Personal and Lifestyle Blog by Rahma

1001 Masalah Berumah Tangga: Suami Kurang Suportif

Sunday, September 23, 2018

suami kurang suportif

Aslinya, aku bingung mau ngasih judul apa. Tiba-tiba ada yang curhat masalah rumah tangga. Waktu itu, hari Jumat, memasuki waktu dhuha, aku sedang duduk menikmati wifi kampus untuk mendownload film. Sayangnya, hampir semua website penyedia film langgananku sudah diblok 😥*pembajakan* jadi aku hanya bisa menatap layar monitar saja. Tiba-tiba mahasiswi di pinggirku minta bantuan. Kukira minta bantuan untuk benerin layar komputernya, soalnya dia nunjuk-nujuk monitornya gitu loh, eh ternyata dia minta dibantuin masalah statistik. Interval, jangkauan 😅 jantung aku kaget. Otak aku malah lebih kaget, tiba-tiba ngehang.


Cuma bisa jawab, “hhmmm? Huh? Apa? Kenapa gak tanya dosen statistiknya aja Teh?” 😅
“Dosen statistik ku sibuk banget.” Sahutnya. Ya, dengan segenap kekuatan dan pengetahuan yang tersisa aku coba bantu deh.

Tak cukup dari situ, Teteh itu, sebut saja Bunga, meminta pendapatku mengenai revisian tesisnya. Hati aku langsung tergoncang dong ini si Teteh kenapa tanya bocah kayak aku untuk revisi tesis. Kita juga beda jurusan. Mana aku tahu tesisnya sudah selaras atau enggak.

Sayangnya, Bunga ini terlihat desperately needs help, benar-benar butuh bantuan. Jadi, aku bener-bener gak bisa nolak. Mahasiswa tingkat akhir itu memang sangat amat perlu ditolong karena tekanan akademiknya tinggi. Tekanan ekonomi juga hehe . . . 😅

Setelah diskusi masalah tesis, dia tiba-tiba curhat.
“Pokoknya aku harus lulus bulan Desember. Aku udah gak kuat sama SPP-nya.” Aku mengerti banget perasaan Bunga. Walaupun dapat beasiswa, aku merasa ngeri setiap kali bayar SPP 😭 karena nominalnya emang gak sedikit.

Lantas aku coba untuk menyemangati dengan senyuman lebar dan tetap sabar, tapi gagal karena aku gak bisa bohong 😞

Dia tanya, “kira-kira aku bisa lulus bulan Desember gak ya?” dengan melihat alur proses penelitiannya, syarat TOEFL yang belum terpenuhi serta pengetahuan tentang publikasi jurnal yang minim, aku cuma bisa nyengir “mmmm . . . (hehehe)😅 “ gak tega untuk bilang gak mungkin, but nothing is imposible . . .

Kemudian dia mulai curcol deh tentang anaknya yang berusia 19 bulan. Hmmm jadi teringat Hisyam, keponakanku. Dia gak bisa ngerjain tesis di rumah karena anaknya nempel terus. Hanya bisa mengerjakan revisi di kampus. Lalu, cerita berfokus pada situasi rumah tangganya, yaitu sikap suaminya yang kurang suportif. Nah, sikap suaminya ini yang MENCENGANGKAN 😒

Dari awal, aku gak nanya-nanya masalah rumah tangganya kok. Aku belum berumah tangga kan ya, bisa ngasih saran apa aku ke orang yang lebih berpengalaman? Jadi selama ngobrol aku banyak dengerin tanpa bertanya detail.

Aneh juga sih, kami baru kenal beberapa menit yang lalu, tapi dia terus aja curcol tentang masalah pribadinya. I couldn’t help but listen. Mungkin dia bener-bener butuh “teman” untuk mengurangi rasa galau. Meskipun kebanyakan reaksiku cuma, “O” dan “wow”, setidaknya aku sudah mau mendengarkan. Takut juga salah ucap karena masalah rumah tangga itu sensitif.

