Wadah Curahan Hati

SoML (6): Berpikir Positif Dulu Horor Kemudian

Monday, July 6, 2020

Aku tidak terlalu percaya dengan hantu-hantu jail . Percaya pada yang goib, tapi tidak terlalu percaya kalau menakut-nakuti itu adalah pekerjaan sehari-hari mereka. NOT AT ALL. Aku pernah mengalami beberapa kejadian "horor", tapi anehnya saat momen itu terjadi aku tidak merasa takut. Mungkin sebatas aneh. Baru kemudian terasa horor saat mengingat kejadian itu kembali. 


Dulu, banyak orang yang berkata rumahku angker karena dikelilingi pohon cengkeh yang rimbun dan menjulang tinggi. Pada saat itu, memang sisi kanan, kiri, dan depan rumah adalah kebun. Belum banyak penerangan seperti sekarang sehingga ada banyak titik-titik gelap di sekitar rumah. 

Sehabis pulang dari mesjid pun, aku selalu berkeringat dingin saat melintasi kebun. Kebunnya tidak luas, tapi memang gelap. Bayangkan, anak SD yang kecil nan mungil, berjalan sendiri di tengah gelap dan kesunyian malam. 

pengalaman horor
foto ilustrasi
Hanya suara angin dan gesekan daun cengkeh yang terdengar. Rasanya ingin berlari cepat menuju lampu teras rumah, tapi kaki terasa dingin dan kaku saat melangkah. Ingin sekali menoleh untuk memastikan apakah ada seseorang yang juga sedang berjalan di belakang atau tidak, tapi takut jika memang ada yang diam-diam mengikuti. Walaupun menakutkan, aku suka pengalaman mendebarkan seperti itu hahaha.

Aku masih ingat. Dulu sering mendengar beberapa orang berlari terbirit-birit sambil menjerit ketika melintasi rumahku pada malam hari. Memang lucu sih. Katanya, mereka melihat kuntilanak dan sebangsanya di teras rumahku atau kadang ada sesuatu di atas pohon cengkeh itu. Padahal, aku yang sering melintas sehabis dari mesjid pun belum pernah melihat yang demikian.

Pernah juga mendengar cerita sepupu yang di siang hari masuk ke rumahku saat tidak ada orang karena disuruh untuk keperluan tertentu. Di rumah yang sepi itu tiba-tiba dia mendengar anak kecil menangis. Seketika, dia langsung berlari keluar rumah dan tidak pernah ingin masuk ke rumahku sendirian lagi. Padahal kami orang rumah santai-santai saja jika sedang sendirian. Paling yang menangis anak tetangga. 

Ada masa dimana aku selalu 'berpikir positif' untuk kejadian-kejadian aneh yang terjadi. Contoh, saat aku kecil, sepertinya saat itu aku belum sekolah atau mungkin baru masuk SD. Sekitar tengah malam, aku sering sekali terbangun karena mendengar percikan suara air. Seolah-olah ada orang yang sedang mandi atau berkegiatan di kamar mandi. 

Tentu sebagai anak kecil aku penasaran dan mengintip dari pintu kamar. Kadang memang betul ada orang (kakak atau orang tua). Namun, lebih sering tidak mendapati siapa pun. Saat aku membuka pintu kamar, semua lampu mati.

Dapur dan ruang keluarga masih sangat gelap. Bertanda bahwa tidak ada orang yang menggunakan kamar mandi. Seketika itu juga suara air terhenti dan senyap. Ya, pikiranku selalu berkata "oh, salah dengar."  dan berusaha tidur lagi walaupun suara percikan air terdengar kembali.

Di lain waktu, aku juga sering terbangun oleh suara gesekan karpet, seperti ada orang yang sedang berjalan pelan, setengah terseret, di atas karpet... sreet ... sreett... Yang pertama muncul di pikiranku adalah, "oh mungkin bapak belum tidur, lagi nonton tv." 

