Personal and Lifestyle Blog by Rahma

Kelakuan Ekstrem Sewaktu Kecil

Friday, November 2, 2018

Terkadang ada saatnya aku ingin menulis sesuatu yang tidak berfaedah seperti tulisan ini. Sekedar mengurangi beban penyesalan hidup. Dari pada stress berkepanjangan mending disalurkan 😂 Mudah-mudah gak bikin yang baca tambah stress. Mari kita flashback ke masa-masa kecil kita yang "worry free", "No fear", "Dora the explorer". No stress just fun. . .


Kenapa tiba-tiba bercerita masa kecil? ada penyesalan kah? Ada, tapi masa itu sudah berlalu dan aku bersyukur bisa tumbuh dan berkembang. Hanya saja masa kecil memang membuat aku kangen dan selalu ingin berkunjung. Saat mengenang masa-masa "suci" itu rasanya seperti naik awan. Masa dimana kita seringan dan sebersih kapas putih. Polos banget 😂 

Kita mungkin tak ingat, tak sadar, dengan apa yang diperbuat. Ketika masa sekarang, kita mecoba untuk "flashback", mengingat kembali, suatu momen atau secarik foto masa lalu membuat kita menggelengkan kepala. Tertawa terbahak-bahak atau bahkan tertawa keheranan. "Kok gue dulu ekstrem gini ya? ehh amit-amit 😁 hahaha"

Setiap kali datang ke rumah di Garut, I always think about that time where stress didn't exist and the strange things that I did. Berikut cerita detail dari beberapa hal ektrem yang pernah aku lakukan saat kecil hingga membuat aku ketawa, heran sekaligus menyesal saat mengingat kembali 😅 hingga akhirnya bertekad, "ntar kalau gue punya anak, dia harus punya masa kecil yang lebih baik..."

Main di Tebing
Aku tinggal di daerah pegunungan. Kontur tanahnya naik turun sehingga ada beberapa spot curam seperti tebing di daerah menuju persawahannya. Tebing "mini" ini adalah lahan paling disenangi anak-anak untuk bermain.

Bisa main perosotan ekstrem. Kadang kita pura-pura jadi pendaki gunung gitu. Gak ada pengaman di sana. Kita bertumpu pada tanah labil dan kadang lembab karena rembesan air kolam ikan di atasnya, dan berpegangan pada akar dan pohon serabutan yang tumbuh di tebing. Sama sekali gak kokoh dan akhirnya banyak anak "berguguran". Jatuh kebawah dengan style seperti orang yang benar-benar jatuh dari ketinggian 1200 kaki 😂 

Baju kotor, sudah pasti. Aku melakukannya berulang-ulang kali dengan kawan-kawan yang sekarang ntah dimana, bahkan aku sudah lupa nama mereka. Asal ikut nimbrung kita teman. Gantian untuk mendaki dan terguling. Our friendship was easy. Tentu setiap pulang aku dimarahi dan diceramahi ibu. But that is the fun 😂

Sekarang sih sudah pasti aksi seperti itu terlarang. "Bahaya". "Baju kotor, emak males nyuci". "Banyak PR, kerjain tuh". Mungkin juga anak-anak udah malu main kotor-kotoran dan "mending main mobile lejen aja yuk". Aku sendiri "linu" kalau berdiri di pinggir tebing. Berdiri di atas kursi aja aku gemetaran 😂 mending main mobail lejen.

Berburu Katak/Serangga
Dulu sebagian besar rumah-rumah di tempat tinggalku memiliki pekarangan rumah berupa tanah bukan beton. Mereka juga memiliki kebun kecil yang lumayan rimbun. Lingkungan yang nyaman untuk hewan-hewan kecil hidup dan bersembunyi.

Musim hujan datang, bertanda bahwa para hewan harus keluar dari lubang rumahnya. Musim hujan  juga bertanda bahwa kami akan banjir "rejeki". Aku dan sepupuku adalah pemburu handal 😂 Kami biasa bermain di kebun nenek untuk mencari hewan. Ntah kenapa, kami senang saja melakukannya. 

Hewan terfavorit untuk diburu adalah katak dan serangga, semacam belalang. Kelakuan memburu hewan-hewan itu membuatku heran saat ini, "dulu aku seneng banget kalau megang kodok sama serangga. Kok sekarang takut banget ya?" Mungkin kah ini karma?

Waktu itu, sepupuku sudah siap berburu dengan membawa ember bekas. Kemudian kami menyelidiki lubang-lubang di rumah kami dan nenek. "eh lihat ada kataknya..." tanpa takut. Dengan menggunakan tangan, kami paksa katak-katak beserta keluarganya keluar dari lubang. 

Mulai dari katak mungil selebar tombol keyboard hingga katak besar, lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa, kami angkut dan masukan ke dalam ember kemudian ditutup dengan papan. Kami bawa ke rumah nenek untuk "dipenjarakan" di kolam kecil, yang berfungsi sebagai kolam tadahan air hujan. 

Saat kolam kering, katak dari ember kami pindahkan ke kolam dan ditutup lagi dengan papan. Terdengar katak berloncatan, menyundul papan dari dalam. Lantas kami tertawa senang. Was I crazy? 😂 Menjelang siang para bibi sudah pulang bekerja mendapati anak-anaknya sedang "bertingkah".

"kenapa kalian tertawa? kenapa kolamnya ditutup?" Mereka penasaran dan membuka papannya. YES! katak seember tadi langsung berhamburan keluar kolam dan para bibi menjerit HAHAHA 😂 

Jauh dalam hati waktu itu, aku sangat ingin memelihara kodok terbesar yang kami tangkap. Betisnya gempal. Aku pikir "kenapa ibu mengeluarkan uang banyak untuk membeli daging ayam? aku bisa berburu daging katak, banyak sekali. Mungkin akan ku ternakan." Hanya saja, aku tak tahu kodok mesti dikasih makan apa. . . So I let it go.

Setelah puas main katak aku pulang ke rumah, langsung makan tanpa sendok/garpu dan tanpa cuci tangan. Saat makan, samar-samar aku mendengar ibu mengobrol histeris dengan bibi tentang kejadian katak tadi. Kemudian ibu masuk rumah dengan bau keringat terbakar matahari dan setengah melotot padaku yang sedang makan.

"CUCI TANGAN DULU TIDAK?" ibu sangat tahu bahwa aku adalah anak terjorok di rumah. Responku hanya.. "mmmmm 😶" langsung aku dijewer dan dibawa ke kamar mandi. "Jorok kamu...  sudah main katak cuci tangan dulu bla bla bla..."

Nah, kalau berburu serangga gak beda jauh juga. Kami mengumpulkan beberapa belalang yang agak besar dari kebun untuk "diamati". Ini lebih psikopat sih. Aku selalu penasaran dengan bentuk perut belalang yang agak menggembung. Pikirku, "apa mereka sakit? atau hamil dan tidak bisa melahirkan?" 

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk membedah para serangga itu. Well, I found nothing mereka langsung mati begitu ku tusuk perutnya. Waktu itu juga aku heran sih, "kenapa serangganya gak bangun lagi? padahal di film kalau sudah operasi orang-orang bisa bangun lagi?" 

POLOS banget gak sih? aku gak akan sebut bodoh or dumb karena aku benar-benar tidak tahu dan sudut pandang anak tentu sangat berbeda dengan anak dewasa atau sudut pandangku di usia 26 tahun sekarang ini. Anak-anak akan selalu mengejutkan, pastikan kita mengawasinya.

Sekarang, karmanya adalah aku takut banget sama serangga dan geli banget sama katak. Karena perbuatan-perbuatan masa kecilku yang mencintai alam sekaligus merusak alam juga, aku tidak mau merusak alam lagi. Setidaknya tidak mau "ikut campur" urusan alam. Biarkan semua terjadi alami.

Perang Mulut dengan Geng Anak RW sebelah
Dulu mah geng-gengan kalau tawuran cuma sebatas adu mulut dan saling sahut nama orang tua doang. Gak kayak sekarang yang dihayati dengan aksi "smack down"  dan bullying terus menerus. 

Masa-masa berperang adalah masa dimana aku belajar kata-kata kasar. Kalau di rumah mana berani berkata seperti itu. Kadang, orang dewasa pun selalu terpingkal saat geng anak-anak ini berperang. Suatu waktu aku disindir sama Aa (kakak laki-laki). Dia pernah mendengar aku berkata kasar, tapi pengucapannya lucu gitu.

Setiap kali melihat aku berbicara selagi bermain, dia selalu tertawa, "apa dek, anak caha cia? hahahahha" aku juga bingung, "kenapa sih si Aa kok ngomongnya aneh." Ternyata, tanpa aku sadari aku mengeluarkan kata-kata itu saat berperang, dan terdengar oleh Aa.

Kan kalau pingin ngatain musuh harus tahu nama ortunya, jadi dengan garang aku bertanya ke musuhku itu dengan bahasa kasar. "Anak saha sia?" 'sia' adalah kata kasar dari 'kamu'. kalimat itu bermakna, "kamu anak siapa?". Karena aku masih kecil, pengucapanku masih terbata-bata jadi yang terucapkan, "anak caha cia!?"

Otomatis garangnya gak keluar dong. . . dan Aa yang mendengarkan langsung tertawa.

Tak heran dulu orang tua kami selalu berucap, "ah cuma anak-anak" dan saling memaklumi karena mereka tahu kami tidak memiliki potensi menyakiti hingga menyebabkan anak lain meninggal atau bunuh diri. Malah ya itu tadi, lucu.

Mereka juga tidak segan untuk menasehati anak orang lain yang terlibat. Maksudnya, tidak memenangkan anaknya ketika salah dan tidak menyalahkan anak orang lain juga. Sekarang sih, ibu-ibu kok jutek-jutek ya. 

Aku selalu mendengar desas-desus di sekolah Kakak-ku. Kalau anaknya berantem, adu mulut, atau gak akur dengan anak lain. Itu ibu-ibunya juga ikut gak akur! 

"Nayla, sini nak. Jangan main sama Binbin"
"Ah biarin anak orang (lain). Ada emaknya ini."
"aduh, ini bukan anak saya. saya segan"
"ih Mamahnya Nayla mah bla bla bla. . ." ntar dibalas lagi dan digosipin sama geng ibu-ibu sebelah.

fyuuuh, parenting is challenging.

Makan Upil :( AKU MENYESAL SEUMUR HIDUP 😭
Aku adalah salah satu orang beruntung di dunia ini karena telah merasakan rasa upil sendiri 😭😭😭😭😭 Ini semua berawal dari keisengan Aa. Jyaah, kenapa pula aku punya kakak yang begitu sadis ngerjain adeknya. 

Kami berbeda 11 tahun. Waktu itu, dia sedang di masa remaja. Paling sering rebutan tv sama aku. Dia mau nonton gosip aku mau nonton Power Ranger. Berantem sampai naik "ring smackdown" dan ujungnya pasti aku kalah dong, tapi kan ada Ibu jadi anak kecil selalu menang dan tv berhasil aku kuasai.

Intinya sih, Aa itu bener-bener suka ngejailin aku dibandingkan menjaili adiknya yang lain. Kejailan dia yang paling parah adalah mengajarkan "trik menjilat upil" t*i kucing. . . aku nyesel banget dikadalin 😭😭😭😭😭 aku gak nyadar itu cuma trik dan orang lain pun gak nyadar kalau aku bener-bener suka makan upil. kampret bener gak sih? menghancurkan memori masa kecil banget.

Awalnya, "dek, dek. lihat nih. Aa makan upil." aku kaget dong, "ih upil dimakan, jijik."
"enggak dong-dong! upil teh enak. Begini nih caranya. Kamu pakai jari ini trus ngupil dan dijilat... " dan aku kaget, sumpah 😱 

Padahal aslinya dia gak jilatin upil sih 😓 dia pakai jari telunjuk buat pura-pura ngupil dan dengan kecepatan super dia ganti dengan jari bersih pas pura-pura ngejilatnya. Aku kan hanya seorang anak kecil yang merasa itu adalah NYATA. Yang aku lihat dia benar-benar ngejilat upil. Trus aku ikutan ngejilat upil secara nyata tanpa trik jahanam itu.

Mau tahu upil rasanya gimana? Ini upil aku yah, gak tahu upil kalian rasanya kaya gimana. ueeek jijik. itu awalnya jijik, tapi lama-lama "eh kok asin yah,... gurih..." teksturnya mirip kismis kering yang orang-orang suka kasih pas pulang dari Mekkah. Aku pikir, "apa jangan-jangan kismis itu juga upil yang dikeringkan dan dikasih rasa manis?"

Lama-lama aku jadi agak sering makan upil t*i banget Rahma.... not coool at all dan orang-orang, bahkan keluargaku mungkin enggak tahu kelakuan jahanamku itu. Kayaknya si Aa juga gak ngeh kalau aku keterusan. 

Pada satu titik aku berkesimpulan, "mungkin makan upil itu kayak kentut. Sebenarnya orang-orang sering makan upil, tapi harus secara diam-diam karena memalukan." Kesimpulan terg*bl*k yang pernah aku buat.

Aku sadar itu semua adalah perbuatan keji dan terlaknat ketika salah seorang kakak perempuanku menjelaskan trik jahanam Aa, dengan pelan dan peragaan lambat. "Jadi, Aa itu enggak makan upil dek. Nih, lihat. Ini jari telunjuk, kamu masukan sedikit ke hidung, pura-pura ngupil. Terus, pas mau jilat,... tuh (dia memperagakan dengan lambat) jari tengah yang dijilatnya bukan telunjuk."

Jahat gak sih orang yang suka ngejailin anak kecil yang polos suci dan tak berdosa? Jangan suka membodohi anak ya. Ntar anaknya jadi bodoh beneran. 

Please, gak usah bahas-bahas rasa upil. Jijik sumpah. "Lah kan aku sendiri yang ngebahas wkwkwk 😂😂😂😂😂😂😂 NEXT"

Curang pas Main Kartu
Tidak berhenti di trik upil jahanam, Aa membantuku untuk "berjudi". Saat itu, main kartu bergambar sedang naik daun. Pernah beli kartu bergambar? lembaran kertas yang bagian depannya berjajar kotak-kotak bergambar kartun, superhero dll, dan bagian belakang biasanya berupa simbol-simbol rambu lalu lintas beserta artinya.

Cara "mengadu kartu"-nya adalah
1. Masing-masing peserta harus menyetorkan beberapa kartu, misal 5 kartu, untuk diadu.
2. Kemudian semua kartu akan dikocok dihamburkan ke dinding
3. Kartu dengan posisi tertelungkup (gambar simbol lalu lintas mengahadap ke atas) artinya gugur/mati
4. Kartu yang masih hidup diadu kembali hingga menyisakan satu kartu yang hidup dan keluar sebagai pemenang.
5. ATAU jika semua kartu tersisa yang masih hidup adalah milik dari satu peserta, maka peserta itu menang.
6. Pemenang berhak mendapatkan bayaran berupa kartu sebanyak setoran awal dari masing-masing peserta yang kalah.

Mungkin, karena aku kalah terus, kartu-kartu ku habis dan terus menerus minta uang ke ibu, yang gak punya banyak duit, untuk membeli kartu, Aa  berinisiatif untuk memberikan "trik" jahanam padaku. 

"Begini, dek, kalau pingin selalu menang. Ambil kartu dengan gambar yang sama. Kita lem bagian belakangnya trus disatukan (sembari ngelem). jreng.. jreng... tuh kan. bagian depan sama belakang jadi sama-sama bergambar. Mainin aja satu kartu ini, jadi bakal menang terus. Tinggal hati-hati weh. Jangan mencurigakan"

"hmmm iya 😈..." aku mengangguk serius dan berangkat berjudi kembali.

Adu kartu makin nghype. Proses bermain pun dipercepat "udah lah gak usah kocok-kocokan, langsung aja diadu. biar cepet..." keputusan ini sangat menguntungkan. Kartuku bebas dari pemerikasaan.

Ronde 1. Aku menang. Ronde 2. Aku juga menang. Ronde 3,4,5 aku menang terus 😋 semua lawan mainku gak ada yang ngeh. ya, namanya juga bocah kecil sih ya. Dari semula aku cuma punya beberapa puluh kartu, pulang ke rumah aku bawa sekantong keresek besar kartu gambar. Serasa jadi jutawan.

Trik ini hanya bertahan beberapa hari karena ada satu anak yang ketahuan memakai trik tipu-tipu ini. Ngelemnya gak rapih jadi ketahuan deh. Sejak itu, aku putuskan untuk pensiun dari adu kartu jenis mengadu di tembok dan beralih ke adu kartu jenis gepok pake tangan 😂 susah curangnya kalau main gepokan pakai tangan. 

mau tau cara mainnya gimana? gak usah. gak penting...

Hikmah dari curang dalam berjudi adalah bener-bener unfaedah dan jauh dari keberkahan. Judi aja udah haram, ditambahin curang 😂 Selepas aku menang besar, semua kartuku dibakar Bapak. Gak bermanfaat katanya. Menumbuhkan cinta judi dari pada cinta ibadah. Bener sih. 

Maling Buah Ceremei
Tindakan naik pohon dan metik buah tanpa sepengetahuan pemilik sudah biasa dilakukan oleh anak-anak. Buahnya mah gak seberapa, kadang gak terlalu suka juga, tapi sensasi berada di atas pohon itu yang bikin seneng. Mirip orang yang naik tiang kapal bajak laut gitu loh. 

Ada juga sensasi menegangkan ketika sang pemilik keluar dan berteriak,, "WOI, BOCAH, TURUN LO SEMUA..." Kan kita jadi tibuburanjat buru-buru turun dari pohon seperti segerombolan monyet dan lari seperti anjing kesetanan 😂

Berhubung aku punya buah jambu yang sering menjadi korban bocah perompak, aku jadi gak suka naik pohon sembarangan dan gak mau memetik buah tanpa ijin pemilik. Tiap kali diajakin teman untuk naik, aku selalu menolak, "enggak ah, takut. itu kan namanya maling."

Kemudian ada saat kepolosanku tiba. Salah seorang kawan mengajak bermain di atas pohon ceremai di sebuah pekarangan rumah, "Dek, ayo sini naik. Ini ceremainya enak loh." Aku ragu, takut yang punya pohon marah.  

Rumah pemilik kan sangat dekat dengan pohonnya, dia akan mudah mengejar kami jika ketahuan. Sedangkan aku paling susah lari, pasti mudah ditangkap sang pemilik. Kalau tertangkap ku pikir nanti aku akan dirantai dan dimasukan ke kandang seperti cerita si monyet dan kura-kura itu loh.

Untuk beberapa lama, aku menunggu di bawah pohon. Was-was dan siap lari jika pemilik tiba, tapi yang punya gak keluar-keluar. "Dek Rahma, ayo sini naik...!" temenku masih mengajak dan ku lihat mereka lagi asik makan buah ceremai. Menggoda banget. 

Ku tanya, "kalian udah minta ijin ke yang punya ya?" dengan cepat dia jawab, "iya, sok sok buru. Cepet naik." akhirnya aku naik juga deh. "Nih Dek, ceremainya. Asem asem enak loh..." sepertinya itu pertama kalinya aku lihat buah ceremai. Aku bahkan gak tahu itu buah ceremai atau bukan.

Baru saja aku mau menggigit buahnya, tiba-tiba pintu rumah pemilik pohon terbuka, cekrek... belum sempat orang dari rumah keluar teman-temanku sudah sibuk turun dan menyelamatkan diri sembari teriak-teriak "kabuuuuuurrrrrrrrrrrrrr...."

Dalam hati aku ingin nangis, "temen kurang ajar kalian! gimana caranya aku kabur? aku gak pandai naik-turun pohon. aku gak pandai lari juga.... 😭 aku kira udah minta ijin" 

Saking takut dimarahi oleh pemilik pohon, kayaknya aku setengah loncat dari pohon dan setengah sadar pas lari. Yang ku inget dadaku sesak banget dan pulang ke rumah.... sial banget. Gak sempat tahu rasa buah ceremei itu gimana.

Dari pengalaman itu, aku tetapkan bahwa hal yang menyengsarakan dalam hidup adalah ketika kita hanya ikut-ikutan tanpa tahu apa-apa dan memakan yang bukan hak kita.

Menginjak Kebun Orang Lain
Beberapa dari kalian akan menganggap bahwa beberapa kelakuan yang ku ceritakan tidak termasuk kategori ekstrem. Kelakuan kalian dulu mungkin lebih parah dari ini, tapi karena aku ini anak polos, kelakuan yang aku sebutkan sudah termasuk ekstrem di hidupku. Termasuk, menginjak-injak kebun orang lain tanpa sengaja.

Lagi-lagi aku orangnya "iya-iya" aja sama orang lain dan penakut. Suatu pagi, aku masih sendiri dan anggota keluarga lain masih sekolah/bekerja. Aku diajak main oleh teman ke sawah, "Dek, main yuk ke sawah. Ibu kamu gak akan marah kok. Ada mamah aku lagi kerja di ladang. Lagi panen." Oke, ada orang dewas jadi aku merasa akan aman bermain di sawah.

Nyatanya, gak semua orang tua mampu mengawasi anak dengan benar. Usia juga tidak membuat seseorang menjadi bijak ataupun cerdas.

Di sebelah sawah yang sedang dipanen ada kolam ikan dengan pohon pohon rindang di pinggirnya. "Pindah ke sana yuk Dek, panas..." aku ikutin dia. Agak sulit untuk bertenduh di sana karena ternyata area itu dipagari oleh bambu yang dipotong tipis, mirip bambu untuk anyaman gitu. Aku lupa istilah pager itu disebut apa. 

Pagernya gak terlalu rapih jadi aku kira cuma sampah di sawah aja. Soalnya banyak sisa bambu, dedaunan, jerami yang bisa ditemukan di sana. Akhirnya kami berdua bisa masuk juga ke tempat sejuk. 

Anehnya, ketika aku merasa kalau tanah yang kami injak sangat gembur. Teksturnya "lembut" tidak keras seperti tanah untuk berjalan pada umumnya. Kemudia aku juga melihat banyak biji-bijian berjatuhan.

Ku tanya temenku, "ini biji apa ya? kok banyak..." sebelum dia jawab, kita mendengar teriakan seorang ibu-ibu di areal bawah persawahan. Karena terlalu jauh, aku gak ngerti yang diomongin apa. Kami bahkan berfikir ibu-ibu itu orang gila. 

"eh itu bijinya keluar tanah", "iya Dek, tuh beberapa masuk ke kolam juga. Kita buang aja biji-bijinya ke kolam. Biar gak banyak sampah..." Selagi sibuk membuang sampah, ibu-ibu tadi setengah lari dan masih teriak-teriak.

Makin dekat. Suaranya makin kenceng dan makin jelas, "JANGAN DIINJAK_INJAK ITU TANAHNYA BARU DITANAM" Para bibi yang lagi panen sontak kaget dan baru sadar juga! "eh bocah-bocah kenapa main di sana?! sini! itu tanahnya baru ditanam gak boleh diinjak! Tuh yang punya marah deh. Udah pulang sana ke rumah. Nanti kalian dimarahin... hush hush..."

Buat orang lain kejadian begitu biasa aja, tapi buatku dulu, itu semua bikin aku amat menyesal dan takut. Aku lari ke rumah untuk sembunyi trus diam di deket jendela untuk mengawasi. Was-was si pemilik kebun datang ke rumah dan marah-marahin aku.

Ada sekitar sejam aku harap-harap cemas di jendela itu. Tetehku tanya, "kenapa sih lihatin jendela terus, lihatin apa..?" aku cuma bilang, "gak apa-apa." dengan keringat yang mengucur dari kepala, dan jantung berdegup kencang.

Bahkan keesokan harinya aku masih takut dan memutuskan untuk tidak menggunakan baju yang ku pakai main kemarin. Takutnya, pemilik tahu kalau aku adalah pelaku pengerusakan kebunnya.

Pengalaman ecek-ecek itu sampai sekarang menjadi salah satu yang menakutkan. Aku merasakan betapa menakutkannya ketika melakukan kesalahan yang memang kita tidak sadari atau ketahui tanpa ada kesempatan untuk menjelaskan ketahuan kita atau sekedar menyampaikan maaf.

Alright, guys,,, tulisan unfaedah ini udah lumayan panjang. Mohon maaf kalau memang tidak bermanfaat. See you :)
Post Comment
Post a Comment

Sebelum berkomentar centang dulu kotak "notify me/beri tahu saya" agar kamu mendapatkan notifikasi ketika aku membalas. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel :D