Wadah Curahan Hati

SoML (2): Kebodohan

Tuesday, June 2, 2020
Aku jarang berolahraga. Tidak pernah bekerja berat. Tidak memiliki asma. Rebahan adalah jalan ninjaku. Tapi, mengapa dua - tiga tahun terakhir ini dada sering sesak. Dua bulan ini helaan nafas semakin perih. Kepala berat, hidung membeku dan paru berduri. Oh, bukan covid-19, tapi cupid-19 Hahaha maaf aku hanya ingin menertawakan kebodohanku.

Kebodohan besarku, 1997? 2010, 2011, 2018, 2019, 2020.

1997 - tidak suka mendengarkan orang tua. 
2010 - mencari teman semu untuk mengganti sepi.
2011 - menjauhi Tuhan.
2018 - mengikuti "ajaran" sesat.
2019 - plin plan bertaubat.
2020 - menangisi yang tak seharusnya. berharap pada yang tak seharusnya.

Rentetan kebodohanku. Begitu sulit untuk mengakui bahwa sesuatu telah terjadi dan aku butuh pertolongan. Butuh 24 tahun hanya untuk mencari akarnya, kemudian mencoba membalikan fakta setelahnya...
Sombong. Orang-orang bilang aku pintar. Mengapa harus minta bantuan?
Egois. Ini hidupuku, semuanya tentang diriku. 
...dan sekarang aku sedang melawan arus. Ntah akan sendiri atau tidak, aku belum memutuskan.

Ini memang sangat melelahkan untuk si ulat kasur. Matanya perih mencari tanda yang sekiranya ia bisa artikan. Jalan mana yang akan ia coba. Kaki mungil nan lembut sudah bercucuran darah dan nanah. Akankah ada yang mau mendekati yang kotor dan menjijikan ini? Tapi, tidak bisa berhenti dan menyerah. 

Aku masih meyakini...
Kamu harus bangkit. Memohon ampun. Bersihkan diri. Perlahan, melangkah. Bergeser. Berguling. Melata. Bergeraklah. Pindahlah walau sejengkal. 
...dan mencoba menjauhi...
Kau tahu? melangkahlah terus. Kan kau dapati akhir yang sama. Mengapa tidak berikan apa yang kamu inginkan? Selesai. Tidak akan ada lelah, sesak ataupun hal bodoh lagi. Only once...and done.
Suatu ketika aku melihat orang sakit. Lemah. Bergantung pada orang lain. Kemudian ia mengeluh dan mengeluh pada si 'perawat', terkadang marah. Setelahnya dia memohon agar segera dipanggil, "cabut saja nyawa hambaMu ini..." 

Benar-benar manusia aneh. Sudah ditolong, masih saja marah tak bersyukur. Bukannya bangkit, malah ingin mati.

Suatu ketika aku melihat kerabatku bermasalah dengan hubungannya. Menyakiti diri sendiri. Membeli berbagai barang. Berfoya-foya. Jarang berkumpul bersama keluarga. Mengambil yang bukan haknya, tapi selalu meminta bagiannya, "mana uang jajanku?"

Benar-benar manusia aneh. Tidak tahu diri. Ibu yang merawat, cinta kau berikan pada yang lain. Kau sakit, keluarga pun yang ikut susah.

Saat itu aku tertawa. Menatap kebodohan manusia lain dari kejauhan. Membuat tertawa orang-orang yang melihatnya. Kemudian, mereka merasakannya dan diam. Iya, sekarang aku terdiam.

Jalanku mungkin berbeda, tapi ujungnya sama. Aku memohon untuk sesuatu yang bodoh. Menghabiskan uang untuk kesenangan. Menyakiti diri sendiri sebagai sebuah panggilan. Mempertanyakan hak dan batil. 

Ujungnya sama... kenapa Tuhan masih memberikan banyak jalan?

Ketika kamu sakit. Kamu cari obat dan jalan kesembuhan.
Ketika kamu ditinggalkan. Kamu cari pengganti dengan jalan yang tentram.

Barangkali jalan-jalan seperti itu yang Dia ridhoi untuk aku ambil.

Kamu tidak perlu meminta hal bodoh ataupun menyakiti.
Ketika waktu telah tepat dia datang sendiri, terlarang untuk diminta.

Kamu tidak usah berfoya-foya.
Semuanya akan musnah.

Bersedih, berbahagia.
Secukupnya, sewajarnya.
Bersabarlah. . . 

Semua kesalahan itu sudah tercatat. 
Kebodohan yang kamu lakukan, tak akan terhapus.

Sekeras apapun tangisanmu,
Sebanyak apapun sayatan itu,
Kebodohan di masa lalu tidak akan berubah.

let this writing remind me of
how stupid I was

No picture for this post,
I'm so tired.
Post Comment
Post a Comment

Sebelum berkomentar centang dulu kotak "notify me/beri tahu saya" agar kamu mendapatkan notifikasi ketika aku membalas. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel :D

Auto Post Signature