Dimulai dari kisah dia menikah. Bunga didesak menikah karena alasan umur hingga dijodohkan oleh orang tuanya. Aku gak tahu umur dia berapa, tapi dari mukanya terlihat masih muda kok. Seumuran Teteh aku lah, sekitar 30an. Berarti nikah sekitar 27-28an? pertengahan 20? Iya sih, orang sini emang gitu hehe over 25, macam aku ini, udah dianggap rawan dan mesti cepet nikah. Well, aku cuma tebak-tebakan aja, aslinya I don’t know her real age karena kadang muka bisa menipu. Mungkin aja 40an hmmm mungkin...

Menurutku, orang tuanya mengira sang laki-laki sudah mapan dan mampu menafkahi anaknya. Usia matang. Pendapatan ada. Nunggu apalagi? Nikah (titik) padahal menurut pengakuan Bunga sendiri, dia maunya fokus kuliah dulu. Rempong punya anak sambil kuliah. Waktu tersita untuk anak dan sulit mengerjakan tugas kuliah. Aku lihat nomor induk mahasiswanya dimulai dari angka 14. Artinya dia sudah berkuliah di sini sejak 2014. Such a long journey untuk kuliah S2. Jadi gerah lihatnya 😖

Mau dikata apapun, akhirnya, sudah takdir dia untuk menikah. Bulan Desember dipertemukan, +/- 3 bulan kemudian menikah.

Harusnya sih, secara teori pernikahan ini menguntungkan karena pasangan akan membantu kebutuhan psikis (kasih sayang, perhatian, dan dukungan) dan keuangan, termasuk juga biaya kuliah. Nah, ketika dia bilang “gak sanggup di SPP”, aku kira gaji suaminya kecil banget dan dia merasa gak tega melihat suami harus banting tulang untuknya. TERNYATA, dia bilang “ini biaya kuliah masih orang tua aku yang bayar…”. Suaminya gak banyak bantu untuk urusan kuliah. Jadi aslinya dia udah gak enak dengan ortunya.

Deretan kalimat yang terucap dari mulut Bunga selanjutnya membuatku berkata “what the fvck?” dalam hati. Mungkin kata-kata di bawah ini gak sama percis dengan yang Bunga ucapkan tapi intinya sama dan aku buat semirip mungkin saat dia ngomong kemarin. Oia, ini kalimatnya gak berurutan. Aku tulis yang aku ingat aja. Here we go

“Aku kan masih tinggal sama orang tua, masih tergantung sama ortu, jadi kalau ada apa-apa minta uang dari ortu.”

Mungkin suaminya beranggapan, selama masih ada ibu bapaknya, jajan istri masih bisa minta ke orang tuanya. Bisa sih, tapi apa gak malu gitu membiarkan istri meminta uang pada ortu padahal dia mampu?! Atau mungkin suaminya gak punya cukup uang?

"Padahal gaji suami aku gede, 6 juta.” Tambahnya. 
Hmmmm gak miskin-miskin amat 😐

Aku dikasih jatah misalnya Senin sama Kamis. Senin 100rb dan Kamis 150rb. Jadi sebulan 1 jutaan.
Menurutku duit 1jt sebulan buat rumah tangga itu cukup, tapi untuk kondisi istri yang lagi berkuliah, itu kurang banget. Why? Ngeprint tugas, ongkos, dan penelitian itu juga butuh dana. Belum lagi dapur dan anak. Meskipun nebeng di ortu, kan tetep kita juga mesti masak (berkontribusi). Masa mau minta sama ortu terus?

Aku udah gak enak minta (uang tambahan ke suaminya) karena kadang dimarahi juga.
Berasa sinetron ini.

Suka ngungkit-ngungkit ‘hutang’ juga
Dalam hati aku kebingungan, mereka suami istri bukan sih? Ada acara hutang-hutangan segala lagi?!

Jadi, misalnya nih kita bertiga (dia, anaknya dan suaminya) jalan ke mall. Trus beli barang buat anak, tapi uangku (uang jatah) gak cukup. Aku minjem dulu ke suami. Nah, nanti misalnya hari Senin aku dikasih jatah, itu teh dipotong.
Trus aku kasih saran untuk bikin proposal pengeluaran dana bulanan biar suaminya bisa memperkirakan kebutuhan bulanan dia, sebagai ISTRInya.

udah kok. Nih lihat 
Dia nunjukin buku pengeluaran bulanan. Dia tuliskan setiap pengeluaran rumah tangga ataupun jajanan. Bahkan struk belanja dari minimarket pun ditempel di sana.

