Wadah Curahan Hati

Kisah Teman Virtual

Tuesday, November 10, 2020

Media komunikasi berkembang pesat dari semenjak aku kecil hingga dewasa sekarang. Mulai dari surat (pos), telepon, dan sms. Kemudian berlanjut dengan adanya internet. Berbagi pesan sangat mudah dan singkat terutama setelah ada email hingga sekarang yang paling populer instant messanger (misal: sosial media, aps chatting).


Seru banget kan chatting itu. Apapun bisa kita dapatkan dari sana. Duit, pacar, jodoh, teman, komunitas, bahkan para kriminal 😅 numpuk semua. Yang lebih asiknya lagi, kita bisa memunculkan identitas asli atau palsu. Gampang untuk berkomunikasi. Gampang juga termanipulasi. 


Kesan pertamaku saat berkenalan secara virtual gak begitu bagus. 


Seingatku, tahun 2007-2008 adalah waktu gencar-gencarnya promo sms murah dari berbagai operator. Orang-orang mulai mengirim pesan seenaknya. Reckless banget lah.... 


Kalian ngalamin gak yang namanya salah kirim sms, kenalan dan temenan? Aku pernah kek gitu walaupun gak lama. Bener-bener meruntuhkan rasa kemanusiaan wkwkwk


Waktu itu aku masih kelas 1 SMA, masih bocah. Ada orang salah kirim sms gitu. Eh lama-lama kita malah ngobrol. Trus kan agak deket kaya temen dan intens. Sebelum jauh lagi terlalu baper, aku juga penasaran gitu, "ini beneran orang gak sih?" Nah, lantas dia ngirim foto selfie lewat MMS.


Dulu susah banget untuk kirim-kirim foto atau file. Jaringan masih 2G. Mahal. Kadang gagal ke downloadSetting-annya kadang ada yang harus diatur manual sedangkan aku enggak terlalu paham. Fotonya jadi gak bisa ke download di hp karena error.


Trus besoknya, aku minta anter ke warnet sama temen DEMI MELIHAT FOTO SELFIE ORANG ASING bukan bule


Perjuangannya lumayan tuh. Warnet dulu 10rebu sejam dengan kecepatan internet kaya keong dan komputer yang bikin nafsu, ingin ngebanting.


Saking penasarannya, aku keluarin duit 10rebu deh. Masukin link MMS nya dan enter...... loading..... 


Aku berdua duduk dengan teman sambil menatap layar komputer yang dengan perlahan menampilkan foto selfie teman virtualku. 1 menit pertama baru kelihatan rambut. 1 menit kemudian, mulai kelihatan dahi. 


Menit demi menit berlalu, memunculkan mata, hidung, daaaaaaaaaaaaaaaaaan wajah secara full.................aku kaget..., "anjir, enggak banget." Langsung aku close window.

Temenku shock dan agak nahan ketawa, "apaan sih rahma... meni serem 😨😭😆😂"


Dalam hati, "ihhh.... engggaaaaaaaakkkk 😭😭😭😭," ngerasa ILFEEL? iya, karena tidak sesuai ekspektasi. 


Dari sana aku udah malas bertukar pesan apalagi hanya sekedar basa basi. Mulai menurunkan intensitas. Dan lama-lama move on aja. 


Dari pengalaman itu, aku taubat. Enggak mau lagi ngobrol-ngobrol terlalu intens sama orang yang gak dikenal. Bikin aku kejam, langsung judge the book from its cover gitu.


KEJAM SEKALI RAHMA. Kenapa ketika belum tahu keadaan fisiknya aku mau meladeni, tapi begitu melihat penampakannya malah gak mau. Padahal temenan aja kan? 


Iya, itu lah. Komunikasi virtual ini membuat perasaan menjadi semu juga wkwkwk teman tapi ngobrol ngacapruk, alay, lebay. Merinding aku tuh.... gampang suka, gampang juga untuk tidak suka.


Berbeda ketika berteman asli di dunia nyata. Tidak pandang fisik atau status sosial. Ngobrol langsung, face to face. Main bareng. Komunikasi lebih mudah dinegosiasikan. 


Teman real lebih mudah untuk kita amati dan lebih mudah memberikan judgement ataupun berekspektasi terhadap rasa yang akan muncul. Tidak baperan melintasi rasa pertemanan. Apalagi berkekspektasi berlebihan.


Sering dong lihat MEME. Di DM sama gebetan doang, tapi pikiran langsung terbang mikirin rencana pernikahan, pingin punya anak berapa dll. Lebay kan...


Kapok berteman secara virtual? Enggak. Dari sana aku malah belajar bagaimana seharusnya berkomunikasi secara digital dengan orang yang baru dikenal. 


Berhati-hati dan skeptis. Selalu netral dalam berkomunikasi. Tidak menunjukan judgement berlebihan apalagi untuk persoalan hidupnya. Walaupun jatuhnya aku jadi jutek kalau chatting. Biarin ah 😂


Anehnya. Sekarang, semakin tua, semakin malas membalas pesan "boleh kenalan?"dan sudah sangat jarang bersinggungan dengan hal yang kayak gitu.


Dengan tidak merespon pesan berkenalan itu sebenarnya aku juga mencegah orang lain untuk tidak mengalami ke-ilffeel-an yang dulu pernah aku rasakan.


Bukan cuma itu aja. Kalau mereka cuma ingin berkenalan dan ngobrol-ngobrol aja rasanya gak begitu bermanfaat. Harus ada tujuannya. Apakah kenalan ini untuk sharing hobi, masalah sekolah, kerjaan atau bisnis? rasanya itu akan lebih aman dan bermanfaat dari sebatas kenalan gak jelas.


Ehhhh siapa tahu dari kenalan itu bisa jadi deket dan bertukar rasa lebih yang sama?! exactly itu yang sering diberitakan. Diberitakan di kolom kriminal.


Seperti pengalaman pertamaku, berkenalan virtual, utamanya lewat instan messanger, entah kenapa sangat mudah memunculkan perasaan nyaman dan rasa suka secara instan. Aspek ini yang selalu dimanfaatkan oleh orang-orang untuk mengambil keuntungan pribadi.


Memang yang happy ending juga ada kok. Saudaraku dan salah satu tetanggaku, katanya, dulu kenal dengan pasangannya lewat media sosial. Beruntung sekali, mereka bertemu dengan orang baik dan akhirnya berjodoh, tapi kemungkinan seperti itu terbilang kecil.


Jadi, paling seringnya yang aku dengar itu berita negatif. Beberapa tahun ke belakang bahkan sampai saat ini masih ada aja cerita klasik seperti di bawah ini: 


berkenalan lewat medsos -> berteman -> chat intens -> ketemuan -> pemerkosaan/hipnotis/begal/penculikan -> korban berjatuhan

Ada juga yang seperti ini

berkenalan lewat sosmed -> berteman -> chat intens -> minta bantuan -> tranfer duit -> transfer lagi -> gak jelas -> korban berjatuhan


Teman virtualku yang sering mabar mengalami nasib yang enggak jelas kemarin 😂 kasian, tapi aku rada pingin ketawa juga. Gemes aja gitu. Emang baperan sih orangnya wkwkwk 


Tiba-tiba dia curhat ke aku. Curhat ke temen cowoknya pada gak nyambung. Iya dong, cowok tuh rata-rata enggak ambil pusing, agak cuek gitu kan kalau dicurhatin. Mereka baru akan sangat perhatian kalau dicurhatin gebetannya atau the special one wkwkwk


Singkat cerita ini masalah cinta. Cinta virtual. Pantas jarang mabar 😬 


Dia kenalan sama cewek di facebook. Dia tunjukin SS percakapannya. 


Karena temenku ini suka banget sama cewek itu, dia undang buat ketemuan di Bandung. Malah, temenku udah transfer duit 300K ke cewek itu. Panggilannya Royco. Katanya, Royco baru mau ketemuan kalau ditransfer duit. Diongkosin gitu ya. 


"I think I know what kind of story this is" itu yang terlintas di kepalaku.

Hari H, cewek itu berangkat jam 1 siang dari Tasik menuju Bandung. Ngabarin ke temenku, dia udah di bis sekitar jam setengah 2an. Royco bilang di dalam bis ada laki-laki yang ngeliatin dia terus. Dia ketakutan dsb. 


Nah, gak lama dari sana, temenku udah gak bisa ngehubungin si Royco. Mulai deh galau. Dia nunggu lama di Pasteur sambil hujan-hujanan tanpa ada kabar yang jelas.


Takut ada apa-apa sama ceweknya. Dia merasa berdosa juga karena dia yang ngundang untuk ketemuan. Trus seharian gak ada kabar dari si Royco. Dia bener-bener galau.


Aku tuh kasian tapi rada pengen ketawa juga. Emang aku jahat ya. Habisnya dipikiranku, kalau udah ada transfer duit, ini udah mirip cerita modus penipuan. Cewek jadi-jadian.


Dari profile picturenya, akun si cewek juga mirip fake account. Pecah gitu resolusinya. Gak ada foto-foto atau update status lainnya. 


Kemudian, setelah aku menginterogasi temenku, terungkap fakta bahwa temenku ini belum pernah denger suara cewek itu. Belum pernah video call atau melihat wujud terkini. Minimal PAP dongs? Sama sekali belum.


Dengan fakta-fakta yang aneh itu, temenku terjebak rasa suka dalam waktu 6 hari saja. 

Istighfar, boy.

Di friend list nya, mungkin hampir 100% cowok semua. Hanya ada satu akun cewek yang aku lihat. Ternyata itu akun yang ngakunya saudara/kerabat si cewek.


Si saudaranya ini nanyain kabar keberadaan Royco ke temenku sekitar 1 hari setelah tragedi lost contact. Temenku makin gak enak dan punya rasa bersalah. Entah temenku ngebalas apa, tapi di SS percakapan yang dia kirim, si cewek ini jadi marah-marah.


Hari berikutnya, ada kabar kalau si Royco jadi korban hipnotis dan sedang di kantor polisi di daerah Pandeglang, Banten. Si Royco ngehubungin temenku lagi trus minta transfer duit 200K lagi buat ongkos pulang.


Dia udah di kantor polisi, tempat yang secara teori aman untuk korban kejahatan. Kenapa gak minta bantuan polisi. Aku yakin polisi kalau urusan begitu akan membantu, apalagi kalau tau dia itu korban hipnotis.


Katanya, yang tersisa cuma dompet aja. Uang enggak ada. Dia ngakunya pakai hp pak polisi, tapi di chat selanjutnya dia bilang "ini pakai hotspot ke orang lain". Maksudnya apaan sih? 


Butuh waktu lama buat bikin kepala temenku agak waras. Masa sih gak ada curiga-curiganya. Ini ceritanya terlalu enggak jelas.


Pas temenku mengungkapkan kecurigaannya, Royco ngasih nomor telp 089664352*** untuk dihubungi. Eh tapi gak diangkat2 dong telpnya.


Too much nonsense in this story. Awalnya temenku keukeuh khawatir sama si cewek. Apalagi ada saudaranya itu yang marah dan ada ancaman pelaporan juga dari si Royco. 


Cuma tetep aku saranin sama dia untuk tidak galau. Tenang. Tanya baik-baik keadaan si cewek dll. Jangan kirim-kirim duit dulu. Belum jelas juga orangnya bener atau enggak.


Udah gak ada kabar lagi nih dari temenku kelanjutannya gimana. Apakah si Royco ini beneran orang atau enggak, aku gak tahu. Aku juga gak enak mau tanya-tanya lagi. Malah nanti menambah galau aja.


Aku juga coba bantu dengan sent friend request dan ngirim pesan ke akun Royco itu, tapi gak direspon. Fix, dia cuma pingin temenan sama cowok aja. 


Temenku sekarang lagi merenungkan diri. Aku suruh buat sering gaul sama temen-temen aslinya aja dan tentu fokus kerja. Nyari duit susah, ini malah main transfer-transfer sama orang gak jelas.


Dia bilang bukan masalah duit, tapi kasian sama ceweknya. Takut beneran korban hipnotis. hmmmmm masih aja peduli. Aku capek ngasih saran jadi ya aku gak mau bahas-bahas lagi.


Semoga kita semua terhindar dari musibah yang dialami oleh temenku dan si Royco (kalau cerita dia menjadi korban hipnotis itu benar).


BUAT KALIAN PARA COWOK, TOLONG JANGAN MUDAH DIRAYU DENGAN FOTO PROFIL CANTIK. ASLINYA KW-KW, NANTI NYESEK LOH.


Udah ya, mau mabar dulu. Bye.

Post Comment
Post a Comment

Sebelum berkomentar centang dulu kotak "notify me/beri tahu saya" agar kamu mendapatkan notifikasi ketika aku membalas. Tulis alamat blog di URL/Name, bukan url artikel :D

Auto Post Signature