Lantas aku cek jendela kecil di atas pintu kamar. Ternyata, hitam pekat. Tidak ada cahaya-cahaya dari tv atau lampu kecil. Kemudian aku mengintip dari pintu. Sedikit ku bukakan pintu itu dan ternyata ruang keluarga gelap gulita. Aku cepat kembali ke kasur, mencoba untuk tidur, dan suara itu muncul kembali. Namun, aku tidak perduli. 

Takut? Lumayan takut dan memang sedikit berkeringat sih hahaha selalu beripikir positif, "aku salah dengar.." dan urusan pun selesai.

Kejadian aneh terakhir terjadi sekitar kelas 6 SD atau awal SMP dan setelah itu aku tidak mengalami hal-hal aneh lagi. Sepertinya seiring bertambah usia, aku sudah mampu mengendalikan indera dengan baik. Sugesti dan berpikir positif berangsur-angsur semakin kuat sehingga kejadian-kejadian aneh tidak lagi aku alami atau mungkin tidak terasa saja.

Sejak kelas 5 SD aku mulai belajar tidur sendiri. Kakak sudah banyak yang menikah jadi ada ruang untukku. Kurang ingat, apakah saat itu masih kelas 6 SD atau SMP, aku pindah sementara ke kamar bekas kakak laki-laki yang berada di ujung kanan rumah (arah timur), berdempetan langsung dengan jalan gang yang menyiku. Letter L.

Di masa ini, aku beberapa kali terbangun karena mendengar langkah hewan setengah berlari diringi suara logam-logam yang bergesekan, tidak senyaring bel. Terdengar seperti ..cring...cring..cring...

kadang suara itu juga diiringi langkah kaki manusia. Aku lupa apakah itu pukul 12 atau 2. Sering terjadi di jam-jam itu. Kadang aku terbangun kurang 5 menit atau lebih 5 menit. Lebih sering terbangun di jam yang tepat, 00.00 atau 2.00. 

Saat terbangun pun keningku sudah dalam keadaan berkeringat. Tidak banyak memang. Mungkin gerah karena tembok kamar ini terkena cahaya matahari lebih lama dari kamar lain sehingga ruangannya lebih hangat bahkan saat malam pun sedikit lebih hangat. Ingat, selalu berpikir positif. 

Di kampungku banyak orang yang berternak waktu itu seperti bebek, kerbau dan kebanyakan domba. Mendengar langkah kakinya, hewan ini berkaki empat yang agak besar karena suaranya terdengar keras ... prak... prak... prak... juga agak lebih berat dan berisik. Tidak mungkin kerbau karena biasanya kerbau tidak berlari-lari. Lagipula, kerbau tidak akan melewati gang sekitar rumahku. Terlalu sempit.

Mari berpikir positif. Melihat jam tengah malam menuju dini hari, ini tidak mungkin seseorang yang sedang menggembalakan hewan. Langsung saja aku teringat ternak tetangga, "Oh mungkin ini domba tetangga yang sedang gundah. Berlari-lari kecil dan menabrak-nabrak kandangnya." lebih masuk akal. 

Ada tiga tetangga yang aku kira punya ternak domba, tetangga sebelah timur, barat dan selatan. Suara ini berasal dari arah timur, jadi aku berpikir suara ini berasal dari ternak tetangga sebelah timur itu. Lalu bagaimana dengan suara kaki manusianya? Mungkin saat domba galau dan menabrak kandang kebetulan ada orang yang lewat. 

Suara gesekan logamnya? Mungkin si tetangga punya domba yang suka dipakaikan aksesoris. Pokoknya, mari berpikir positif dan sambungkan segala kemungkinan yang ada. Kemudian tidur.

Jujur, suara ini sangat mengganggu. Suaranya sangat berisik seperti dekat sekali ke tembok dan lama-lama pelan seperti menjauh. Kemudian dia akan datang lagi dari kejauhan hingga sampai di tembok kamarku dan berbalik arah lagi. Seperti sedang berlari menyusuri gang yang berbentuk L di samping kamarku, dan bolak-balik beberapa kali hingga akhirnya menghilang.

maaf tidak pandai menggambar, kira-kira begini denahnya. strip garis itu jalan gang. tidak lebar. strip merah adalah perjalanan suara langkah hewan yang bolak balik di gang. 

Aku sangat sebal, tapi tidak bisa melakukan apapun. Itu sudah kebiasaan hewan. Lagi pula kejadian ini tidak terjadi setiap hari. Akhirnya, aku sudah terbiasa terbangun dengan suara itu. Memilih untuk mencoba tidur daripada harus marah atau memikirkan hal lain. 

Sekitar beberapa waktu kemudian, ada kasus pencurian ternak. Di malam pencurian itu aku terbangun karena suara ternak yang berisik. Aku kira suara itu lagi. Namun, sumbernya dari arah berlawanan, Barat, dan hanya suara hentakan kaki hewan saja. Tak lama, ada satu tetangga (perempuan) yang dari arah timur berteriak, "maling.. ada maling..".

Sayangnya, tidak ada yang berani keluar rumah. Tetangga yang berteriak itu pun masuk lagi ke dalam rumah dan diam. Aku juga takut dan cuma berselimut. Kalau tidak salah ada satu kakak perempuanku yang menumpang tidur. Dia sama sekali tidak terganggu dengan suara berisik itu. Bingung. Aku memilih tidur kembali.

Paginya, tetangga heboh. Waktu itu aku mendengarkan cerita bibi (percakapan dalam bahasa Sunda, aku langsung translate saja), 

"si Mang A (tetangga sebelah barat) tadi malam kemalingan. habis lah domba-dombanya..."

Trus aku balas "Oh, untung yah ternak si Mang B mah enggak kemalingan..." perempuan yang meneriaki maling tadi malam adalah anaknya si Mang B. Rumahnya di arah timur yang ternaknya sering aku sangka mengganggu di jam tengah malam itu.

Bibi aku langsung membalas, "iiiihhhh Teteh gimana sih, si Mang B mah udah lama banget enggak pelihara domba. Sejak kapan ya? ahh udah lama banget lah. Dari dulu sudah 'menyerah' karena suka takut kalau ada pencurian kaya gini." 

Dalam hati, "Ya Tuhan, aku bener-bener ya keterlaluan dalam memperhatikan lingkungan. Keadaan tetangga yang kaya gitu masa gak tahu...jadi suara yang menganggu selama ini asalnya dari mana dong? 😬"

"lah itu kandangnya masih ada..." kataku. Memang kandangnya gelap jadi bagian dalamnya tidak begitu terlihat. Aku hanya bisa melihat bagian luar dan aku kira memang di dalamnya ada ternak.

"ya dibiarin kosong aja weh kandang mah..." kata bibi.

Aku teringat lagi langkah dan kegaduhan hewan yang sering datang di jam tengah malam itu, "trus itu suara apaan? kalau bukan ternak tetangga, apaan dong?" Aku sangat yakin suara itu terdengar dari arah timur. Bukan barat atau selatan. Suaranya terasa dekat sekali dengan tembok sedangkan tetangga yang paling dekat itu adalah yang sebelah timur ini.

Ya sudah. Suara itu beberapa bulan ini tidak muncul lagi. Bisa jadi itu memang suara domba tetangga sebelum dia akhirnya menyerah untuk berternak atau bisa jadi hewan lain atau bahkan makhluk lain. Tidak penting untuk diingat. Sudah tidak ada suara lagi.

Semakin aku berkata "tidak penting untuk diingat" nyatanya suara itu teringat-ingat kembali, langkah kaki dan suara-suara yang mengiringinya. Suaranya memang tidak asing kok. Aku seperti pernah mendengarnya dalam situasi yang normal. Makanya aku penasaran, "Bukan domba ya. trus apa sih?"

Jawaban dari rasa penasaran ini nyatanya terbuka tanpa diminta. Saat itu aku sedang melamun di dalam mobil menuju Sukawening, tempat lahir Bapak. Aku bosan dan agak ngantuk. Untuk menuju tempat itu aku harus melewati jalan Suci - Karangpawitan - Wanaraja yang kurang aku sukai. Kenapa? Kendaraan seperti mobil tidak bisa dipacu tinggi karena banyak delman. Perjalanan pun terasa lama sekali.

Saat melintasi pasar Wanaraja, banyak suara yang mengiringi lamunanku. Suara motor yang mengaum. Ada juga motor bersuara nyamuk. Menyebalkan. Memekakan telinga. Dan... tentu saja suara khas delman yang berirama prak...prak..prak..prak.. diiringi dengan suara aksesorisnya cring..cring..cring... Aku tertarik untuk memperhatikan suara delman.

prak...prak..prak..prak..cring..cring..cring...
prak...prak..prak..prak..cring..cring..cring...
prak...prak..prak..prak..cring..cring..cring...

"O my God..., ini suaranya" Suara yang sangat mirip. Irama langkah kaki dan suara gesekan logamnya pun sama. Bertahun-tahun melewati jalan ini kenapa baru terpikir sekarang. Perasaan senang dan aneh muncul bersamaan. Senang karena aku menemukan suara yang sangat cocok dengan suara di malam-malam itu. Aneh, karena sangat aneh ada suara kuda di sekitar rumahku.

Kendati pun suara mengganggu di malam-malam itu terasa tidak asing tetap saja pikiranku tidak akan mampu memunculkan suara langkah kaki kuda karena tidak ada orang yang memiliki kuda di daerahku.

Rumahku di Cilawu. Daerah pegununungan. Jalanan menanjak agak curam. Tidak ada yang berternak kuda. Berbeda dengan daerah Wanaraja yang sering menggunakan kuda untuk transportasi di jalan cenderung datar dengan tanjakan sangat ringan.

"O my God, itu kuda siapa? really?"


Sering aku mendengar cerita tentang kuda putih. Baru-baru ini saudara juga membahas kembali cerita lama di kampungku, dimana di tahun 99 hingga 2000an ada orang yang mendapati kuda putih berkeliaran di kampung. Ceritanya tidak jelas sehingga aku memang tidak begitu memperdulikan.

Pun tidak akan mencari penjelasan lebih jauh. Aku sudah berusaha berpikir sepositif mungkin hingga menemukan suara yang tepat dan Full Stop. Itu adalah kejadian ganjil terakhir yang terekam dalam memori dan akan ku biarkan seperti itu. Bisa jadi, aku salah dengar juga. 

Dari pengalaman-pengalaman aneh di atas, aku sangat yakin dengan kekuatan berpikir positif dan mencari penalaran logis. Untuk apa? Untuk berani melewati keganjilan. Untuk mempertebal batas antara dunia manusia dan dunia goib.

Bukannya aku menantang. Aku belum pernah mengalami kerasukan atau pun melihat hal-hal aneh, bahkan di saat keadaan sangat takut sekali setelah menonton film horor. Keadaan takut tercipta dari pikiran, maka sebisa mungkin kita harus tetap memegang kendali atas pikiran kita.

Mencari berbagai kemungkinan. Menyambungkan dengan akal. Toh, walaupun ujung-ujungnya kejadian itu terasa tidak masuk akal, setidaknya di saat momen itu berlangsung kita masih berani melewatinya.

Berpikir positif dulu, horor kemudian. Lucu Rahma... but it works!
Post Comment
Post a Comment

Sebelum berkomentar centang dulu kotak "notify me/beri tahu saya" agar kamu mendapatkan notifikasi ketika aku membalas. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel :D

Auto Post Signature