Suka ditanyain juga, duit habis dipakai buat apa aja. Jadi aku tulisin di sini.
...ini juga aku bawa bekal makan. Gak berani aku jajan. Aku ngeluarin duit cuma buat ngeprint, sama bensin.
Alhamdulillah sekarang tinggal di mertua jadi (urusan) anak ada yang ngebantuin (setidaknya ada waktu buat ke kampus ngerjain tesis).
Kadang kalau mau berangkat (ke kampus) suka ditanyain ada ongkos enggak (*ntah sama ortunya atau mertuanya aku gak tanya*), aku cuma jawab ‘ada’. Trus suka ditanya ada uang berapa, ya aku cuma ‘hehe’ (senyum). Kan ditanyain terus gak enak, aku jawab ‘ada 50ribu’ dan akhirnya dikasih (uang tambahan sama ortu atau mertua aku gak tahu, yg jelas bukan sama suaminya).
suamiku juga katanya suka nabung-nabung gitu. Tapi kalau aku minta lihat rekeningnya, gak dibolehin.
Aku gak mau tanya-tanya secara detail, yang jelas menurut pengakuan dia suaminya itu hanya ngasih uang untuk kebutuhan pokok, sandang dan pangan gitu lah. Biaya kuliah dia gak dihitung. Bahkan dia ngeluh, beli produk kayak sampo atau skincare aja agak susah karena harus rebutan dengan ongkos kuliah. 

…malah sekarang rencananya dia (suaminya) mau beli motor N*x yang harganya 29 juta gitu. Padahal dia masih punya motor dan masih bagus. Aku mah motor buluk (motor tua) aja minjem dari bapak.
Aku cuma bisa tercengang 0_0 ini suami sebenarnya cinta gak sih sama istrinya? Oh mungkin suaminya beli lagi motor biar punya motor masing-masing gitu ya? Wallahu’alam

Nah, sekarang orang tuaku agak nyesel juga.
iya sih, kalau sesudah menikah keuangan masih banyak disupport orang tua mah, sama-sama aja dengan situasi sebelum nikah. Malah sekarang punya anak, kuliah jadi agak terbengkalai. Tambah riweuh. . . Hmm, mulai terasa deh. Keputusan menjodohkan anaknya dulu kurang tepat. Yah, yang kurang tepat sih memilih laki-lakinya ini. Nasi sudah menjadi bubur, ikhtiar lagi, berdoa, dan tawakal.

Nah, begitu lah deretan kalimat keluh kesah Bunga yang ku ingat. Menyebalkan memang ya kalau suaminya benar seperti itu, tapi aku gak boleh menghakimi juga sih. Pertama, sekali lagi, aku gak kenal Bunga juga suaminya. Kedua, mungkin cerita versi suaminya, orang tuanya, atau mertuanya bisa beda lagi. Kadang ada istri yang ‘ringan’ belanja, hal yang gak penting sering dibeli, jadi suami super ketat memberikan uang. Ketiga, ini urusan sensitif 🙅

Trus ngapain cerita ini disebar? Supaya menjadi cerminan, ambil hikmahnya yuk
  1. Nikah bukan hanya umur yang dillihat, tapi juga kesiapan. Aku gak suka deh perjodohan yang ‘memaksa’ Mending kalau bisa memunculkan rasa kasih dan sayang. Kalau biasa-biasa aja, hubungan rawan banget renggang. Gak sehat dan menyiksa batin gitu.
  2. Lihat situasi calon pasangan. Apakah dia sedang berkuliah? Punya hutang? Apakah punya masalah dalam sifat/karakter/perilaku? Kira-kira kita siap gak menanggung semua masalah bersama?
  3. Mesti tahu peran suami dan istri, apa hak dan kewajiban masing-masing.
  4. Lebih bijaksana dalam menentukan prioritas pengeluaran.
  5. Mengurangi ego demi kepentingan keluarga, dimulai dengan mengalah pada hobi untuk kebutuhan lain yang lebih penting. Ya, gak enak juga kan, misalnya pasangan kita lagi butuh duit untuk sekolah anak, eh mau beli/nyicil motor? Atau mau pergi jalan sama temen? Atau mancing seharian? Gak peka! 😡 Intinya kalau pasangan punya masalah dan sedih, jangan mau enak-enakan sendiri.
  6. Melancarkan komunikasi suami-istri
  7. Dll kalian semua udah pasti tahu lah apa yang gak harus dicontoh pada cerita di atas.

Aku juga menulis secara sekilas tentang cerita Bunga ini di status whatsapp. Banyak reaksi yang muncul. Teman perempuan otomatis geram bacanya,….

“itu rumah tangga kayak MM, ada hutang segala antara suami dan istri”
“itu suami apa kosipa (koperasi simpan pinjam)?”
“bener-bener tuh suami… semoga dijauhkan”
“sumpah beneran ada orang yang kaya gini?”
“buanglah pada tempatnya”

Dan reaksi dari teman laki-laki ku

“tega...”
“ngeri…”
“parah banget itu”

Masalah rumah tangga seperti ini bukan pertama kalinya ku dengar. Beberapa orang di “lingkaran dalam” hidupku juga mengalaminya. Karena aku gak punya materi yang cukup untuk membantu dan pengetahuan berumahtanggaku masih NOOB jadi biasanya ku bantu dengan doa dan mendengarkan curhatan mereka 😅. Masalah memang tidak hilang, tapi setidaknya uneg-uneg atau tekanan bisa sedikit mencair.

Para ibu-ibu yang masih bersemangat berkuliah semoga berkah ilmunya untuk anak-anak tercinta. Mudah-mudahan juga suami mendukung, tidak hanya secara finansial tapi juga psikologis.

Untuk yang belum menikah, baik laki-laki dan perempuan, semoga sikap/perilaku kurang baik dan tidak peka si suami di atas dijauhkan dari diri kita saat berumah tangga kelak! 😊

SEDIKIT MEMAKSA
Doakan aku cepat selesai kuliahnya dan dipertemukan dengan jodoh
aamin 🙏

Ngeri tiap kali bayar SPP 😭
Lebih ngeri lagi tiap datang ke kondangan keluarga dan sahabat, 
kayaknya aku wajib untuk ditanya “kapan nyusul? Kapan sebar undangan?” 😭
Halah. . . kapan kalian berhenti bertanya? 😑

4 comments on "1001 Masalah Berumah Tangga: Suami Kurang Suportif"
  1. SEmoga cepat menikah ya dapat jodoh yang baik suuportif dan pengertian luar dan dalam... aku juga sudah menikah umur 2 tahunan, aku menikah dg teman kuliahku... alhamdulillah aman, ya memang meski berteman sudah lama gak jaminan tau segalanya...awal pernikahan bisa jadi sesuatu yang sangat romantis dan indah, lalu dtang masa masa penyesuaian yang penuh pertengkaran hahahaha gak nakut nakutin sih... tapi alhamdulillah sekarng lama lama saling mengerti satu sama lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. keren dari teman jadi halal. temanku banyak yang berhubungan selama kuliah, beres wisuda putus hehe pertengkaran bukan sesuatu yang harus ditakutkan karena pasti akan selalu ada. yang bikin khawatir itu kedewasaan dalam menyikapi masalah, perasaan aku masih bocah aja dari dulu :(

      Delete
  2. Semoga Bunga segera lulus kuliah, aamiin bangeett. Gk bayangin gimana pusingnya Bunga. Kayaknya saking gimana gitu ya, sampek los gitu cerita ke mbk an. Aku setuju sm poin2 di atas, terutama bagian bahwa calon pasangan harus ngerti hak dan kewajiban, mau saling belajar dan saling mendukung utk menjadi atau menuju ke arah yg lebih baik. Semangat mbk an, semoga cepet kelar kuliahnya. Dan doain aku juga yak, biar segera lulus juga. matur nuwun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamin, good luck. semoga kita diberikan jalan terbaik. . . :)

      Delete

Sebelum berkomentar centang dulu kotak "notify me/beri tahu saya" agar kamu mendapatkan notifikasi ketika aku membalas. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel :D