Wadah Curahan Hati

SoML (5): Menikah di Tengah Corona

Sunday, June 14, 2020
pandemik corona dan pernikahan

Situasi saat ini memang serba sulit. Wabah penyakit menular, covid-19, menutup banyak akses seperti transportasi, sekolah dan beberapa pelayanan publik. Demi menghentikan penularan, dibuat peraturan atau himbauan (aku tidak tahu ini disebut apa karena mencla mencle) yang mengajak orang-orang untuk tidak berkumpul dan tetap berada di rumah. Imbasnya, segala acara yang melibatkan banyak orang harus terganggu termasuk pernikahan.

Sedikit menyenangkan. Tidak banyak undangan pernikahan yang harus aku hadiri. Masa sensitif. Aku agaknya jenuh melihat banyak pasangan mondar-mandir di sebuah pesta ditambah suara musik yang menggelegar meretakan jiwa. 

Terbalik dengan para calon pengantin yang menyimpan 'uneg-uneg' karena tidak bisa all out saat melangsungkan pernikahan. Sepupuku harus rela menunda akad nikah dan resepsi hingga waktu yang tidak ditentukan. Selain faktor menghindari kerumunan, faktor transportasi menjadi penyebabnya. Si calon berasal dari luar pulau dan transportasi belum sepenuhnya normal.

Aku tidak banyak bertanya, "kenapa tidak akad saja dahulu baru resepsi?" Setiap orang memiliki pilihannya masing-masing. Terkadang ada beberapa orang yang merasa tidak afdol jika hanya melangsungkan akad nikah dalam situasi yang sangat sederhana tanpa resepsi. Tidak all out.

Hal ini pula yang dirasakan keluarga temanku, Dew. 

10 hari sebelum pernikahan, Dew datang ke rumah dan dengan tiba-tiba dia memberikan undangan pernikahan di saat hidupku berbanding terbalik dengannya. Awalnya aku tidak ingin datang ke pernikahan. Hati aku masih perih. Tapi, dengan cara mengundang yang amat personal seperti ini membuatku tidak bisa menghindar. Aku harus datang.

Tidak selayaknya orang yang akan menikah, nervous namun bahagia, Dew cenderung stress dan tidak terlihat glowing. Nampaknya, si corona ini biang keladinya. Calonnya berasal dari luar pulau. Tidak ada kepastian apakah bisa datang atau tidak,

"aduuh aku takut si Abang gak bisa datang, tapi ya aku pasrah lah... ini (lewat telepon) pahitnya."
"Lah aku kira udah di Jakarta." balasku,

"Enggak, dia pulang dulu ke Jambi... 3 hari sebelum hari H rencananya baru sudah sampai di Jakarta bersama keluarga, tapi sekarang bandaranya masih ditutup... enggak tahu kapan dibuka lagi." kata Dew.

Begitu kecemasan yang diutarakan Dew saat mempersiapkan pernikahan. Segalanya dia yang siapkan. Undangan, makanan, acara dsb. Serasa menikah sendiri.

Sekitar 6 hari menjelang hari H, aku sempat berkunjung ke rumahnya. Kursi-kursi sudah di luar teras. Karpet sudah digelar dan makanan berjajar rapih untuk para tamu. Rumah neneknya yang bersebelahan pun terlihat sibuk layaknya orang-orang yang sedang mempersiapkan hajatan.
Di kampung, ada istilah 'ngawuwuh'. Para tetangga dan kerabat akan berkunjung beberapa hari sebelum pernikahan. Biasanya mereka memberikan "hadiah" dan si keluarga pengantin memberikan "souvenir". 
Di hari itu, ada beberapa tamu yang datang, tapi suasana masih sepi. Jadi, aku dan Dew memiliki banyak ruang dan waktu untuk bercerita mengenai persiapan pernikahannya. Dia mengutarakan rasa khawatirnya kembali karena si Abang masih belum ada kepastian bisa terbang atau tidak. 

Dew adalah orang yang sangat ceria dan kuat. Tidak menangis ataupun memperlihatkan kesedihan lainnya. Ketika dia berkata "aku stress, aku khawatir" bukan berarti menangis-nangis dan bersedih hati. Hanya khawatir biasa. Tapi, aku tidak tahu di dalam hatinya seperti apa.

Hari yang dinanti datang. Aku berencana untuk hadir setelah dhuhur saja. Malas untuk berinteraksi dengan banyak tamu. Terbayang kan bagaimana suasana pernikahan? Berdesak-desakan. Orang-orang berpasangan dan aku sendiri hiks hiks... Jadi, nanti saja. Santai.

Pukul 12.30 aku meluncur, mengendarai motor skuter. Menapaki jalan beton nan berbatu ala-ala pedesaan yang dihiasi hamparan sawah di sampingnya. Segar. Sepi. Sunyi. Aku menikmati sekali. Nanti di sana tak kan ku dapati sunyi ini.  

Mendekati gang masuk rumah temanku, suasana masih sunyi dan tidak ada janur atau tanda-tanda hajatan "kok sepi... ihh apa aku salah lihat tanggal?" Tidak mungkin, sudah ku atur di kalender bersama Dew waktu itu. Ini tanggal yang tepat. "...atau jangan-jangan...". Aku tidak mau menebak-nebak. Ku parkirkan motor di pinggir jalan, lalu menyusuri gang menuju rumahnya.

Masih saja sepi dan sunyi di sepanjang gang. Di belokan terakhir aku melihat rumah temanku. Sepi. Masih sama seperti terakhir kali aku ke sana. 

Sebelum rumah Dew, aku harus melintasi rumah neneknya. Di sana ada tiga nenek-nenek yang sedang mengobrol di teras sembari menghadap rumah Dew. Aku mendengar,... "emmm kasihan. Si laki-lakinya tidak datang." Deg...

Rasanya, aku harus membagikan energi positif ekstra. Tidak boleh bersedih. Tidak terlalu mengasihani. Harus menguatkan.

Ku sapa Bapak Dew yang bersantai di teras dekat dapur, "Assalamualaikum Pak... Dewnya ada Pak?"

"Oh, silahkan Neng, ke sebalah sana. Masuk saja." sambutnya.

Begitu masuk dan mengucapkan salam, terlihat Dew sedang makan bersama 1 teman kecilnya, adik perempuan dan mamahnya. Dia setengah menjerit bahagia menjawab salamku, "aaaa Rahmaaaa..." Sepertinya dia saja yang terlihat luar biasa. Mamahnya malah susah untuk tidak menunjukan kekecewaan.

Ku lihat ada layar dan proyektor di ruang tengah, "oh ... sepertinya online.." tebakanku sepertinya benar. Kekecewaan mamahnya pun juga benar. Tidak bisa all out.

Selayaknya tamu, aku makan dulu. Baru setelahnya, berbincang dengan pengantin yang tidak terlihat seperti pengantin. Tanpa hiasan dan dekorasi. Dress putih, berjilbab pink dan riasan ala-ala hangout. "..akhirnya akad nikah online.." intinya begitu. Dew bercerita...

2-3 hari sebelum menikah sudah ada kabar calon pengantin pria tidak bisa datang karena masalah transportasi. Maka diputuskan untuk melangsungkan akad nikah menggunakan aplikasi teleconference. Hal yang tidak biasa apalagi di kampung. 

Pukul 7 pagi tetangga dekat sudah datang dan bersiap. Dew malah belum mandi. Santai. Tidak seperti akan menikah. Terasa seperti hari biasa.

Layar dan proyektor itu adalah inisiatif dadakan dari saudaranya, "masa mau video call aja... pakai layar aja biar terlihat oleh orang-orang..."

Kemudian, kekhawatiran lain datang saat calon pengantin sulit tersambung ke aplikasi. Daerah dimana calon pengantin pria tinggal memang memiliki kualitas internet yang buruk. "aduh,, bagaimana ini... bagaimana..." barangkali itu yang ada di benak Dew, sedangkan pihak KUA sudah tiba di gerbang rumah.

Ditakdirkan oleh Allah, begitu pegawai KUA masuk ke rumah, calon pengantin bisa terhubung. Tanpa basa basi langsung ijab kabul. 1x ucap dan lancar. Tanpa gangguan koneksi. Singkat.  Tidak sampai 1 jam.

Kebanyakan perempuan yang menyaksikan proses ijab kabul tidak kuasa menahan tangis. Sedih. Momen penting dalam hidup harus dilakukan seperti ini, dalam keadaan yang tidak lumrah. 

Dekor dan rias pengantin harus ditunda kembali. Domba yang telah dibeli tidak jadi disembelih. Kiloan ikan konsumsi pun kembali lagi ke kolam. Dew tetap tawakal. Dia tidak bersedih berlebihan karena sudah mempersiapkan segala yang terburuk jauh-jauh hari. 

Orang sekitar sudah pasti menganggap ini aneh. Cenderung negatif. Desas-desus seperti "nikah kok enggak ada lakinya.." pasti kencang berhembus. 

Mamah Dew sendiri bilang, "pokoknya kalau belum disawer belum ini itu sesuai adat ya gimana ya... (belum jadi). Kalau mereka mau dengan kita ya ikutin adat kita. Masa begini. Cik, kalau menurut Neng gimana?" Tanya dia.

Sambil tersenyum aku menjawab, "iya, Bu (betul). Tapi, karena rahma sudah pernah mendengar menikah online seperti ini, jadi enggak kenapa-kenapa juga (bisa paham)."

"iya. Tapi kan orang sini mah (gak paham)..." timpalnya.

Apapun yang orang katakan. Dew sudah sah menjadi istri seseorang. Di tengah keterbatasan usaha manusia, ketika syarat telah terpenuhi dan syari'at dijalankan maka ijab kabul itu sah. Pernikahan ini terjadi. Semewah apapun hajatan kalau syarat dan syari'atnya tidak ada, ya bukan pernikahan namanya. Pesta saja.

Aku salut dengan temanku. Kuat dan hebat walaupun berat. Usahanya insyaallah sudah maksimal dilakukan. Inilah hasil yang harus diterima. Kerugian materi akibat segala pembatalan dan penundaan sudah diikhlaskan. Tidak ada jalan lain selain tawakal.
Doa untuk Dew: Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir. Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan
Semoga mereka yang memiliki niat baik dalam kondisi seperti ini dikuatkan dan diberikan kelancaran. Selalu ada jalan bagi mereka yang selalu berusaha.
1 comment on "SoML (5): Menikah di Tengah Corona"
  1. Memang butuh waktu ya ceu untuk beradaptasi dengan new normal pasca covid ini. Apapun situasinya semoga segala kegiatan kita berkah ya ceu, termasuk perihal ini...

    ReplyDelete

Sebelum berkomentar centang dulu kotak "notify me/beri tahu saya" agar kamu mendapatkan notifikasi ketika aku membalas. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel :D

Auto Post Signature