Personal and Lifestyle Blog by Rahma

Jenis-jenis Karakter Teman dari Gaya Berbicara

Monday, March 26, 2018
macam-macam karater teman kelas

Hai, guys. Bahasan kali ini aku mau curhat sedikit tentang karakter-karakter orang ketika belajar di kelas. Bukan tulisan penting. Bukan juga suatu dasar untuk menghakimi atau bahkan ngomongin kejelekan orang lain. Anggaplah ini hanya sebatas tulisan ringan untuk bernostalgia dengan kenangan-kenangan ketika bersekolah dulu.



Kenapa aku tiba-tiba ingin menulis topik ini? Ini dikarenakan pada suatu pagi saat presentasi berlangsung, teman-teman sekelas merasa terpana dengan ulah satu teman yang amat mencolok dari lainnya. Hmmm… mungkin dia satu jenis spesies mahasiswa yang baru aku temui. Dulu juga ada sih teman yang karakternya basically sama, suka ngomong, tapi spesies ini berada di level berbeda. Awesome… ! Dari sana, muncullah ide menuliskan bermacam-macam karakter teman dari gaya berbicaranya dalam konteks belajar di kelas.

1. The talker a.k.a tukang ngomong
The class is his. Presentation is a seminar. Explaining simple things with 1 paragraph? Nah, I’m going to make an essay and experiment by asking and testing my friends’ patient one by one.
Ini adalah spesies yang disukai guru tapi tidak disukai teman sekelas hehehe. . . Kalau bicara, pembukaannya panjang banget, berparagraf. Padahal inti omongannya sekitar empat sampai lima baris saja. Ketika tampil di kelas ia sangat dominan. Apalagi kalau presentasi, terasa terlalu menggurui. Menjelaskan materi secara detail ingin teman-temannya paham, hingga waktu tampil  anggota lain terpakai. Niatnya bagus sih. Hanya saja pendengar kadang merasa diremehkan, "Gak usah detail-detail amat. Dikasih clue dikit udah ngerti kok." Plus, lama-lama merasa bosan aja lihat dia bicara soalnya gak peka waktu.

2. The debater a.k.a tukang debat
He is like the talker, but he just wants to criticize and oppose every opinion and policy in the class rather than discussing or explaining things.
Ini adalah satu jenis karakter yang paling aku gak suka. Mirip dengan the talker, sama-sama aktif bicara. Bedanya, ketika bicara tukang debat nadanya udah naik duluan. Otot lehernya kayak yang mau pecah gitu. Tatapannya tajam, siap menerkam lawan. Bisa jadi itu mah karena nervous aja kali ya. Rata-rata debater yang aku kenal ngomongnya cepet, saking ingin 'menghemat' waktu. Banyak hal yang ingin disampaikan tapi dia inginnya to the point aja. Sampai sini aku gak bermasalah. Gak suka itu kalau sudah memasuki level sensitive untuk mengkritik dan arogansi parah.

Satu lagi karakter debater yang aku gak suka. Gak mau kalah. Keras kepala, "pokoknya aku benar." Mereka udah biasa dilatih untuk mempertahankan argumentasinya. It's okay, it's good, but manakala mengobrol dengan teman harusnya jangan mendebat hingga memojokkan.

Aku pernah berdebat dengan teman sampai akhirnya anti-banget ngobrol lama-lama sama teman yang satu itu. Padahal dia sendiri yang awalnya nanya. Ya, aku mah ngobrol untuk diskusi aja, sharing pemahaman. Eh, ujung-ujung kok aku merasa dijudge, "kamu salah Rahma, berdosa. Harusnya begini dan begitu sesuai yang ustadz dan kitab yang diajarkan." Kata Awkarin mah "kamu suci aku penuh dosa..."  hahaha


3. The attention seeker a.k.a pencari perhatian
He makes sounds to remind people he exists. People dislike this.
Ini jenis manusia. . . manusia apa toa sih? berisik dan nirfaedah. Gak jelas juga kalau dia ngeluarin suara. Cuma ingin diinget sama guru aja kali ya. Ciri-cirinya adalah menanyakan suatu hal yang kita semua udah tahu jawabannya. Tidak seaktif the talker ataupun debater dan kadang kalau ngomong pun bikin orang lain mengernyitkan dahi, "ini orang ngomong apaan sih?"

