung *untung*. Aku gak berani "go public" people will judge and question. Akan terlalu banyak pertanyaan yang harus aku jawab dan cara menjawabnya pun aku tidak tahu. Masa aku jawab "ya karena ingin lepas kerudung aja." trus enam tahun ke belakang aku pakai kerudung buat apa? sok-sokan juga kerudungnya panjang-panjang lagi. Cukuplah aku yang tahu betapa begonya aku dulu. Meninggalkan Tuhan dan merendahkan harga diri.

Sulit. Waktu itu baru saja imannya naik sedikit, sudah mulai konsisten dengan kerudung, ihhh ada aja godaan yang menjatuh iman. Sekarang sudah 6 tahunan dari kejadian "meninggalkan Tuhan" dan aku masih merangkak dan meraba jalan yang benar. Baru di tahun 2017 ini aku hampir setiap hari membaca Qur'an kembali. Tahun 2011-2012/13 bisa dikatakan jarang hingga tidak sama sekali. 2014-2015 masuk ke level sometimes. 2016, agak sering. 

Bagaimana dengan kerudung? 2011, aku lepas walaupun tidak 100% karena hati menolak. Sesekali aku keluar rumah tanpa kerudung, rasanya mmmmm gak enak. Keluarga pun agak aneh sih, "kenapa tak pakai kerudung?" Aku berusaha keras untuk mengatakan "tidak mau memakai kerudung, jilbab atau apalah namanya itu. Pokoknya aku tidak mau tertutup". Baru juga bilang, "aku gak suka kerudung, Teh." si Teteh udah melotot "APPPAAAAA?". i'm scared to be honest. jadi weh dikerudung deui.

Terpaksa aku berkerudung kembali. Mengembalikan keikhlasan dan ketaatan untuk menutup aurat itu tidak mudah. Ada beberapa hal yang harus dikorbankan. Ya, contohnya, mengorbankan "aku gak cantik lagi :(" dan merubahnya dengan "dengan hijab aku jadi cantik :)". 



Jauh di dalam hati sana, aku tidak mau menutup aurat seperti yang diperintahkan Tuhan. Terlalu mengekang dan menutup. Namun, ketika membuka aurat kepada semua orang, hati malah menjadi tidak nyaman. Akhir kesimpulanku, perintah Tuhan itu tidak pernah salah. Tidak pernah mengekang. Jadi aku ikuti saja karena memang aku pun membutuhkannya agar hati menjadi tenang.

Sekian, wassalam :D
7 comments on "Cantik tak Perlu Diumbar: sebuah ringkasan kajian "
  1. Masyaallah, semoga istiqomah ya :)

    ReplyDelete
  2. Saya mulai pakai kerudung di kelas 2 SMA, setelah ikut kegiatan ramadhan di kampus (sekolah). Lihat kakak2 kelas yang berjilbab kok rasanya teduh, mereka tuh tenang dan kalem banget. Tapi begitu berbicara di forum, pintar dan lincah, segala macam topik bisa.

    Perlu perjuangan, karena jaman itu belum banyak yang pakai. Penentang pertama justru orang tua. Saat itu hanya punya 2 baju panjang, jadi dua baju itu tiap hari cuci kering pakai bergantian. Untuk menambal seragam sekolah yang berlengan pendek, maka saya memecah celengan dan beli kain putih. Saya jahit sendiri malam-malam saat penghuni rumah sudah tidur. Perjuangan banget pokoknya saat itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. perjuangannya luar biasa. . . ! hebat.

      Delete
  3. Alhamdulillah setelah berhijab sya gakberat pakai hijab mbk meski di rumah. Kalau ada kerabat atau adek ipar yg emang bukan mahrom ya saya pakai hijab. Tapi saya pun berusaha gak berlebihan pakai baju yg harus berlapis2 atau gmn gtu, yg penting menutup aurot. Bukannya apa2 sih, supaya saya msh bisa bergaul aja dengan masyarakat sekitar dan enggak terlihat eksklusif. pengennya menujukkan jati diri muslimah yg sewajarnya aja.

    ReplyDelete
  4. Jilbabin hati dulu. Ahahaha... Klasik ya. Tapi bener kata Rahma, itu sebenarnya long term goal. Paling gampang ya jilbabin kepala dulu. Tinggal pasang kan ya? :D

    Iman emang naik turun, waktu SMA aku juga pernah ketemu teman-teman yang hedon, akibatnya sempat beberapa minggu terlepas hijab. Bener-bener nggak tenang, untung segera dijauhkan.
    Alhamdulillah paling nggak 5 tahun terakhir gak ada momen lepas lagi. Semoga kita semua istiqamah ya mba

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkomentar. Tidak ada link hidup di dalam kolom, ya. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel. Keep blogging, keep writing! :D