Personal and Lifestyle Blog by Rahma

Pengalaman Semester Awal S2 UPI

Wednesday, January 31, 2018
kuliah s2 di upi

Halo, apa kabar hari ini? Semoga tetap ceria ya. Well, kalau aku sekarang antara senang dan cemas. Senang karena satu semester sudah usai, cemas karena masih ada tiga semester lagi yang harus diselesaikan.

Sebelumnya, aku sangat muak dengan kuliah ini, "ngapain sih aku lanjut kuliah? Ini tugas kok mati satu tumbuh seribu? Ahh malas ngerjain tugas" hingga aku berucap, "pokoknya kalau ada SATU matkul dengan nilai jelek atau harus mengulang, aku berhenti kuliah". Namun, hidup selalu memberikan kejutan.

Alhamdulillah di SEMUA matkul aku lulus dengan rata-rata nilai hampir memuaskan. Entah bagaimana aku melakukannya, padahal kerjaannya sistem kebut semalam. Bagi orang lain, ini seperti sebuah keajaiban tanpa usaha keras dan mengandalkan kemurahan hati para dosen karena aku lebih sering terlihat bermalas-malasan. Padahal, ketika makan, tiduran, mandi, nonton film, pikiran ini tidak pernah lepas dari tugas. Mencari ide dan menyusun tulisan. 

Sedikit cerita saat aku berkuliah di semester satu aku tuangkan di sini agar kalian yang hendak berkuliah S2 di UPI, khususnya pendidikan bahasa inggris, memiliki bayangan dan persiapan untuk melalui masa awal perkuliahan.

Tak lama setelah memulai kuliah, aku mengikuti seminar international yang diadakan kampusku dulu. Selain untuk mendapatkan sertifikat presenter sebagai syarat ujian, ini juga sebagai jalan untuk bersilaturahmi. Aku bertemu dengan salah satu dosen yang dulu berkuliah di SPS UPI, "Ma, gimana kuliahnya. Culture shock ya?"

Apa yang mereka lontarkan padaku ketika menjadi mahasiswa mereka memang benar adanya. Belajar di jenjang S2 amat sangat berbeda. Kita tidak membahas kemampuan bahasa karena dianggap sudah menguasai bahasa inggris saat S1. Di sini, mahasiswa dituntut untuk mengamati, menuliskan dan mempresentasikan.

Kegiatan mingguan berupa chapter report, class discussion report dan tugas akhir semester yang rata-rata membuat mini-research amat berbeda dengan tugas S1 yang hanya membuat makalah dan presentasi kelompok. Makalahnya pun, jujur aja pasti copy-paste dari buku. Di jenjang S2, tidak demikian. Makalah harus memiliki pendukung (jurnal) yang kuat dan citation yang baik.

Tugasnya terlihat sedikit tapi memiliki beban berat. Orang yang super moody sepertiku kewalahan mengerjakan tugas seperti itu. Harus menangis dulu meratapi tugas, berbelanja demi membuat mood senang, main game, barulah bisa mengerjakan tugas. Itupun cuma kuat 4 jam.

Kita pun tidak disuapi saat di kelas. Selama aku belajar, jarang dosen membahas panjang lebar suatu materi. Pokoknya ini topik yang akan kamu bahas, kalau mau ngerti: baca buku lain yang banyak, googling lebih dalam, tanya teman, tanya senior. Ngerti gak ngerti harus tampil. Kita dituntut belajar lebih keras memahami suatu bahasan secara mandiri.

Perubahan dari 'tidak tahu' menjadi 'tahu', 'tidak mengerti' menjadi 'mengerti' sebagian besar adalah tanggung jawab mahasiswa itu sendiri. Kalau mau mengerti ya baca, jangan hanya bertanya pada dosen. Dosen hanya memberikan arahan, jalan, kemana kita harus mencari dan seperti apa proses mencari yang benar.

Temanku yang sudah lebih dulu berkuliah di sini selalu bilang, "kuliah di sini gak ada manis-manisnya”. Bukan bermaksud membuat takut, tapi memberi gambaran agar kita bersiap. Dia sering begadang mengerjakan tugas. Mau apa-apa selalu kepikiran sama tugas. Di kelas, ada beberapa dosen yang strict banget, kena semprotlah dll.

