Personal and Lifestyle Blog by Rahma

Asus A405U Review setelah 4 Bulan Pemakaian

Tuesday, December 25, 2018
review asus a405u

Setelah empat bulan memakai Asus A405U, aku sedikit menyesal beli laptop ini. Bukan penyesalan yang dalam sih, tapi gimana ya. Laptop ini bikin deg-degan. Mungkin, sudah takdir harus merasakan harap-harap cemas. Kita bahas dari awal pembelian yuk...

Mengapa tertarik dengan Asus A405U?

Pertama, aku suka banget sama desainnya yang tipis dan ringan. Memiliki ketebalan sekitar 18,8mm  dan bobot sekitar 1,45kg, di bawah 2kg pokoknya. Walaupun Asus A405U berlaya 14 inch, ukurannya lebih mirip laptop 13 inch karena frame monitornya dibuat lebih ramping dari laptop 14 inch pada umumnya. 

Kedua, aku butuh laptop yang cepat saat me-load aplikasi, tapi juga murah. Nah, katanya sih jika ingin laptop yang cepat saat membuka aplikasi maka cari laptop yang memakai SSD (solid state drive). Setelah aku cari, rata-rata laptop dengan SSD itu di atas angka 10 juta. Sehingga, aku pikir harga dari Asus A405U yang memilik 128GB SSD dan 1TB HDD ini bisa dibilang terjangkau.

Ketiga, memiliki kemampuan yang lumayan. Asus A405U ditenagai dengan intel core i5-7200U, RAM 8GB dan Nvidia Geforce 940mx. Dibandingkan dengan notebook-ku sebelumnya, Asus X200CA dan E203NAH, tentu spesifikasi itu sudah jauh lebih baik 😅 Bye-bye lemot. . .

Dimana belinya?

Aku beli laptop Asus A405U dari akun resmi ASUS di Shoppe seharga Rp9.599.000,- sekitar bulan Agustus 2018. Berarti sekarang sudah sekitar empat bulan aku pakai.

Kekurangan yang dirasakan

Pertama, tombol power menggantikan posisi tombol delete. Sebuah tren kekinian yang menyebalkan. Aku, dan banyak orang, sudah terbiasa dengan tombol delete di posisi pojok kanan atas keyboard yang sekarang digantikan dengan tombol power. Awal pakai, sering sekali aku menekan tombol power ketika sedang mengetik. 

Kedua, suara kurang kencang. Keluaran suaranya kurang wow, gak asik. Ntah karena pengaturannya yang belum aku benerin atau gimana. Aku merasa kecewa dengan keluaran suaranya untuk laptop seharga 9 jutaan. I mean it is a lot of money dan suaranya gak jauh beda sama notebook-ku yang 3 jutaan.

Ketiga, touchpad kurang responsif. Kadang seret untuk menggerakan pointer atau tiba-tiba aja gak bisa menggerakan pointer walaupun udah aku geser-geser di touchpadnya. Pastinya, gak enak untuk mengedit dokumen.

Masalah terberat yang dihadapi

Minggu kemarin laptopku ini mati total di saat deadline tugas menyerang. Menyeramkan! Penyebab utamanya aku gak tahu. Waktu itu lagi nonton film di kosan temen, sambil dicharge. Beberapa saat kemudian laptop ku mati. Kami kira karena masuk mode sleep, ternyata memang benar-benar mati. Semua lampu indikator mati meskipun laptop sedang dicharge

Aku bawa ke Datascrip Service Center, tempat service resmi ASUS, yang letaknya di ruko Hyper Mall 23 Paskal, Bandung. Seminggu kemudian, laptopnya selesai diperbaiki. Mereka bilang ada penggantian mesin.... apa ya? mainboard? well i don't know. Pokoknya aku udah bahagia ketika laptopnya bisa menyala kembali atas perbaikan gratis (masih garansi dong) dan semua data masih ada.

Masalahnya, sekarang pengisian baterai stuck di 80%, gak 100%. Ketika sudah mencapai 80% muncul tulisan "... not charging". Beberapa teman menyarankan untuk melepas baterainya dulu, baru kemudian dicharge. Sayangnya, baterainya kan integrated gitu loh, susah dicabut 😔

Untuk saat ini aku belum mau memperbaiki baterainya. Gak terlalu mengganggu juga sih. Walaupun cuma 80%, baterainya masih bisa bertahan lama, lebih dari 4 jam. Diklaim bisa bertahan sampai 8 jam ketika baterai 100%. Yang aku rasakan dulu saat masih normal, gak sampai 8 jam kok. Tergantung pemakaian aja sih.

[update 1] ternyata masalah baterai laptop yang cuma bisa dicharge sampai 80% diakibatkan oleh pengaturan balanced mode battery. Jadi di ASUS A405 ada pengaturan battery health charging agar umur baterai lebih panjang.

Ada tiga mode di sana:(1) Full capacity mode, (2) balance mode, dan (3) maximum lifespan mode. Pengaturan (1) adalah mode normal untuk mengisi baterai hingga 100%, dengan konsekuensi umur  baterai (lifespan) akan lebih pendek. Nomor (2) hanya sampai 80% dan nomor (3) sampai 60% dimana kedua mode ini mampu membuat umur baterai lebih panjang. [update 1 end].

Kesimpulan

Asus A405U secara umum telah memenuhi kebutuhanku yang gak suka lemot. Hanya saja pengalaman mati total itu yang membuat agak ilfeel sama laptop ini. Terlepas dari kerusakan tadi, performanya sejauh ini masih memuaskan. Enak dipakai ngetik, browsing, edit foto dan video, dan gak terlalu berat kalau dibawa jalan. 

Hmmm game? Aku gak ngegame di laptop and this is not a gaming laptop.


Post Comment
Post a Comment

Sebelum berkomentar centang dulu kotak "notify me/beri tahu saya" agar kamu mendapatkan notifikasi ketika aku membalas. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel :D