Personal and Lifestyle Blog by Rahma

Membuktikan Asumsi Berkuliah S2

Saturday, April 27, 2019
berkuliah S2 UPI

Sudah lama banget ingin bercerita kembali tentang proses perkuliahan. Bukan riya atau sombong. Berkuliah S2 itu masih jarang di lingkunganku. Jangankan S2, S1 saja agak sulit. Adapun yang S2, kebanyakan dari mereka mengikuti kelas jauh. You know lah ya, perkuliahan kelas jauh itu gimana. Tidak banyak orang yang mampu memberikan gambaran what's actually going on at master degree?



Minimnya gambaran tentang perkuliahan itu sempat membuat aku takut melanjutkan kuliah karena aku bukan orang yang senang mengambil resiko. Kalau tidak tahu 'medan tempur' biasanya aku mundur. Nah, sekarang aku mau berbagi cerita tentang proses perkuliahan S2 biar orang-orang penakut seperti ku bisa mempersiapkan diri.

Cerita ini terbatas ya. Maksudanya, hal-hal yang kuceritakan tentu saja di perspektifku di program studi pendidikan bahasa Inggris, Sekolah Pascasarjana UPI. Ini sangat penting untuk dicatat karena tiap orang punya pandangan sendiri dan tiap jurusan ataupun program studi punya budaya dan kebijakan sendiri.

Sebelumnya, dulu ada beberapa asumsi tentang kuliah S2 yang sempat terlintas dan sekarang perlahan mulai terjawab kebenaranya:
1. hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah bekerja
2. harus linier dengan program studi sebelumnya
3. hanya orang-orang yang ada di level native-like yang mampu berkuliah di S2
4. Full-English classroom
5. Mata kuliah lebih banyak dari S1, kuliah pagi sampai malam
6. Mengerikan

S2 hanya untuk mereka yang sudah bekerja? 

Itu ternyata tidak terbukti. Walaupun rata-rata temanku sudah mengajar, ada juga yang fresh graduate S1. Ada juga yang belum pernah mengajar sama sekali kecuali PPL mungkin. Jenjang S2 terbuka bagi siapa saja yang penting memenuhi syarat dan lulus tes masuk. Oleh karena itu, tidak heran kalau penghuni kelas sangat variatif, muda-tua, experienced & novice, semua dalam satu kelas.

Bersatunya orang tua dan anak muda justru membuat senioritas lebih rendah. Beda sama S1. Selisih setahun aja udah dianggap senior tingkat dewa. Males kan ya, dibentak-bentak sama kaka tingkat (kating) pas ospek? atau dijudesin karena kurang hormat sama kating? selamat! di jenjang S2 gak ada tuh senioritas lebay kayak gitu. Usia tua atau muda sama saja. Kami semua mahasiswa yang sedang menuntut ilmu.

Hanya bisa berkuliah S2 di jurusan yang sama dengan S1!

Tentang linieritas itu juga tidak benar. Beda jurusan dengan S1 pun bisa diterima kok. Ada temenku yang S1-nya sastra Jerman masuk S2 pendidikan Bahasa Inggris. Malah ada satu temenku yang udah senior yang S1-nya teknik (arsitektur). Tapi karena cinta bahasa Inggris, dia mengajar bahasa Inggris. TOEFL, IELTS dan sertifikat mengajarnya keren lah. 

Mungkin, akan banyak yang memberikan saran mengambil jurusan linier. Kenapa? Menunjuang karir. Contohnya, dulu ada peraturan bahwa seseorang harus memiliki gelar linier jika ingin menjadi dosen PNS (kalau gak salah ya). Masalahnya, kebijakan pemerintah selalu berubah-rubah. Jadi, ikutilah kata hati.

Kedua, spesialisasi. Kali-kali aja kalian ingin jadi professor. Dengan mengambil jurusan yang linier pembelajaran dan area penelitiannya akan semakin spesifik, detail. Kalau sudah spesifik menekuni satu "research topic" bisa dikatakan kita akan menjadi seorang ahli aka expert. Gak sembarangan ngajar. Itu sih dua poin utama tentang pentingnya linieritas.

Yang non linier gak usah takut bakalan blank saat belajar ya. Kenapa? karena yang linier kayak aku juga sama-sama blank kok wkwkwk. Mungkin aku pernah mendengar satu-dua istilah atau teori waktu belajar di S1, tapi bukan berarti aku udah paham. Di jenjang ini lah teori-teori itu diperdalam. Intinya sih, kita semua sama-sama dari nol. Itu lah mengapa, jenjang S2 masih mau menerima calon mahasiswa non linier.

Jadi, gak masalah ya kalau ambil beda jurusan selama kalian mampu mencerna bacaan dan bahasan. Sama-sama dari nol kok.

Jenjang S2 hanya menerima mereka yang speakingnya native-like

Salah satu pemikiran yang bikin aku takut untuk lanjut kuliah dan merasa gagal sebagai sarjana pendidikan bahasa Inggris. Speaking-ku gak bagus. Jauh dari native-like a.k.a mirip bule. Eh tapi, dengan kemampuan yang biasa-biasa aja, aku bisa lulus.

Banyak juga teman-teman yang speakingnya kayak aku. Antara bahagia dan sedih juga sih. Bahagia karena aku ada temen yang speakingnya di level yang sama. Sedihnya, bertahun-tahun belajar bahasa Inggris dan sudah/akan menjadi guru, ternyata speaking kami masih di level rendah :( yang native-like hanya beberapa biji aja.

Jangan fokus ke speaking aja sih karena semua kemampuan juga sangat penting. Reading comprehension sangat penting untuk memahami jurnal dan buku. Kegiatan yang gak akan pernah berhenti selama perkuliahan! Writing sangat penting untuk ujian. Di sini tidak ada ujian lisan. Hampir semuanya memaksa kami untuk menulis essai, makalah dan laporan penelitian. Listening comprehension penting banget lah! Harus ngerti apa yang dosen tanyakan dan ucapkan.

Just in case, kalian bertanya-tanya "kenapa selalu ada syarat skor TOEFL 500/550?". Menurutku ini sebagai pemacu untuk meningkat kemampuan berbahasa. "Kan aku jurusan biologi! gak butuh inggris!" BUTUH BANGET cuy. Jurnal-jurnal berkualitas itu dituliskan dalam bahasa internasional which is ENGLISH. Gak perlu bisa cas-cis-cus ngomong Inggris, at least bisa memahami ide utama suatu bacaan. Reading comprehension... comprehension... comprehension is number one.

Aduh kegiatan belajarnya full English!

Tergantung dosen ini mah. Ada dosen yang full English, bilingual, multilingual dan bahkan ada yang full Indonesia. Idealnya memang memakai bahasa internasional, tetapi pengajar juga mempertimbangkan kemampuan mahasiswa. Ada beberapa hal juga yang lebih enak diutarakan dengan bahasa ibu. Apa poinnya pakai bahasa asing kalau tidak membuat siswa ngerti? 

Lah ngapain ambil jurusan bahasa Inggris kalau gak bisa bahasa Inggris? Buat belajar! Supaya bisa. 

Dosen yang selalu full english memotivasi kita untuk meningkatkan kemampuan. Begitu juga dosen yang menurunkan bahasanya ke bahasa indonesia. Mereka mencoba mentoleransi ketidakmampuan mahasiswa supaya kami tidak berputus asa.

Mata kuliah lebih banyak dari S1, kuliah pagi sampai malam

Terbalik. Kuliah S2 justru matkulnya lebih sedikit. Maksimal SKS per semester saja hanya 15. Akan tetapi masalah waktu kuliah dari pagi sampai malam ditentukan oleh jadwal yang diberikan staff prodi ya. Di kampusku perkuliahan terakhir selesai jam 5 sore. Lepas jam itu gedung tutup.

Mengerikan, bikin stress!

Betul. Buatku semua proses pembelajaran di sekolah itu mengerikan dan bikin stress. SMA, S1 dan S2. Prosesnya itu sangat sulit, apalagi tugas akhirnya. Akan tetapi, jika proses itu sudah selesai ntah kenapa selalu ada perasaan "gak terlalu susah kok. gampang."

Contoh saja, dulu aku stress mikirin makalah ilmiah dan skripsi untuk syarat lulus SMA dan S1. Nah sekarang setelah melewatinya, aku pikir dua poin tadi terasa lebih mudah untuk dilakukan. Atau mungkin waktu SD kelas 4, aku ngerasa pembagian dan perkalian itu susah banget. Nah, sekarang itu semua terasa mudah.

Saat ini, aku masih dalam proses berkuliah, maka aku masih beranggapan kalau kuliah S2 itu mengerikan, susah, membuat stress dll. Tapi, gak tahu ya kalau nanti sudah lulus.

Intinya, "berproses" itu selalu tidak mudah. Kita dituntut untuk mengeluarkan semua kemampuan untuk bisa naik ke level yang lebih tinggi, agar kita berubah menjadi lebih baik. Tidak hanya diuji dalam aspek kognisi tetapi juga psikologi karena proses itu tidak hanya membutuhkan kemampuan berfikir yang baik tetapi juga daya tahan dan kesabaran yang kuat.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Penggambaran dan pembuktian asumsiku ini bukan untuk membuat teman-teman menjadi ragu. Justru sebaliknya. Semoga teman-teman bisa yakin. Yakin akan lanjut kuliah atau yakin untuk tidak melanjutkan hehehe 

Setiap orang kan punya alasan dan rencana tersendiri. Tidak mau melanjutkan sekolah bukan berarti tidak suka menimba ilmu atau anti pendidikan. Ada peran dan tempat untuk tiap individu agar potensi yang dimiliki bisa muncul dengan maksimal. Jika berkuliah di jenjang S2 tidak akan mengembangkan potensi, mungkin kita perlu mencari tempat lain.


1 comment on "Membuktikan Asumsi Berkuliah S2"

Sebelum berkomentar centang dulu kotak "notify me/beri tahu saya" agar kamu mendapatkan notifikasi ketika aku membalas. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel :D

Auto Post Signature