Personal and Lifestyle Blog by Rahma

SoML (3): Memanfaatkan Pertemanan sebagai Obat

Wednesday, June 3, 2020
pertemanan

Apa sih teman itu? Kata-kata yang sulit didefinisikan loh. Aku agaknya ingat kasus Syahrini dan Luna Maya hahaha Satu pihak pertama merasa dia bukan temannya sedangkan pihak lain menganggap berbeda. Hanya karena berada dalam satu lingkungan belum tentu loh orang mau menganggapnya teman. Kalau kenalan mungkin iya, tapi istilah itu jarang terucap karena seperti tidak menghargai perasaan orang lain.


"padahal aku nganggap dia teman loh, tapi kok dia... ah sudahlah"
"kita sekelas sih, tapi aku gak begitu dekat... temen sekelas aja gitu lah"

Akhirnya teman lebih baik diberikan kluster ketimbang disadingkan dengan kenalan. Ada yang namanya sahabat, teman deket, ada teman biasa aja, ada teman tapi musuh dll.

Sering bertatap muka dan mengobrol juga belum tentu teman. Dalam satu kelas selalu ada saja orang yang bersebrangan. 

Tidak semua yang mengakrabkan diri juga ingin menganggapmu teman. Ternyata mereka hanya ingin menunjukkan kesopanan semata. Bisa dirasakan lewat auranya. Ini banyak terjadi di lapangan dan aku juga sering melakukannya hehehe. Ujung-ujungnya sih ini berkaitan dengan rasa. Kenyamanan, keamanan, kepercayaan. 

Kadang aku mengkategorikan teman berdasarkan kemampuannya. Ada teman yang pandai mendengarkan dan bijaksana dalam memberi nasehat dan ada juga teman yang aku khususkan untuk bersenang-senang saja.

Penting banget untuk mengenal karakteristik teman agar bisa "dimanfaatkan" dengan benar. Bukan cuma dijadikan tempat berhutang.. aduh. No No. Apalagi dijadikan budak suruhan. Wah, sudah melenceng dari definisi teman itu.

Aku baru saja merasakan manfaat luar biasa dari seorang teman untuk berbagi. Sebelumnya aku pikir tidak pantas teman-teman dipusingkan dengan masalah kita yang terlalu pribadi. Cukup tentang akademik saja. Ternyata tidak.

Semua orang memiliki batasan dalam menyelesaikan masalah dan teman ini yang akan meringankannya. 

Seperti saat ini. Aku ingin mengakhiri beban yang dikurung selama berpuluh tahun. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah bercerita pada teman. Mengapa bukan keluarga?

Memecah masalah rumit perlu dimulai dari hal yang paling sederhana. Lingkungan keluarga, betapa pun itu lingkungan pertama dan primer, tapi isinya sangat rumit. Terdiri dari orang-orang beda usia dan beda pengalaman. Belum lagi "senioritas". Rasa aman pun terancam. Sedangkan keamanan adalah prasyarat untuk "keintiman".

Kejadian 2 bulan lalu membuat aku kehilangan kemampuan untuk berfikir waras. Beban yang berpuluh tahun aku simpan pun akhirnya tak bisa aku tahan lagi. Seperti tanggul jebol. Semua perasaan negatif keluar dengan cepat dalam waktu bersamaan.

Di saat seperti itu aku sama sekali tidak teringat teman. Lantas, seperti biasa aku mencari cara untuk mengatasi masalah lewat google. Ada sekitar 5 cara di artikel itu. Aku coba satu per satu kecuali berbicara pada teman. Ternyata tidak ada perubahan yang berarti. Tidak ada pilihan lain. Aku memang harus mencoba berbicara.

Tentu saja bingung. Pertanyaan pertama adalah "kepada siapa?". Aku cek semua social media. Menatapi nama demi nama.

"hmmm dia sudah berkeluarga, sibuk pasti, malah mungkin punya masalah lebih serius dariku. Gak berakhlak banget kalau aku ketuk pintu cuma buat berbagi masalah. Kalau yang ini, dari statusnya sih lagi ada masalah juga ahhh enggak, enggak. no. ini juga no. no. no." 

"yang ini laki-laki, dia selalu memberi nasehat dan bijak, tahu batasan juga... tapiiiii nanti disangka yang enggak-enggak... tambah repot...skipp hmmm yang ini juga laki-laki ah skiipp gak kan paham dia."

"wah, siapa lagi? sepertinya tidak ada... sudahlah aku lelah" 

Hampir saja melakukan hal bodoh, beberapa saat kemudian... ditakdirkan oleh Tuhan...di bulan ramadhan itu tiba-tiba ada satu teman yang tidak terpikirkan sama sekali mengetuk DM instagram. Dia teman kuliah, beda kelas. Emang sering banget bercanda sih, tapi ya hahaha gak nyangka hadir pas aku butuh... 

Kita tentu berbincang seperti biasa dan bercanda. Tiba-tiba perasaanku menjadi lebih baik. Hidup seperti lebih bercahaya.

Hmmm... betul. Aku memang harus banyak bicara. Teman itu bernama Asan. Dia menawarkan diri,"kalau ada apa-apa. ngomong aja, aku siap 24 jam kurang 12 jam WA aja aku. Lumayan hotline gratis aku mah"

Selesai beberapa hari setelah lebaran aku ajak dia makan diluar. Karena aku yang minta, jadi aku yang jemput dia. Di jalan aku benar-benar takut. "Bisa gak ya aku ngomongin ini? Bakal bener gak ya? Malu-maluin gak sih? Dia bakal menghakimi aku gak ya?" 

Kita sampai di tempat makan. Trus membicarakan kabar masing-masing. Kabar dia. Trus masalah jodoh hahaha soalnya Asan tuh kayak anak kecil dan aku belum pernah dengar dia deket sama siapa gitu. Kadang aku mikir, "ini anak gimana nanti pas jadi ibu ya? bocah wae.." 

Suasana sudah hangat, waktunya memberikan opening masalahku. Aku tidak sanggup mengucapkan secara langsung, begitu membuka mulut untuk bercerita mata aku sudah berkaca-kaca dan sakit tenggorokan. Jadi aku kasih screenshot catatan psikolog aja ke Asan. Ya, beberapa minggu sebelumnya, aku konsultasi online sama psikolog. 

Beruntunglah, ternyata Asan sudah tepat. Responnya bikin aku tenang dan lebih kuat. Dia tidak menunjukan rasa "kasihan" yang sudah sesuai dengan ekspektasiku. Semakin aku dikasihani, semakin sulit aku bangkit, merasa direndahkan begitu. Malah dia ngasih informasi tenaga profesional di sekitar sini yang mungkin bisa bantu.

Hari itu, satu beban sudah ku bagi dengan satu orang. Aku merasa lebih ringan. Sedikit lebih optimis. 

Sebenarnya aku masih ingin mengobrol banyak dan lebih detail, tapi Asan harus antar ibunya. Ya sudah, aku gak enak juga "menculik" anak orang. Aku antarkan Asan ke rumahnya. Walaupun cuma bertemu 2 jam, it helped much. Thank youuuuuu. . . . Asan.

pertemanan

Tiba di rumah aku sedikit berbahagia. Ternyata aku punya teman sekarang. Selain psikolog itu, tentu hanya Asan satu-satunya orang yang tahu masalahku. Aku upload kesenangan tadi di WA status dan ditakdirkan lagi... aku harus bersilaturahmi dengan teman lain. Ada yang merespon statusku...

Itu teman SMP. Lagi-lagi dia tidak satu kelas denganku tapi masih tetap mau bersilaturahmi, namanya Dedew sang petualang. Dia kecil, selalu ceria dan cerewet. Jiwanya pemberani. Pernah mengajar keluar pulau dan sekarang kerja serta berkuliah di Jakarta, which I don't like :(

Dia bilang ingin meetup. Nah, aku invite saja ke rumah. Lebaran tahun lalu aku kan berkunjung ke rumahnya, sekarang giliran dia.

Sebenarnya dibalik keceriaan dan cerewetnya, aku tahu dia juga punya masalah A, B, C, D ... Z. Tahun lalu aku mendengarkan kisahnya, keluarganya, pengalamannya, cintanya. Ya begitulah perempuan. Topik obrolannya random.

Besoknya dia datang. Aku bahagia banget. Kemarin bertemu teman sekarang ada teman juga. Bisa saling curhat juga. Karena aku sedang melow, gampang menangis, jadi aku ajak dia mengobrol di kamar saja.

Saat kemarin curhat ke Asan, aku merasa lebih baik. Mungkin kalau aku curhat ke Dedew aku akan tambah baik juga. Tapi, gak bisa aku curhatin hal yang sama. Melihat topik interest dan pengalaman dia, mungkin cerita 2 bulan lalu lebih pas didiskusikan dengan Dedew.

As always, sebelum aku curhat aku dengerkan dulu kabar dia, cerita dia, dan segala curhatnya. Obrolan itu terasa nyaman sampai tiba-tiba dia bilang kurang lebih seperti ini, "aku ke sini teh mau ngasih ini..." dia ngeluarin surat undangan,"...aku mau nikah, Neng."

pertemanan

Aku seharusnya bahagia kan? tapi ini seperti tersambar petir dan agak sedih. Seolah-olah aku akan ditinggal sendiri. Aku gak ingat langsung memberikan ucapan selamat, tapi aku merasa kosong banget. 

Beberapa teman yang punya pasangan itu pasti akan berbeda. Ketika ingin curhat atau hang out, selalu ada rasa segan karena mereka sudah punya prioritas lain. Tidak seasik dulu.

Temanku saja Deb yang baru bertunangan udah jarang hangout sama aku. Why? Karena aku juga gak enak ngajak jalan. Kalau dulu lagi gabut biasa ngajak jalan, sekarang ya dia udah punya teman lain buat jalan. 

Apalagi untuk orang-orang yang sudah menikah. Aku seperti tersingkirkan secara alami dari pikiran mereka. Pun perasaanku sama. Menyisihkan sendiri.

Yah, aku dengarkan perjalanan Dedew hingga bisa menikah. Lika-likunya. Dia juga pernah merasa stress dengan perlakuan dari laki-laki yang dia suka. Bahasa kasar yang ia terima membuat dia seolah tak berharga. 

Bersedih hati bertahun-tahun. Akhirnya, perjalanan itu menuntunnya ke laki-laki lain yang berjuang lama untuk menghalalkannya. Dedew tidak pernah melirik, tapi laki-laki itu tetap menanti. Dew membuka hati dan "move on" pun terjadi.

Hmmm mungkin benar kita harus membuka hati agar luka lama terobati. Lalu, aku bilang pada Dew satu nama kandidat yang mungkin bisa mengobatiku. Aku suka sejak 2017. Dia suka memberi perhatian tapi dia tidak pernah memberi sinyal apapun hingga akhirnya aku dimangsa fakboy dan berakhir seperti ini. Dew jelas kenal nama itu dan dengan cepat dia menjawab....

"ahhh kamu telat, orang itu sudah dengan yang lain... aku gak mau ngasih harapan palsu ke kamu. Jangan terlalu berharap ke dia. Berdoa saja."

Sambaran petir kedua. Optimisme yang coba aku bangun sejak kemarin runtuh juga. Walaupun aku mencoba untuk tidak bersedih, sudah terlihat jelas aku sedih sekali. Untuk menutupi kesedihan atas kabar tadi, aku ganti topik itu dengan ceritaku yang lain. Aku hanya butuh menangis.

Ternyata, aku tidak bisa berbicara dengan benar. Aku hanya mengucapkan, "laki-laki itu dengan mudahnya bilang 'aku tidak mau bertanggung jawab' ..." and I cried so hard. I just couldn't hold it. 

Dedew mencoba bertanya lebih detail, tapi aku gak sanggup. Tenggorokanku seperti tercekik. Dew cuma bisa membiarkan aku menangis. OH MY BUCIN, never thought I would go through this.

Dew sudah lelah mendengarkan ceritaku. Belum lagi dia harus mempersiapkan pernikahannya. Di tengah pandemik seperti ini segalanya memang amat sulit. Apalagi, calonnya berasal dari luar jawa. Aku doakan semoga acaranya lancar dan mengantarnya pulang ke rumah.

Sore harinya aku mengirim pesan ke "kandidat" tadi untuk mengonfirmasi saja. Tentu dengan gaya bahasa tersirat. Benar ternyata. Malah dia minta rekomendasi hadiah ulang tahun untuk perempuannya itu, "Ma minta rekomendasi hadiah buat ce... ultah".

Sakit memang, tapi tentu aku bersikap "profesional" sebagai teman.

Malam harinya, si kandidat itu minta saran lagi untuk teman perempuan lain yang punya kasus sama kayak aku, korban fakboy. Ok, ok. Kenapa si kandidat itu bisa tahu aku korban fakboy? Dia orang pertama yang kepoooooooooooo kenapa aku stress. Ke-kepoan dia ngetrigger aku buat curhat dan marah-marah. 

Untuk kasus temannya ini memang lebih parah sampai melukai diri sendiri. Perempuan itu dulunya pernah suka juga sama dia. Mungkin merasa perlu bertanggung jawab terhadap "penggemar" nya yang curhat, jadi dia perlu memberi nasehat dengan mendengarkan saran dari korban fakboy lain.

Dengan masalah sendiri saja aku belum becus, diminta nasehat untuk urusan itu sepertinya aku belum mampu, "temenin ke psikolog aja." itu aja saranku.

Malam itu aku benar-benar lelah membalas pesannya. Padahal gak banyak pesan yang aku kirim. Harus menyembunyikan rasa. Menghapus asa. Mencari lagi akar-akar untuk bertahan. Tentu aku kabari teman-teman lain yang tahu urusan ini. Sekali lagi aku memanfaatkan teman untuk memecah sedih. 

Aku kirim pesan dengan nada, "i'm okay...hahahaha" hanya untuk memastikan mereka tidak perlu khawatir berlebihan. Tidak pernah terpikir betapa menyakitkannya menulis "hahaha" dan mengirim emoticon tertawa di kala hati sedang sedih... hahaha

Hari itu, ntah berapa kali aku menangis. Setiap solat, berdoa, membaca Quran. Hendak makan, tidur, mandi. Teman manalagi yang harus aku "manfaatkan". Hari berikutnya doaku semakin keras meminta pertolongan. Ingin merasa lebih baik. Itu saja.

Toxic sekali lagu-lagu yang ku pilih, Surrender - Natalie Taylor, Can We Kiss Forever? - Kina, Changes - XXXtentacion. Silahkan didengarkan sobat galau. Tiktokers pasti paham. Alay bangedh lah... 

Tuhan menjawab doaku. Dikirimnya temanku, Ar, untuk bersilaturahmi. Dia menyebar postingan lewat WhatsApp dan dari sana percakapan dimulai. Ar sudah menikah dan memiliki anak usia 2 tahun-an. Aku tidak mengira dia akan sesenang itu membalas pesan-pesanku. Biasanya kan ibu muda itu sibuk. Hpnya dipegang anak.

Melihat perilaku chatting nya, aku merasa pernah berada di posisi itu. Sangat antusias membalas pesan. Seolah lewat percakapan itu dia berkata, "aku ingin bertemu, aku ingin bercerita, di sini sepi." 

"boleh lah meetup ...." ajak ku dan respon dia positif banget.

Besoknya, aku berkunjung ke rumah Ar. Janji jam 10 tapi aku datang 30 menit lebih awal hehehe salah perhitungan. Karena suasana rumah yang nyaman dan percakapan banyak disela oleh anak kecil, jadi aku menghabiskan sekitar 5 jam di sana. Lamaaa. Emang tamu kurang akhlak hehehe Suaminya lagi kerja sih, jadi kita curcol terus.


Topiknya random... apapun kita bicarakan: family, parenting, friendship, work. Aku tidak terlalu banyak bercerita tentang kejadian-kejadian kemarin secara lengkap. Belum sanggup. Hanya beberapa hal saja sih seperti keadaan mentalku sekarang karena itu fokus utama yang ingin aku obati.

Melihat situasi rumahnya yang sepi, Ar sepertinya sangat senang jika aku sering berkunjung. Kita sepertinya akan bertemu lagi. Aku minta Ar untuk belajar mengaji bersama, tahsin ya namanya? memperbaiki bacaan Qur'anku. 

Sejak 2 bulan lalu, awal kesedihan ini, aku menghabiskan banyak waktu untuk menangis. Ketika menangis tentu ada kecenderungan untuk menahan tangisan dan itu sangat melelahkan. Aku sangat ingin berteriak tapi tidak bisa jadi kepalaku sering sakit. 

Aku hanya bisa "berteriak" saat bernyanyi dan mengaji. Dua hal itu lumayan mengurangi sakit kepala. 

Suaraku sangat tidak indah. Pasti banyak orang yang akan protes saat aku bernyanyi. Malah membuat orang lain sakit kepala hahaha. Tapi, kalau aku mengaji, membaca kitab suci, sepertinya orang-orang sulit untuk protes. Maka dari itu, aku ingin bacaanku benar. Bukan asal "berteriak" saat mengaji.

Ntah siapa lagi nanti yang akan ku temui, tapi sekarang aku banyak berdoa untuk dipertemukan dengan orang-orang baik. Orang-orang yang memberikan pengaruh positif dalam kehidupan. Tidak sekedar bercanda, tertawa dan memulai drama. Mereka senantiasa memberikan manfaat pada sesama.

Ingin cepat bertemu teman-teman lagi. . . dan memanfaatkan pertemanan ini dengan baik.

Buat teman-teman, maafkan Rahma banyak curhat.
Berbagi cerita dengan teman adalah obat paling terjangkau yang bisa aku dapatkan saat ini.
Post Comment
Post a Comment

Sebelum berkomentar centang dulu kotak "notify me/beri tahu saya" agar kamu mendapatkan notifikasi ketika aku membalas. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel :D

Auto Post Signature