Wadah Curahan Hati

Belajar dari Video Lutfi Anj*y

Friday, September 11, 2020

Lutfi anjay

Beberapa minggu ke belakang ini nama Lutfi Agizal menjadi trend di berbagai media sosial atas ulahnya yang mempermasalahkan kata "anjay". Video yang diunggahnya di Youtube bertujuan untuk memberikan edukasi dan menyarankan untuk berhenti mengucapkan kata "anjay". Akan tetapi, video edukasi itu berujung blunder. Kata "anjay" malah makin top dipakai.


Niat banget emang ini orang, sampai bawa ahli bahasa segala 😁 Kita harus mengapresiasi sedikit usaha dan niat baik dia sih. Jangan bully dia lagi. Udah bikin pernyataan beberapa hari kemarin, didampingi pihak KPAI, bahwa dia akan berhenti untuk urusan "edukasi anjay".


Cuma, orang-orang masih pada kesel kalau lihat gaya dia lagi ngomong. SAMAAAAA. Bahkan, pas nonton di video Deddy Corbuzier dan sama KPAI itu, gaya dia masih aja ngeselin. Sok dewasa nan formal gitu gak sih? Bahasanya kaku gitu lah, gak jadi diri sendiri. Eh bullying gak sih ini?


Tapi ya, aku gak berhak menghakimi personality orang yang enggak aku kenal juga. Mungkin buat aku, orang luar, gaya dia tuh bully-able (bahasa apaan sih?) , tapi mungkin aja untuk orang-orang sekitarnya, dia tuh menyenangkan dan orang yang sangat baik. wallahua'lam...


Aku juga ngerasa enggak fair kalau banyak berkomentar tentang video Lutfi 'Anjay' sebelum melihat video aslinya. Akhirnya kemarin aku nonton videonya dari awal sampai hampir akhir. Ada sekitar 2 menit terakhir yang aku skip. Dah bete...


Alih-alih bikin komentar bernada bully, setelah nonton videonya, aku berubah hanya ingin memberikan feedback aja supaya kita semua, utamanya Lutfi, belajar dari kesalahan dan membuat konten yang lebih baik lagi.


1. Perkenalkan Narasumber

Menurut aku sih ya, ketika kita mengundang seorang narasumber baiknya kita menginisiasi untuk memperkenalkan beliau. Kalimat "silahkan pak perkenalkan diri Bapak." kurang pas.


Biasanya kan pembawa acara atau moderator menyambut, membacakan biodata singkat narasumber dan kemudian bertanya-tanya ringan, "sudah berapa lama mengajar?", "Ketertarikan bapak lebih ke aspek apa dalam bahasa?" dan basa basi sediki lah.


2. "anjay" itu adalah sebuah kata bukan kalimat

Ya, mas Lutfi. Mohon maaf sekali. Beberapa kali Anda mengucapkan "kalimat anjay", yang sebenarnya untuk konteks itu adalah sebuah kata. Kata, frase, klausa dan kalimat itu berbeda.


Dari sini, kita bisa melihat bahwa Lutfi memang bukan orang yang berkecimpung di bidang bahasa. Okay, dia S.Psi ya, psikologi. Namun, ketika kita ingin membahas isu di luar bidang, setidaknya kita harus memiliki pengetahuan dasar yang baik. Dasar aja. Nanti kan yang detailnya dijelasin sama narasumber.


3. Berikan pertanyaan yang efektif pada narasumber

Ini masih nyambung sama yang nomor dua. Misalkan, kita enggak jago di bidang itu berarti kita membutuhkan brainstorming dan persiapan yang lebih mantap. Harus mendaftar pertanyaan-pertanyaan sebelum wawancara. Pakai script juga!  


Buatku pertanyaan dari Lutfi enggak begitu berbobot. Dia berkutat di pertanyaan "anda setuju gak....?", "menurut anda baik gak..?". Jadi, tipe wawancara Lutfi tidak menjelaskan tapi nanyain opini aja, sedangkan dia gak paham dasar ilmunya.


Gak perlu deh nanya ke seorang ahli bahasa untuk tahu baik atau buruknya makna kata anjay. Kan masyarakat umum juga tahu itu awalnya plesetan kata kasar yang memang kurang baik untuk konteks umum. 


lah, kalau tidak baik kenapa masih terus dipakai? Mari kita stop...! Lah kan di awal narasumbernya bilang, "manusia itu heterogen... bahasa itu ekspresi.... perubahan bahasa itu muncul untuk memenuhi kebutuhan beraktivitas (komunikasi) pada suatu komunitas."


Jadi, makna baik buruknya kata anjay bisa dilihat dari 3 aspek di atas. 1). penuturnya , 2). ekspresi yang ingin si penutur sampaikan, 3). komunitasnya, orang-orang yang diajak bicara. 


Dari narasumber juga kita bisa memahami kenapa bisa tercipta kata anjay. Tentu, untuk memenuhi kebutuhan berkomunikasi pada suatu komunitas, contoh untuk mengobrol pada teman, musuh, anak-anak gaul, dan untuk marah-marah, menghina dll.


Pembahasan narasumber udah jelas sehingga sebenarnya pertanyaan-pertanyaan anjay Lutfi itu udah terjawab oleh pemaparan narasumber di awal. Kalau masih nanya baik dan buruk, berarti Lutfi emang gak memahami pemaparan narasumber di awal dan hanya mengejar opini personal, bukan mengupas ilmu bahasanya.


Ekspektasiku di akhir video itu Lutfi membahas ke arah solusi atas penggunaan kata anjay untuk konteks negatif, contoh untuk menghina atau membully, yang dikaitkan nanti dengan pembelajaran bahasa untuk anak kecil. 


Bisa juga mengupas pengenalan bahasa pada anak kecil agar dia mampu memahami kata-kata kasar. Nah, di sini mungkin ilmu psikologi pendidikan bisa masuk nih.


Intinya, tulis pertanyaan yang nyambung dengan judul secara berurutan. Gunakan apa, kenapa dan bagaimana.


4. Bahas isu dari dasar kemudian ke contoh

Akan lebih baik jika kita mulai sesuatu itu dari akarnya. Mungkin kita semua, utamanya Lutfi, bisa mencontoh gaya pemaparan narasumber di video anjay. Bapak ahli bahasa itu setiap menjawab pertanyaan, pasti diawali dengan penjelasan umum yang teroritis. Tidak langsung menjawab pertanyaan.


Aku sih menyimpulkannya kita mesti mulai dari teori dasar, trus definisi, aspek yang berpengaruh, kemudian baru dikasih contoh dan kasus untuk dianalisis. 


Nah, seandainya video Lutfi itu dibungkus dengan sistem kayak gitu, gak perlu lah ada rencana untuk mengupas kata "bgst, anjrit, anjis dll" karena memang itu udah satu bahasan dan akan tercover semua dalam pembahasan "perubahan kata/bahasa" yang ditinjau dari sisi "semantik".


Memang video ini belum beres dan keburu viral tak terkendali. Menggantung. Makanya, orang-orang "tersesat" ketika nonton video Lutfi. Ya, di awal juga dia sendiri tidak menjelaskan alur pembahasan mengenai "Ngomong anjay bisa merusak moral bangsa" ini dengan baik.


Baru membahas kata kasar, "anjay". Kaitannya dengan moral bangsa tuh gimana? Trus barangkali kita punya persepsi berbeda dengan moral bangsa, nah perlu diluruskan sama Lutfi moral bangsa tuh yang kayak gimana? dan seperti apa seharusnya? Apakah masyarakat suatu negara yang sering ngomong kasar itu mengurangi moralitas penduduknya? Tunjukan kasusnya dan analisanya dari aspek apa aja...


Sedikit pesan dari salah satu dosenku, "ketika kamu menulis (memaparkan), anggaplah pembaca itu tidak mengetahui apa-apa." sehingga kita perlu menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami secara runtun. 


Aku sendiri, kalau mau pake judul "Ngomong anjay bisa merusak moral bangsa" akan mulai dari isu bahasa sebagai identitas diri bukan dari semantik dulu. Ada tuh tema penelitian tentang "language as identity" hmmm kejauhan gak sih? Kemudian, bagaimana penggunaan bahasa bisa membantu manusia membentuk "image" atau karakter bahkan komunitasnya. Nah, mungkin pertanyaan seperti itu yang pas untuk video Lutfi.


5. Tolong pahami penjelasan narasumber jangan menyela

Aku udah mulai greget pas dia suka menyela narasumber. Ini fatal loh. Karena setiap kali dia menyela, Lutfi selalu melanjutkan dengan mengutip sebagian pernyataan si narasumber dan mengambil kesimpulan yang kurang lengkap.


Tidak ada kebenaran yang absolut.


Untuk menjawab "setuju/tidak setuju" atau "baik/tidak" itu sangat sulit loh. Ketika si narasumber menjawab "setuju..buruk", dia akan selalu memberikan penjelasan di ujungnya. Kenapa? supaya orang-orang tahu standar atau batasan apa yang dia pakai untuk menyatakan setuju/tidak setuju atau baik/buruk.


Eh penjelasannya malah dicut sama Lutfi, terus menekankan "Berarti bapak setuju ya kalau bla bla bla bla...". Wah, kalau tidak diikuti oleh standar (teori) tertentu bisa menyudutkan suatu komunitas ini.


Jadi, enggak salah sih ya masyarakat Indonesia merespon video Lutfi Anjay bukan sebagai video edukasi melainkan video sindiran. Apalagi pas dia nyebutin pelaku dari beberapa komunitas, influencer dan artis.


Aku mah kasihan sih ya sama narasumbernya. Jadi beliau tidak banyak mengupas ilmu bahasanya dengan komprehensif. Malah dipaksa untuk menekankan opini pribadi. Apalagi, penjelasannya suka disela. Mending kalau Lutfinya paham maksud beliau, ini mah enggak kan?


Padahal ngebahas tentang bahasa apalagi semantik dan pragmatik itu seru banget 😭 Otak kita dipaksa untuk memproduksi makna sebanyak mungkin dari suatu pesan. Akhirnya, akan terbiasa untuk melihat sesuatu dari banyak sudut pandang. Dan lama-lama kalian bakal sensian kayak dosen-dosen killer yang baca WA dari mahasiswa wkwkwkwk bercanda aja gaes... hehehe


Dibalik Video Lutfi Anjay viral ini, ternyata terdapat segudang pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan memaknai makna ujaran lebih baik.


Cukup sekian. 

Post Comment
Post a Comment

Sebelum berkomentar centang dulu kotak "notify me/beri tahu saya" agar kamu mendapatkan notifikasi ketika aku membalas. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel :D

Auto Post Signature