Balik lagi ke style belajar kita. Aku sendiri tidak suka dan tidak kuat untuk begadang. Pernah sih sekali mengerjakan tugas sampai pukul setengah sebelas malam. Itu sudah masuk kategori begadang tidak? hehehe biasanya aku tidur pukul 9, paling malam pukul 10. Nanti belajarnya disambung pukul 2 atau 3 subuh.

Kalau masalah mendapatkan 'kritik tajam' dari dosen, aku kira itu hal biasa. Di setiap sekolah pasti lah ada satu atau dua pengajar yang memilliki title "dosen killer", jutek, sadis atau apa lah. Hanya saja, kita harus ingat. Mereka adalah manusia. Semua tindakan yang mereka lakukan tentu saja memiliki alasan. Positive thinking aja deh. Bersedih boleh, tapi jangan sampai terus-terusan diresapi hingga sakit hati.

Agar hati terasa lapang, biasanya sih kita perempuan, sering curhat begitu lah. Berbagi penderitaan. Jangan sendirian aja karena bukan kamu aja yang stress. Aku yakin teman sekelas pun semua merasakan hal yang sama, bahkan lulusan dari kampus itu pun merasakan perbedaan signifikan di jenjang S2 ini.

Nikmati semua perihnya tugas kuliah tanpa melupakan cara untuk menikmati hidup dengan sesekali bermain. Nonton kek, makan bareng, apa lah. Refreshing sebentar. Mungkin juga bisa mengikuti kegiatan perkumpulan mahasiswa. Hmm, jujur aja sih. Kalau ada waktu luang enaknya jalan-jalan dibandingkan ngurus organisasi hehehe tapi ada pula yang senang menyibukkan diri dengan berkumpul.

Oia, buat para muslim. UPI ini kan deket dengan Daarut Tauhid (DT). Mesjidnya enak banget untuk menentramkan jiwa hehe plus di sana banyak kajian untuk menambah ilmu agama juga. Bahkan bisa sambil nyari jodoh juga hahaha. Baru aja kemarin mereka mengadakan sebar formulir CV taaruf. ciee, rahma ikutan gak ya? aku? enggak berani hahaha belum sih belum, calm aja lah. Udah ada calon soalnya wkwkwk 

Refereshingnya jangan lama-lama yah. Nanti tugas terlupakan. Untuk menyelesaikan tugas, tentu harus dicicil. Membaca jurnal dan buku, kemudian ambil yang kira2 akan bermanfaat untuk tugas dan kategorikan sesuai tema. Menulis tanpa membaca itu sulit. Nanti akan kamu rasakan. Setelah membaca, ide-ide bermunculan begitu saja. Apalagi di saat-saat terakhir pengumpulan tugas, the power of kepepet muncul. Hasilnya gak akan terlalu acak-acakan. Jadi, paksakan untuk membaca ya. Lama-lama nanti terbiasa kok.

Untuk anak rantau akan didapati culture shock yang benar-benar berhubungan dengan sosial budaya. Di sini budayanya Sunda. Kalau aku gak masalah karena masih bersuku Sunda. Katanya sih Sunda mah intonasi dan bahasanya lembut dan slow, Just in case you aren't good at adapting to diversity hehe Aku yakin mahasiswa mah cerdas bisa beradaptasi dengan masalah beginian.



Persiapkan juga FISIK. Hati-hati dengan makanan. Ambilah makanan yang sekiranya sama dengan yang sering dikonsumsi. Takutnya tidak sesuai dengan perut. Temanku pernah beberapa hari sakit karena katanya 'salah' makan. Sayang kalau harus bolos kelas, dia memaksakan diri ke kelas. Walaupun tidak parah, fisik lesu/lemas memberi efek negatif terhadap kegiatan belajar.

Di semester awal, ada beberapa mahasiswa di kelas lain yang menyerah. Baru jalan beberapa minggu, mereka sudah tidak mau lanjut. Alasan yang aku dengar sih karena tidak sanggup hidup sendiri jauh dari ortu dan tugasnya memusingkan. Sejauh ini kelasku berhasil melalui semester 1 bersama. Namun setelahnya, ada yang tidak mau lanjut atau cuti. sedih sih. Awalnya aku tergoda, tapi aku harus kuat. Sayang kan sudah bayar mahal :/

Bolehlah kita ambil kesimpulan, kamu tak perlu pintar. Cerdas iya. Mental is number one. Yang aku rasakan, kalau cuma mikirin tugas hidup menjadi sengsara. Mental lemah pasti sudah menyerah. Bagaimana agar bisa menguatkan mental? Jangan sendiri! Diskusi dengan teman.

Perbanyak doa dan minta doa dari orang tua, khususnya ibu, supaya kita dikuatkan. Beberapa kali aku bertelepon dengan ibu ketika keadaan sulit. Di sana pula semangat dan kemudahan langsung datang. Moms are amazing.

I still don't believe I've survived this semester. I learn to find a little joy in the misery just only to realize everything that happens is only to test my faith, not intelligence.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seperti yang aku perkirakan, sebagian orang yang membaca ceritaku jadi takut untuk berkuliah di sini... hehe. Aku juga dulu begitu. Baiklah. Mungkin terlalu banyak hal negatif yang aku tuliskan. Seolah-olah belajar di sini berat dan hanya menjadi tempat "penyiksaan" bagi mahasiswa. Hanya orang-orang yang amat istimewalah yang bisa berkuliah di sini. well, itu gak sepenuhnya benar.

Aku sudah bilang, tak perlu pintar, cerdas iya. Takutnya ada yang minder ilmu di S1 nya tidak terlalu bagus. Menurutku, itu tidak masalah. Justru melanjutkan kuliah di S2 itu untuk menambah dan "merapihkan" pemahaman. Awal perkuliahan adalah waktunya meluruskan pengetahuan yang kita dapat di jenjang sebelumnya, terutama dalam penulisan karya ilmiah sih. Kita diajarkan untuk menulis dengan baik dan akademis.

Implikasi dari belajar menulis itu sangat penting, apalagi kalau kita ingin melanjutkan studi atau menjadi seorang dosen. Pengetahuanku tentang abstract, background, literature review ternyata sangatlah minim. Waktu menyusun skripsi dulu, aku pikir mereka tidak penting. Di sinilah, aku baru tahu ketiga bagian itu sangat penting sebagai fondasi penelitian.

Untuk kehidupan sehari-hari, ilmu ini membuatku untuk tidak sembarangan berkomentar. Maksudnya? aku menjadi sangat sensitif dengan bahasa. Belajar ke jenjang lebih tinggi membuatku sadar, betapa ilmu dan pengetahuan yang ada sangat sedikit. Hal itu menahanku untuk mengambil kesimpulan setelah membaca.

Selalu menerapkan langkah-langkah penelitian ketika hendak mengambil kesimpulan dalam suatu berita. Mencari dulu background/alasan, mencocokan dengan teori, hubungkan dengan fenomena, analisa, buat kesimpulan, rekomendasi. Aku parno jurnal euy. Pokoknya, cara pandang aku berubah.

Serem ya, bahasannya menulis dan meneliti? belum lagi kita disuruh melakukan mini research tiap matkulnya, ya? terdengar seram. Mungkin karena orang-orang buntu di topik. Aduh kita mau meneliti apa ya? padahal ketika berkuliah pun kita diberikan banyak topik. Cara melakukan mini research gimana ya? skripsi aja selesainya dua semester? namanya juga mini, penelitian kecil. Tidak memerlukan waktu banyak karena skalanya juga kecil. Mudah kok, kalau rajin mah hehehehe wawancara, angket. Beres. Cuma 24 halaman aja. Mirip kayak jurnal.

Belum lagi, mereka menyediakan kuliah umum dari dosen kampus lain, bahkan luar negeri. Ada juga seminar dan workshop tentang penulisan dan pemilihan topik penelitian. Intinya kuliah yang berat ini dibantu oleh pihak kampus dan para pengajar juga kok. Tinggal niat dan kemauan dari mahasiswanya sendiri sih.

Ingin menjadi lebih baik, kan? coba aja dulu.... :) S2 UPI itu menurut teman-temanku memang beda, khusus pendidikan bahasa inggris ya, ntah jurusan lain. Rasanya serem-serem asem. Membuat penyakit akademis terdahulu luluh. 
Post Comment
Post a Comment

Sebelum berkomentar centang dulu kotak "notify me/beri tahu saya" agar kamu mendapatkan notifikasi ketika aku membalas. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel :D