Personal and Lifestyle Blog by Rahma

Memories with Students: Amel

Saturday, October 26, 2019

guru dan murid

Beberapa kisah bersama murid tercinta, Amel. Aku memang lumayan dekat dengan para murid. Amel ini salah satu yang paling dekat karena dia selalu curhat banyak. Anaknya memang super friendly dan senang bercerita. Kita beberapa kali hang out bersama and we had a great time back then. Kelasnya sudah berakhir sejak dua minggu kemarin, a bit sad. So, aku ingin berbagi memori itu di diary online ini.


1. makan siang bareng saat atau sesudah kelas

makan siang dengan murid

Kalau aku gak bawa makan atau gak ada waktu buat makan siang karena gak ada jeda dari satu kelas ke kelas lain, di sela-sela mengajar biasanya aku izin makan dulu sebentar. Kadang Amel juga ikut makan bareng. 

Beberapa kali kita order gofood. Seingatku order barengan pertama kita Ramen. Trus selanjutnya selalu baso aci hahaha emang itu favorit kita sih. Pernah juga Amel sengaja bawa baso aci dari rumah buat makan siang bareng di kelas. She knows me so well.

2. Nonton Bareng 

Waktu itu baru release film IT Chapter Two and I think I have to watch it in the cinema biar horor nya terasa banget, tapi susah cari teman nonton. Kebetulan Amel ini orangnya gak terlalu penakut. So, aku coba-coba invite dia and she was so excited. Maklumlah, temen-temennya udah punya "dunia" sendiri. Jadi dia udah jarang jalan. Makanya dia bersemangat nonton. 

Selama nonton itu dia teriak2 dong. Hahaha kocak emang. Sampai dia bilang, "miss aku lemes banget..." Aku agak khawatir. Takutnya ini anak sakit karena kelaparan. Trus aku tawarin makanan. "Bukan lapar miss, filmnya bikin aku lemes..." Horornya film IT sudah merasuki tubuh Amel 😅 

Setelah beres nonton, kita makan di J.co. Kasihan juga aku bawa dia ke sini. Why? Harganya mahal rotinya sedikit. Melihat tatapannya sih aku yakin dia belum kenyang. Aku tahu lah, dia tuh orangnya seneng makan. Kawat gigi aja bisa patah saking hebohnya dia makan. Aku tawarin lagi buat ngebaso, "ayo miss, mau aku mah hehe..." emang gak ada raut muka takut gendut. Ada makanan enak dikit, hantam!

3. Menjadi tukang curhat 

Udah gak asing lagi ya, kalau pengajar itu selalu dijadikan tempat curhat para murid. Begitu juga dengan Amel yang selalu bercerita tentang uneg-unegnya pada dunia dan kehidupan keluarga nya yang agak kompleks. Tapi aku salut sama anak ini karena di balik hidupnya yang agak ngebatin, dia selalu tersenyum lebar dan sangat bersahabat dengan orang-orang sekitar. 

Satu curhatan yang menjadi concern aku adalah tentang keinginannya bergabung dengan kowad atau juga kepolisian, tapi dia belum mencapai tinggi badan yang diinginkan sebagai persyaratan utama. Aku selalu bilang coba aja dulu. 

Waktu tes pertama tahun 2019, dia gak lulus tes kesehatan/fisik. Tinggi badan kurang 1-2cm dan gigi kurang rapih. Untuk menghadapi tes di tahun depan, keluarganya mencoba "memperbaiki" kekurangan itu dan menurut Amel itu semua tidak mudah ataupun murah.

Dibalik rasa syukur mendapatkan support tinggi dari orang tua, aku paham Amel juga merasa memiliki beban berat. Itu yang selalu bikin Amel takut. Kalau tidak berhasil menjadi polisi atau kowad, it means dia sudah menghamburkan banyak uang. But still I say everything will be okay. Itu sudah kewajiban ortu, tinggal kita berusaha dengan keras juga.

4. Belajar berenang

Karena Amel harus tinggi dan memiliki fisik yang sehat, dia selalu berolahraga, terutama berenang. Berkebalikan banget dengan tutornya yang malas gerak 😅 Terus aku iseng minta diajarin renang. Aku sampai pergi ke tempat tinggalnya yang berjarak belasan kilo dari rumahku hanya untuk berenang. Sekitar 1 jam pakai motor.

Sampai sekarang kita baru sekali berenang bareng, tapi pelajaran bernapas yang diajarkan Amel sangat berguna. Semangat dan keaktifan dia dalam berolahraga juga masih aku rasakan. Alhamdulillah, sekarang aku sedikit bisa berenang dan mulai bergerak dengan olahraga bulu tangkis.

Seru! Selain bertukar cerita kita juga bertukar ilmu.

Buatku Amel sudah berusaha menjalani semua jalan dengan semangat. Tetap berjuang meski banak keraguan dan ketakutan di hatinya. Mari kita doakan Amel ya. Semoga tahun depan dia bisa memakai seragam resmi kepolisian atau pun kowad.

Good luck Amel. I'll miss you.
Post Comment
Post a Comment

Sebelum berkomentar centang dulu kotak "notify me/beri tahu saya" agar kamu mendapatkan notifikasi ketika aku membalas. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel :D

Auto Post Signature