Level terparah jenis ini adalah ketika ia memotong perkataan orang lain dengan kalimat yang gak jelas. Contoh, ketika ada orang lagi ngomong serius, dia tiba-tiba ngomong, "oh gitu ya? masa sih? wah?" Hal yang gak perlu dikomentari aja dia komentari. Can you just shut up for awhile? kira-kira itu yang ada dipikiranku kalau nemu orang yang haus perhatian.

Pernah sih ketemu sama jenis ini dengan level terparah pas kuliah dulu. Pertama kali lihat kelakuan dia di kelas terasa aneh. Aku kira dia ada kelainan atau apa. Soalnya timing dia ngomong enggak banget. Brisik dan ngeganggu aja. Kadang ingin bikin lelucon, tapi jadi garing gitu loh. Hmmm... Aku heran kan ya, sampai ada yang berbisik, "dia mah emang gitu Teh kelakuannya... Caper banget". Ooooo. . . Padahal kalau ngobrol di luar mah biasa aja, ramah. Pas belajar di kelas aja dia begitu.

4. The attention getter a.k.a pencuri perhatian

He makes sounds to melt the atmosphere. Every time he speaks people laugh. People like this.
Istilahnya mirip dengan pencari perhatian, tapi ada ciri utama yang berbeda. Ketika orang caper ngomong, biasanya timing kurang pas dan terkesan dibuat-buat hingga orang gak suka, nah attention getter sebaliknya. Dia ngomong karena ingin mencairkan suasana dan tepat sasaran. Biasanya sih tipe kayak gini jenaka dan suka bikin kelas ketawa. Difungsikan ketika suasana kelas horror. Kalau ditanya, ada aja jawaban yang selalu bikin heboh kelas dan jadi terkenal deh. Sampai sampai seangkatan kenal sama tipe ini. Intinya attention getter ini ngomongnya alami gak dibuat-buat biar jadi terkenal.

Kalau ngomong emang kadang 'nyeleneh' yang kadang gak kepikiran sama orang lain. Saking nyelenehnya omongan dia dan bikin 'rusuh' kelas, guru selalu ingat sama murid seperti ini. Makanya, tipe kayak gini sering dijadiin tumbal atau maskot di kelas. Ketika ditanya guru, "yang jadi KM nya siapa?" kelas kompak teriak, "Si Ujang Buuu...". "Kalau seksi keamanan?" Si Ujang... "Seksi kebersihannya mana ini, kelas kok kotor?" Si Ujang, Pak. Ujang lagi, ujang lagi. Kasihan juga sih, tapi orangnya kan santai. Santai aja hahaha


5. The know-everything a.k.a apa-apa tahu
The brain of the class means he is at the front when the whole class is confused. He speaks at demand with the right time, accurate length of speech. Usually, people make use of him.

Ini jenis yang enak gak enak. Enaknya, jadi orang pinter dan berguna gak perlu banyak tingkah dan sedikit bingungnya. Gak enaknya, dipergunakan oleh teman-teman hehehe kadang orang pintar ini agak sulit juga kalau kerja kelompok. Inginnya sempurna. Sedangkan, dia tahu teman-temannya gak sesempurna yang ia mau. Jadinya, dia yang ngerjain tugas sendiri.

Di kelasku dulu ada anak yang sifatnya pintar dan segala tahu, tapi untungnya rada asik dan gak terlalu sulit untuk kerja kelompok. Kapanpun seisi kelas gak bisa jawab ataupun gak ngerjain tugas, dia lah yang pertama diminta untuk menjawab soal-soal di depan. Pernah juga dia ‘ngerjain’ guru matematika.

Ceritanya, ada satu soal yang susah. Seisi kelas pura-pura udah ngerjain semua PR kecuali soal yang satu itu. Kemudian si guru pun mencoba mengerjakan soal itu di depan. Menit demi menit berlalu, pak guru mulai bingung juga. Beberapa kali menghapus uraian di papan tulis “hmm susah juga ya…”, tapi tidak menyerah dan terus melanjutkan. Selama guru kebingungan dan fokus mengerjakan, kita mah malah santai-santai aja. Selfie-selfie, main kartu. Kapan lagi sih mapel matematika bisa sesantai ini hehehe Oh, murid biadab!

Sembari tiduran (kebiasaan tidur di kelas hehe), aku lihat anak-anak di bangku depan nahan ketawa. “kenapa sih?” aku bisik. “Itu loh Ma, si A udah ngerjain kok. Jawabannya udah ketemu, tapi sengaja gak dikasih tahu biar gurunya anteng ngerjain di depan…” #parah. Akhirnya, setelah bel satu jam pelajaran berbunyi dia ngasih uraian jawabannya, “pak cara mengerjakannya begini kan?” (kira-kira ngomongnya gitu). Gurunya memeriksa jawaban dengan teliti, “Oh iya, iya betul… betul seperti ini…”. Inginnya sih jawabannya dikasih pas bel kedua bunyi hahaha tapi kasihan lah. Masa juga kita gak belajar… xD

6. The silent a.k.a apa-apa diam

You almost never hear him speaking. Is he in the class? Not sure. The presence is unnoticed like Kuroko Basuke. He hardly speaks without forced
Tipe pendiam selalu saja ada di kelas. Aku hampir seperti ini, hampir. Senang menyendiri dan sangat amat malas keluar dari tempat duduk. Pas istirahat paling juga tidur. Salah satu tipe yang jarang mengganggu orang, malah dia yang diganggu. Kadang orang seperti ini kalau gak kuat dengan hiruk pikuk aktivitas social kelas, dia jadi malas sekolah dan menghilang.

Ada dulu teman laki-laki di kelas yang jarang ngomong, sendiri aja. Padahal sering diajak gabung sama teman yang lain, tapi gak dapat chemistry bersosialisasinya. Tahu-tahu semester dua pindah. Parahnya banyak teman yang gak ngeh dia menghilang! Beberapa kali dia ngsms aku. Mungkin aku tipenya “friendly” jadi berani aja dia ngirim pesan. Agak kaget juga sih. Jarang ngobrol, sekalinya ngsms kata-katanya udah kaya teman deket. Mungkin, tipe seperti ini tidak berani berbicara banyak, hingga kemudian disalurkan melalui bahasa tulisan.

Dulu aku senang menyendiri juga sih. Malas ngobrol sama teman. Enaknya melamun. Untung aku sadar, menyendiri itu gak baik. Ada efek nyaman dengan kesendirian yang bisa mengarahkan pada malas berinteraksi dan gangguan jiwa lainnya, seperti tidak peka pada perasaan teman, gampang marah dan sakit hati oleh hal-hal sepele. So, ketika aku mendapati teman yang sendirian biasanya aku dekati. Gak jago bersosialisasi, tapi setidaknya selalu pasang muka ramah aja biar mereka tidak ragu mendekat dan bersahabat.

7. The normal a.k.a mayoritas


The majority of the class, average character that I found in the classes (so I called it normal like in the normality test in statistics), is the normal because they act in group. Most of the classes dominated by this species. They know what’s going on in the class, but resistant to speak unless other friends speak too.
Mungkin sekarang aku masuk ke tipe normal ya hehe sosialisasi jalan. Pinter banget enggak, bodo juga enggak. Selalu mengikuti alur kelas kemana pun pergi. Memperhatikan segala hal yang terjadi di kelas tapi malas berkomentar atau pun mengkritik. Biar lah itu urusan the talker dan the debater. Suka main ke kostan teman trus ngerumpiin temen-temen di kelas haha Bicara kalau guru yang minta, enggak mah diam aja. Malah lebih senang bicara bareng-bareng teman. Kalau salah gak kelihatan haha

Udah deh segitu aja. Ini bukan tulisan serius. Hanya menuliskan beberapa karakter teman dari sudut cara dia bicara. Gak pakai ilmu psikologi ataupun sosiologi, anthropologi atau apa lah. Ini murni based on my experience. Masih banyak juga karakter-karakter teman yang unik untuk diperbincangkan. Sebagai bahan renungan aja. No harm feelings. Bagaimana pun sifatnya, teman sekalas itu adalah teman untuk saling menimba ilmu. Boleh tidak suka dan memiliki karakter berlawanan, tapi selalu ingat harus saling menghargai karena kita memang diciptakan berbeda-beda.

Punya pengalaman dengan karakter yang aneh? Please share. . . see you 😊



1 comment on "Jenis-jenis Karakter Teman dari Gaya Berbicara"
  1. Ada sih bbrp yg pny karakter spt di atas, buatku sih asyik2 aja, kalo setipe malah asa kurang rame...hehe.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkomentar. Tidak ada link hidup di dalam kolom, ya. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel. Keep blogging, keep writing! :D